← Beranda
Kenapa Ada Orang yang Santai Hadapi Perubahan, Sementara yang Lain Panik Setengah Mati?
Oliviea Novrimada Zahra• Selasa, 9 September 2025 | 07.43 WIB
Ilustrasi seseorang yang panik saat melihat hpnya dengan ikon baterai ponselnya yang berwarna merah, menunjukkan kekhawatiran dan keterburu-buruan. (Freepik )

JawaPos.com – Perubahan adalah bagian alami dari kehidupan. Kita mengalaminya setiap hari, mulai dari hal kecil seperti rutinitas harian yang tiba-tiba bergeser, hingga perubahan besar seperti pindah kerja, menikah, atau menghadapi krisis global.

Namun, yang menarik adalah cara orang bereaksi bisa sangat berbeda.

Ada yang menghadapinya dengan tenang, seakan tidak ada beban, sementara sebagian lain merasa panik, cemas, bahkan kewalahan.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar soal kepribadian, karena melibatkan faktor biologis, psikologis, hingga pengalaman hidup.

Otak Kita Memang Secara Alami Menolak Perubahan

Cindy Shaw menyebut, jika Anda pernah merasa enggan ketika harus mengubah kebiasaan lama, itu bukan sekadar sifat malas.

Penjelasan sebenarnya terletak pada cara kerja otak.

Saat kita melakukan sesuatu berulang kali, otak membangun jalur saraf yang membuat aktivitas itu terasa otomatis.

Semakin sering dilakukan, semakin kuat jalur itu, sehingga kita tidak perlu berpikir keras untuk melakukannya.

Misalnya, rutinitas jalan ke kantor atau cara menyalakan ponsel setiap pagi. Nah, ketika perubahan muncul, otak dipaksa membentuk jalur baru.

Baca Juga: Apakah Ada Hubungan Antara Kebiasaan Selfie dengan Tingkat Narcissism yang Dimiliki Seseorang?

Proses ini menghabiskan lebih banyak energi, perhatian, dan konsentrasi.

Tak heran, secara naluriah, otak cenderung ‘menolak’ perubahan dan lebih memilih zona nyaman.

Inilah salah satu alasan biologis mengapa sebagian orang merasa stres lebih dulu ketika dihadapkan pada hal baru.

Ketidakpastian yang Membuat Kita Gelisah

Selain faktor biologis, ketidakpastian juga memainkan peran besar.

Manusia cenderung merasa aman jika bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

Perubahan sering kali membawa hal-hal yang belum jelas hasilnya, dan ini bisa memunculkan rasa tidak aman.

Misalnya, ketika ada kabar restrukturisasi di kantor, sebagian orang bisa melihatnya sebagai peluang untuk berkembang, tetapi yang lain justru dihantui pertanyaan apakah mereka masih punya posisi? apakah gaji akan terpengaruh?

Ketidakpastian semacam ini bisa menimbulkan kecemasan mendalam, apalagi jika seseorang terbiasa hidup dengan keteraturan.

Mereka yang lebih fleksibel mungkin melihatnya sebagai tantangan, tetapi yang cemas akan menganggapnya ancaman nyata terhadap kestabilan hidup.

Rasa Takut Gagal dan Minimnya Kepercayaan

Psychology Today menyebut, banyak orang sebenarnya bukan hanya takut pada perubahan itu sendiri, melainkan pada kemungkinan gagal setelah perubahan terjadi.

Bayangkan seseorang yang sudah nyaman dengan pekerjaan lamanya diminta mempelajari sistem digital baru.

Di benak mereka, kemungkinan gagal menguasai teknologi itu terasa menakutkan, sehingga resistensi pun muncul.

Ketakutan ini sering kali lebih besar daripada kenyataan sebenarnya.

Selain itu, faktor kepercayaan juga sangat memengaruhi.

Jika perubahan digagas oleh atasan, pemerintah, atau pihak lain yang tidak mereka percayai, resistensi bisa semakin kuat.

Tanpa rasa percaya, perubahan dipandang sebagai ancaman, bukan kesempatan.

Tahapan Adaptasi yang Tidak Sama

Menariknya, setiap orang memiliki tahapan adaptasi yang berbeda. Menurut model Kubler Ross, perubahan sering membawa kita melewati fase psikologis tertentu.

Awalnya, ada fase penolakan, ketika seseorang mencoba mengabaikan kenyataan bahwa perubahan sudah terjadi.

Lalu masuk ke fase resistensi, di mana emosi negatif seperti marah, takut, dan cemas mulai muncul.

Setelah itu, sebagian orang mulai mengeksplorasi kemungkinan baru dan mencari cara untuk menyesuaikan diri.

