← Beranda
Cherophobia, Rasa Takut Terlalu Bahagia yang Ganggu Hidup: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Lavinia Tiara MalikaMinggu, 14 September 2025 | 19.30 WIB
Cherophobia menggambarkan kondisi psikologis ketika seseorang takut terlalu bahagia karena khawatir datangnya hal buruk./Freepik.

JawaPos.com – Siapa yang tidak ingin bahagia? Hampir semua orang mendambakan momen penuh tawa dan ketenangan.

Namun, anehnya, ada sebagian orang yang justru merasa gelisah atau takut ketika hidup terasa terlalu bahagia.

Fenomena ini disebut cherophobia, yakni kondisi psikologis ketika seseorang menghindari kebahagiaan karena khawatir akan datangnya hal buruk setelahnya.

Konten edukasi dari akun TikTok @rikhihasibuan1 menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kebahagiaan sering berakar dari pengalaman masa lalu.

Misalnya, ketika seseorang pernah mengalami kehilangan besar atau trauma setelah merasakan momen bahagia.

Baca Juga: Tanda Otak Lelah Akibat Multitasking, Nomor 3 Paling Sering Terjadi

Otak kemudian belajar mengaitkan kebahagiaan dengan ancaman, sehingga secara otomatis muncul rasa was-was.

Akun @sundarindah menambahkan bahwa pola ini juga dipengaruhi oleh self-sabotage. Ada orang yang merasa dirinya “tidak pantas bahagia” karena terbiasa hidup dalam tekanan atau kritik.

Akibatnya, ketika kebahagiaan datang, mereka merasa tidak layak menerimanya. Kondisi ini membuat seseorang menarik diri dari kesempatan yang seharusnya bisa membawa kepuasan batin.

Lebih lanjut, praktisi mindfulness Adjie Santosoputro melalui akun @adjiesantosoputro.id menyebut bahwa rasa takut terhadap kebahagiaan berkaitan dengan kegagalan dalam hidup di masa lalu.

Bagi sebagian orang, kebahagiaan dianggap rapuh, sementara penderitaan justru terasa lebih familiar. Mereka memilih menahan diri untuk tidak terlalu bahagia agar terhindar dari rasa sakit saat kehilangan.

Baca Juga: Kenali Apakah Seseorang Introvert atau Ekstrovert dari Zodiak yang Dimiliki, Ini 8 Daftarnya...

Senada, kreator @irenethejournal mengungkap bahwa faktor budaya dan lingkungan juga berpengaruh.

Di masyarakat tertentu, ekspresi bahagia berlebihan sering dianggap “tidak wajar” atau bisa mengundang iri. Hal ini mendorong sebagian orang menekan emosi positif mereka agar terlihat lebih aman.

Mengapa Hal Ini Bisa Berbahaya?

Takut terlalu bahagia ternyata dapat berdampak serius bagi kesehatan mental. Pertama, seseorang bisa kehilangan momen berharga dalam hidup karena selalu waspada. Kedua, kondisi ini berpotensi menimbulkan stres kronis, rasa cemas, dan bahkan depresi.

Menolak kebahagiaan juga berarti menutup pintu terhadap energi positif yang seharusnya membantu memperkuat ketahanan mental.

Cara Menghadapi Rasa Takut Bahagia

Psikolog menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menghadapi ketakutan ini:

  1. Sadari Pola Pikir Negatif
    Menyadari bahwa kebahagiaan tidak otomatis berujung pada penderitaan bisa membantu mengubah perspektif.

  2. Latih Mindfulness
    Seperti yang disarankan Adjie Santosoputro, berlatih hadir pada momen kini membuat kita lebih mudah menerima kebahagiaan tanpa rasa takut berlebihan.

  3. Kelola Trauma Masa Lalu
    Terapi atau konseling bisa membantu mengurai kaitan antara pengalaman buruk dengan rasa bahagia.

  4. Rayakan Kebahagiaan Kecil
    Mulailah dari hal sederhana, seperti menikmati makanan favorit atau waktu bersama sahabat, tanpa terbebani pikiran buruk.

  5. Bangun Dukungan Sosial
    Lingkungan yang suportif akan membantu seseorang merasa aman untuk menerima kebahagiaan tanpa khawatir dihakimi.

Takut terlalu bahagia bukanlah hal aneh, melainkan fenomena psikologis nyata yang dikenal dengan istilah cherophobia.

Kondisi ini sering muncul akibat trauma atau pola pikir negatif yang belum terselesaikan, sehingga wajar jika seseorang merasa cemas saat kebahagiaan datang. Namun, rasa itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Dengan kesadaran diri, latihan mindfulness, dan dukungan sosial yang sehat, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar menerima kebahagiaan secara utuh.

Rasa takut terhadap kebahagiaan mungkin terdengar sepele, tetapi sebenarnya bisa menjadi hambatan besar dalam kualitas hidup seseorang.

Padahal, kebahagiaan seharusnya menjadi sumber energi positif yang memperkuat kesehatan mental, bukan sesuatu yang justru dihindari. 

Menyadari bahwa hidup selalu membawa risiko akan membantu seseorang lebih berani membuka diri pada momen indah.

Tak perlu menunggu kondisi sempurna untuk merasakan bahagia, sebab kebahagiaan hadir dalam bentuk sederhana sehari-hari.

Menyambut rasa syukur, menghargai keberhasilan kecil, serta memberi ruang pada diri untuk tertawa lepas adalah cara nyata melawan ketakutan. Pada akhirnya, keberanian untuk berbahagia adalah salah satu bentuk keberanian tertinggi manusia.

EDITOR: Hanny Suwindari