JawaPos.com – Pola asuh orang tua yang kurang menunjukkan kasih sayang kepada anaknya dapat meninggalkan bekas mendalam.
Anak yang kurang merasakan pelukan hangat, kata-kata afirmasi, atau didengarkan cenderung sulit untuk memvalidasi emosinya sendiri.
Setiap orang tumbuh dari pola adaptasi yang dirasakan sejak kecil, terutama melalui pola asuh orang tua.
Baca Juga: 8 Kebiasaan Orang yang Sering Khawatir Tentang Uang dan Finansial, Apa Saja?
Namun, masih banyak orang yang secara tidak sadar mengembangkan beberapa perilaku tertentu yang diperoleh dari kurangnya kasih sayang dari orang tua.
Psikologi menunjukkan bahwa validasi emosional dari orang tua dapat memberikan rasa aman untuk tumbuh kembang anak ketika dewasa.
Dilansir dari geediting.com, ada tujuh kebiasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang kurang kasih sayang dari orang tuanya.
Memahami kebiasaan ini dapat menjadi dorongan untuk melangkah menjadi lebih baik dan mencapai kemajuan.
Baca Juga: Cara Jitu Mengatasi Lelah Mencari Kerja: Terapkan 6 Kebiasaan Ini dan Dapatkan Pekerjaan Impianmu!
- Selalu Meremehkan Kebutuhan Pribadi
Beberapa orang menganggap bahwa mengorbankan kebutuhan pribadi adalah hal yang wajar untuk kebutuhan bersama.
Namun, jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, ini bisa menjadi tanda bahwa sejak kecil tidak merasakan kasih sayang orang tua.
Ini karena kebutuhan anak-anak yang selalu diremehkan membuat mereka tumbuh sebagai orang yang sulit memprioritaskan diri sendiri.
Ketika kasih sayang jarang ditunjukkan oleh orang tua, anak ketika tumbuh dewasa seringkali meremehkan kebutuhan pribadinya.
Mereka terlalu fokus untuk mencapai kemandirian, menghindari bantuan, dan mengabaikan perasaan pribadinya demi orang lain.
Oleh karena itu, jika seseorang selalu berkorban dan mengabaikan kebutuhan pribadinya, mereka mungkin semasa kecil kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
- Sulit Membangun Komitmen Dalam Hubungan
Membangun hubungan pribadi tidak semudah yang dibayangkan, dan ini semakin sulit ketika seseorang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya saat kecil.
Orang yang semasa kecil kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, mereka justru sulit untuk percaya pada hubungan pribadi.
Ini karena mereka tidak pernah merasa diperhatikan dan merasa bahwa setiap orang tidak akan saling percaya.
Kasih sayang adalah pondasi yang membangun kepedulian dan keterbukaan seseorang dalam membangun hubungan.
Memang mempercayai seseorang dalam hubungan dapat beresiko, tapi komitmen dapat membangun hubungan yang lebih dalam.
Dan orang-orang yang kurang kasih sayang selalu mempertanyakan kebaikan dan ketulusan seseorang kepada mereka.
Psikologi menunjukkan bahwa kebiasan ini selalu didasarkan pada rasa cemas dan menghindari keterbukaan diri.
Namun, ini bukan berarti mereka tidak bisa membangun hubungan, mereka justru lebih waspada dan mempersiapkan hal terburuk dalam hubungan.
- Terlalu Overthinking Tentang Perilaku Seseorang
Orang yang kurang kasih sayang dari orang tuanya cenderung mudah overthinking tentang perilaku orang lain.
Mereka mungkin menganalisis setiap percakapan, memahami pesan terlalu lama, atau mencoba membaca bahasa tubuh lebih jeli.
Kewaspadaan ini cenderung berlebihan, karena mereka tumbuh besar tanpa merasakan kehangatan dari orang tua.
Ketika masa kecil seseorang kurang mendapatkan kasih sayang, mereka selalu menganalisis setiap perubahan kecil yang dilakukan orang lain.
Ini adalah bentuk kebiasaan yang mencoba mengukur apakah mereka dapat diterima dan dicintai oleh orang lain.