Pada akhirnya, jika berhasil melewati semua tahap, barulah mereka sampai di fase komitmen, menerima perubahan dan menjalankannya dengan lebih tenang.

Masalahnya, tidak semua orang bergerak cepat melalui tahap ini. Ada yang berhenti terlalu lama di fase penolakan atau resistensi, sehingga terlihat panik berlebihan, seolah tidak mampu mengendalikan keadaan.

Ketangguhan Emosional yang Menjadi Penentu

Mengapa ada yang bisa cepat berpindah ke fase komitmen sementara yang lain terjebak di fase resistensi? Salah satu jawabannya adalah ketangguhan emosional atau emotional resilience.

Ini adalah kemampuan seseorang untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan menemukan solusi meski berada dalam situasi sulit.

Orang dengan ketangguhan tinggi biasanya lebih siap menghadapi perubahan karena tidak mudah terjebak dalam kepanikan.

Kabar baiknya, ketangguhan ini bukan bawaan lahir semata. Ia bisa dilatih melalui pengalaman, pengelolaan stres, dan dukungan sosial.

Verywell Mind menyebut semakin sering seseorang berhasil melalui tantangan, semakin kuat pula ketangguhannya untuk menghadapi perubahan berikutnya.

Fleksibilitas Psikologis sebagai Kunci Adaptasi Sehat

Selain ketangguhan, ada satu faktor penting lain yaitu fleksibilitas psikologis.

Orang yang fleksibel secara psikologis mampu menyadari perasaan dan pikiran mereka, tetapi tidak terjebak oleh hal itu.

Mereka bisa tetap fokus pada nilai dan tujuan jangka panjang, meskipun sedang dihantui rasa takut atau cemas.

Sebagai contoh, seseorang yang takut gagal dalam pekerjaan baru tetap mau mencoba, karena mereka memegang nilai bahwa belajar adalah bagian dari pertumbuhan.

Pendekatan ini membuat perubahan terasa lebih ringan, bahkan bisa menjadi kesempatan memperluas diri.

Verywell Mind menyoroti latihan mindfulness dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terbukti dapat membantu meningkatkan fleksibilitas ini.

Faktor Kepribadian dan Lingkungan

Tak bisa dimungkiri, faktor kepribadian juga berperan. Individu yang ekstrovert umumnya lebih mudah beradaptasi, karena mereka terbiasa dengan interaksi baru dan situasi sosial yang dinamis.

Sebaliknya, introvert mungkin butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Namun, ini bukan berarti introvert tidak bisa beradaptasi, hanya saja jalannya berbeda.

Lingkungan juga memberikan pengaruh signifikan. Dukungan dari keluarga, teman, atau rekan kerja bisa menjadi penopang besar dalam menghadapi perubahan.

Orang yang merasa tidak sendirian cenderung lebih berani melangkah, sementara yang merasa terisolasi lebih mudah panik.

Kenapa Ada yang Tetap Panik Mati-Matian?

Meski semua faktor di atas bisa menjelaskan, ada pula orang yang tetap sulit menghadapi perubahan bahkan setelah diberi dukungan.

Hal ini sering terkait dengan sensitivitas emosi atau pengalaman trauma masa lalu.

Whatfix menjelaskan, otak bisa bereaksi berlebihan terhadap stres, hingga memunculkan gejala mirip serangan panik.

Dalam kondisi ini, perubahan tidak lagi sekadar tantangan, melainkan dipandang sebagai ancaman serius terhadap keamanan diri.

Mereka yang mengalami hal ini biasanya membutuhkan pendekatan khusus, baik melalui terapi, pendampingan psikologis, atau strategi pengelolaan stres yang konsisten.

Tanpa itu, perubahan akan selalu terasa menakutkan.

Perbedaan reaksi terhadap perubahan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara otak, emosi, kepribadian, dan lingkungan.

Ada yang bisa menghadapinya dengan santai karena memiliki ketangguhan emosional, fleksibilitas psikologis, serta dukungan sosial yang kuat.

Sementara yang lain merasa panik karena otak mereka menolak perubahan, takut gagal, atau kurangnya rasa percaya terhadap pihak yang membawa perubahan.

Namun, kabar baiknya, kemampuan beradaptasi bukanlah sesuatu yang mutlak bawaan lahir.

Dengan latihan, pengalaman, dan lingkungan yang mendukung, siapa pun bisa belajar mengubah kepanikan menjadi ketenangan.

Pada akhirnya, perubahan bukan musuh, melainkan kesempatan untuk tumbuh asal kita berani melangkah.

EDITOR: Hanny Suwindari