← Beranda
Susah Keluar Dari Toxic Relationship? Kenali Trauma Bonding, Penyebab, Gejala dan Cara Menangani Menurut Psikologi
Aria Maulana SatriyoSelasa, 9 September 2025 | 08.33 WIB
Ilustrasi pasangan yang terdampak trauma bonding./Pexels.

JawaPos.com – Trauma bonding dalam hubungan toxic adalah kondisi ketika seseorang tetap terikat secara emosional pada pasangan yang menyakitinya, meskipun sadar bahwa hubungan tersebut merugikan.

Kepada kalian yang sering menjadi tempat curhat mungkin muncul pertanyaan di kepala kalian. “Kenapa yang orang-orang yang terjebak pada toxic relationship susah keluar ya?”

Padahal dari curhatan mereka, pasangan yang dihadapi menggunakan cara-cara yang abusif secara emosional bahkan hingga fisik. Nah, ternyata hal ini ada penjelasannya secara psikologis.

Menariknya, menurut Journal of Interpersonal Violence (diambil dari LIDO), sekitar 18% wanita dalam hubungan abusif melaporkan gejala trauma bonding yang signifikan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang trauma bonding yang ada di toxic relationship? Simak penjelasan berikut ini yang dilansir dari Medical News Today dan Psychology Today.

1. Psikologi Dibalik Trauma Bonding

Dunia psikologi memiliki beberapa penjelasan tentang kenapa seseorang dapat terikat kepada seseorang melalui trauma.

Pada dasarnya seorang korban memiliki ketergantungan pada pasangannya melalui tindakan manipulatif yang repetitif dan kontrol dari pelaku. Bagaimanakah penjelasannya?

Keterikatan (Attachment) – Sejak kecil, manusia memang terbiasa membentuk ikatan sebagai bagian dari bertahan hidup.

Bayi butuh orang tua atau pengasuh, sementara orang dewasa butuh pasangan atau orang dekat untuk merasa aman.

Masalah muncul ketika satu-satunya sumber dukungan juga menjadi orang yang menyakiti. Dalam kondisi ini, korban justru mencari kenyamanan pada orang yang sama walaupun dialah penyebab lukanya.

Ketergantungan (Dependence) – Trauma bonding juga bisa terbentuk karena korban terlalu bergantung pada pelaku untuk memenuhi kebutuhan emosional.

Sebagai analogi (dan bisa juga menjadi contoh nyata), anak yang sangat butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tua.

Jika orang tua justru abusif, anak bisa salah mengartikan cinta dengan rasa sakit. Ia mungkin tidak mampu melihat pengasuhnya sebagai “jahat,” bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perlakuan buruk itu.

Dengan begitu, sang pelaku tetap terlihat “baik” di mata anak, dan ikatan mereka makin menguat.

Siklus Kekerasan (Cycle of Abuse) – Banyak hubungan abusif berjalan dalam pola berulang: menyakiti → menyesal → bersikap manis.

Setelah melakukan kekerasan, pelaku bisa saja berjanji berubah atau menunjukkan kasih sayang berlebihan untuk menebus perbuatannya.

Hal ini memberi korban harapan bahwa penderitaan akan berakhir, sehingga ia rela bertahan dengan keyakinan “nanti akan ada kasih sayang yang ia janjikan.”

Bahkan, sikap menyesal atau kebaikan sementara dari pelaku bisa membuat korban merasa berutang budi.

Semakin terbiasa dengan perlakuan buruk, semakin mudah rasa “syukur” itu memperkuat ikatan yang berbahaya.

2. Indikasi Seseorang Mengalami Trauma Bonding

Sayangnya, korban dari hubungan toxic umumnya susah melihat bahwa diri mereka terikat dengan orang yang menyakiti mereka.

Jika kalian yang merasa hubungan kalian tidak sehat dan tidak wajar mungkin kalian bisa sadar saat menyadari gejala-gejala dibawah ini.

Tidak nyaman tapi tetap bertahan – Kamu sadar sebenarnya tidak suka dengan orang tersebut.

Bisa saja muncul rasa marah atau bahkan reaksi fisik (seperti tegang atau cemas) ketika dekat dengannya. Namun, kamu merasa tidak aman untuk mengungkapkan perasaan itu.

Hubungan dipenuhi rasa bersalah dan malu – Pelaku sering memanfaatkan rasa takut, kewajiban, dan rasa bersalah untuk mengendalikan.

Saat kamu berani menyuarakan kebutuhanmu, mereka justru menuduhmu egois atau terlalu menuntut.

Sulit membayangkan pergi, meski situasi memburuk – Semakin lama bersama, perilaku abusif terasa semakin “normal.”


Akibatnya, meski kekerasan meningkat, kamu ragu apakah benar-benar bisa meninggalkan hubungan itu.


Dibanjiri cinta lalu dijatuhkan – Ada pola love bombing di awal seperti dipuji, dimanjakan, seolah tidak pernah salah.


Tapi kemudian, perlakuannya berbalik drastis saat kamu melakukan kesalahan. Amarah dan kata-kata negatif tertujuu padamu hingga kamu merasa tidak berharga.


Selalu waspada berlebihan – Kamu merasa seperti sedang “berdiri di ujung tanduk.” Setiap hari penuh ketegangan karena takut salah bicara atau berbuat sesuatu yang memicu amarah pelaku.

3. Cara Menangani Trauma Bonding

Memutus ikatan trauma bukanlah hal yang mudah, bahkan sering kali membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Meski begitu, bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Beberapa langkah berikut bisa membantu:

Hadapi kenyataan saat ini – Sering kali, korban bertahan karena berharap pelaku akan berubah atau karena terlalu terikat pada kenangan indah di masa lalu.

Cobalah untuk fokus pada apa yang benar-benar terjadi sekarang, termasuk dampaknya terhadap hidupmu. Jika memungkinkan, catat pengalamanmu dalam jurnal untuk lebih mudah merefleksikannya.

Percaya pada bukti, bukan janji – Perhatikan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata manis. Jika pelaku terus mengulangi kekerasan atau tidak berusaha memperbaiki diri, itu adalah tanda jelas bahwa hubungan tersebut tidak sehat.

Bangun kembali cara pandang positif terhadap diri sendiri – Pola kekerasan bisa membuat harga dirimu runtuh dan seolah bergantung sepenuhnya pada pelaku.

Sadari ketika pikiran negatif mulai muncul, lalu tantang dengan afirmasi positif—ingatkan dirimu bahwa kamu berharga dan mampu berdiri sendiri.

Rawat diri secara konsisten – Perawatan diri bisa membantu meredakan stres sekaligus mengurangi dorongan untuk mencari kenyamanan pada pelaku.

Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menenangkan seperti menulis, meditasi, berolahraga, menjalani hobi, berdoa, atau berbicara dengan orang yang kamu percaya.

Akhir Kata

Mengatasi trauma bonding memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Prosesnya penuh tantangan, karena ikatan yang terbentuk biasanya sangat kuat dan bercampur dengan emosi kompleks.

Namun, setiap langkah kecil untuk mengenali pola abusif, merawat diri, dan membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri adalah kemenangan yang patut dilakukan.

Kalau kamu merasa kesulitan melewati proses ini sendirian, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog.

Dukungan dari tenaga ahli bisa memberikan perspektif baru sekaligus strategi yang lebih tepat untuk pulih.

Kamu harus Ingat bahwa kamu berhak berada dalam hubungan yang sehat dan penuh kasih, bukan dalam lingkaran kekerasan yang merusak.

EDITOR: Hanny Suwindari