Selain itu, ini juga bisa menjadi strategi bertahan hidup karena masa kecil mereka kurang kehangatan dari orang tua.
Oleh karena itu, anak-anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang cenderung lebih peka memahami perilaku seseorang dan mudah overthinking terhadapnya.
- Menganggap Pencapaian Seperti Value
Pola asuh orang tua yang kurang memberikan kasih sayang kepada anaknya cenderung membuat anak tumbuh dengan ambisi yang tinggi.
Ini karena mereka menyamakan pencapaian dengan nilai dalam diri mereka, sehingga mereka menganggap bahwa prestasi membuat mereka lebih dihargai.
Alih-alih merasa dihargai sebagai pribadi, mereka justru mengejar prestasi yang tinggi agar orang lain melihat mereka.
Dorongan ini mungkin membuat mereka berambisi untuk sukses, tapi bisa juga menjadi kesalahan pola pikir.
Mereka menganggap kasih sayang adalah transaksional, karena tanpa adanya prestasi mereka merasa tidak dianggap.
Selain itu, ini membuat mereka selalu bergantung untuk mendapatkan validasi orang lain agar merasa dihargai.
Faktanya, kasih sayang dan dihargai bukan tentang prestasi yang dimiliki, tapi melalui perilaku dan kepribadian seseorang.
Oleh karena itu, orang yang kurang kasih sayang cenderung terus-menerus mencari vaslidari dari orang lain atas pencapaiannya.
- Sulit Menerima Kerentanan Emosional
Orang yang kurang kasih sayang dari orang tuanya ketika dewasa cenderung sulit menerima kerentanan pribadi.
Mereka selalu berusaha menghadapi konflik dengan menutup diri dan mengambil resiko dengan mengabaikan perasaannya sendiri.
Kebiasaan ini terbentuk ketika mereka sejak kecil tidak pernah diajarkan cara mengungkapkan perasaan pribadinya.
Mereka sejak kecil kurang mendapatkan kasih sayang, dan menganggap kerentanan sebagai kelemahan.
Ini membuat mereka sulit merasakan kedalaman emosional, sehingga mereka lebih suka melakukan percakapan ringan atau topik yang lebih aman.
Oleh karena itu, setiap orang perlu memahami bahwa terbuka pada kerentanan emosional adalah cara terbaik untuk membangun koneksi yang lebih mendalam.
- Sulit Memprioritaskan Diri Sendiri
Kurangnya kasih sayang dari orang tua membuat seseorang sulit untuk memprioritaskan diri sendiri.
Mereka lebih suka berkorban demi menjaga kedamaian, atau mengorbankan perasaan mereka demi memenuhi harapan orang lain.
Meskipun mereka sedang kewalahan, mereka berusaha keras untuk mengabaikan batasan pribadi karena menganggap memprioritaskan diri adalah hal yang egois.
Ini karena sejak kecil mereka kurang merasakan kasih sayang yang konsisten, sehingga mereka percaya bahwa kepentingan diri sendiri harus ditekan.
Mereka menganggap batasan pribadi adalah hal yang egois, membuat mereka sulit untuk mengutamakan diri sendiri.
Jadi, sebagai orang yang telah tumbuh dewasa, perlu memahami bahwa memprioritaskan diri adalah kebutuhan dan batasan sangat penting dalam hubungan apapun.
- Ragu Mempercayai Diri Sendiri
Orang yang sejak kecil kurang kasih sayang dari orang tuanya cenderung sulit untuk merasa optimis dan percaya pada diri sendiri.
Ini karena mereka sejak kecil sering diajarkan bahwa banyak hal-hal yang perlu diragukan dan dipikirkan secara matang.
Selain itu, mereka sering merasa emosinya diabaikan, membuat mereka mulai meragukan perasaannya valid atau tidak.
Hal ini juga membuat seseorang mengabaikan kesedihan, kebahagiaan, atau bahkan menganggap emosinya terlalu berlebihan.
Seiring berjalannya waktu, orang yang kurang kasih sayang saat kecil selalu membuat jarak dari emosinya sendiri.
Jadi, kebiasaan ini perlu dihilangkan, karena setiap orang memiliki perasaan yang valid dan perlu dipercaya.