JawaPos.com – Fase pencarian jati diri di usia akhir 20-an hingga awal 30-an alias Quarter life crisis bukan sekadar istilah hipster. Ini nyata dan banyak dialami banyak orang.
Meski gejalanya mirip antara cowok dan cewek, cara mereka menanggapi sering berbeda. Yuk, kita ulik enam perbedaan utama dan cari tahu siapa yang lebih cepat menemukan arah hidupnya.
1. Fokus Tekanan, Karier vs Hubungan
Cowok sering merasa tertekan oleh ekspektasi karier dan standar maskulinitas seperti harus sukses, mapan, dan mandiri.
Smile Consulting Indonesia menyebut cowok cenderung merasakan kebingungan ketika nilai diri tergantung pada pencapaian nyata seperti jabatan atau penghasilan.
Sebaliknya, cewek kerap menghadapi tekanan ganda yaitu selain karier, juga soal hubungan.
Ini karena norma sosial menekankan keseimbangan antara kerja dan menyenangkan banyak pihak, termasuk pasangan atau keluarga.
Akibatnya, pria mungkin lebih cepat stres soal identitas profesional, sementara wanita sering menimbang ulang pilihan hidup secara lebih holistik sejak awal.
2. Pemicu Emosional, Generasi vs Keterikatan Sosial
Bagi cowok, konflik nilai antar generasi bisa memperumit Quarter Life Crisis.
Para cowok sering bimbang karena menghadapi tuntutan warisan tradisi versus keinginan personal modern.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Hotel di Surabaya Dekat Bandara Juanda untuk Transit dan Liburan Keluarga yang Nyaman
Cewek, selain menghadapi tekanan sosial, cenderung lebih ekspresif secara emosional dalam fase transisi.
Smile Consulting Indonesia menyebut cewek terbuka pada pembicaraan tentang identitas, relasi, dan masa depan, serta lebih cepat mencari dukungan.
3. Tingkat Kecemasan dan Respons Proaktif
Menurut survei LinkedIn yang dilaporkan oleh situs Take Care by Hers, sekitar 75 % orang usia 25–33 menghadapi Quarter Life Crisis. ini menunjukkan betapa umum rasa cemas ini terjadi.
Namun, gaya respons yang timbul berbeda. Cewek sering memulai refleksi diri, praktik self care, hingga mencari terapis atau komunitas untuk mendapat dukungan lebih cepat.
Sementara cowok sering menunggu hingga tekanan luar makin parah, baru kemudian 'menyadari', karena cenderung menekan perasaan untuk terlihat kuat.
4. Mencari Solusi, Internal vs Eksternal
Strategi coping yang diadopsi bahkan juga berbeda. Cewek lebih cepat melakukan introspeksi, journaling, evaluasi nilai hidup, atau bahkan mendiskusikan dengan teman dekat atau mentor.
Pendekatan ini cocok untuk eksplorasi personal dan menemukan makna lebih dalam, sebagaimana disarankan oleh Newport Institute bahwa refleksi nilai inti, self compassion, dan menghindari banding-banding sosial memegang peran penting.
Cowok cenderung mengandalkan tindakan eksternal seperti bekerja keras, mencari tantangan baru, atau ‘menyibukkan diri’ demi mengalihkan rasa tidak menentu, meski terkadang ini justru memperpanjang kebingungan.
5. Perbedaan dalam Self Compassion dan Dukungan Sosial
Situs Hers menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan bersikap lembut terhadap diri sendiri alias self compassion sangat bervariasi berdasarkan gender.
Cewek umumnya lebih terbuka mempraktikkan self compassion, sementara cowok masih merasa tabu untuk ‘lembut’ terhadap diri sendiri.
Ditambah lagi, dukungan sosial menjadi krusial. Cewek lebih aktif mencari teman curhat, komunitas, atau sumber inspirasi. Sementara cowok sering lebih tertutup dan memilih menanggung sendiri, yang kadang memperlambat proses pemulihan.
6. Siapa yang Lebih Cepat Menemukan Jati Diri?
Jika ditanya siapa yang ‘lebih cepat’ menemukan jati diri, jawabannya bersifat relatif, tetapi ada beberapa kecenderungan.
Cewek biasanya lebih cepat bergerak secara emosional dan reflektif, sehingga meski bisa terbebani lebih banyak tekanan, mereka sering lebih dulu menyadari dan memperbaiki arah hidup.
Cowok, meski terlambat menghadapi krisis, justru bisa menunjukkan kebangkitan yang lebih cepat secara tindakan, ketika akhirnya mengubah pola pikir, yang membuat pemulihan Quarter Life Crisis nya bisa sangat transformasional.
Quarter life crisis adalah fenomena nyata yang dialami banyak milenial dan Gen Z.
Meskipun cara cowok dan cewek menavigasinya berbeda, keduanya menghadapi dilema pencarian makna hidup di usia dewasa awal.
Cewek mungkin lebih cepat melakukan introspeksi dan refleksi yang menjadi langkah penting menuju jati diri.
Sementara cowok, saat akhirnya tersentuh oleh realitas, dapat melesat cepat dalam transformasi.
Semoga artikel ini memberi perspektif segar serta motivasi untuk siapa saja yang sedang berada di fase pencarian itu. Jangan ragu untuk berbagi pengalaman, kamu tidak sendiri!