← Beranda
5 Kebiasaan Orang yang Sulit Mempertahankan Persahabatan Seiring Bertambah Usia, Apa Saja?
Mohammad Maulana IqbalRabu, 3 September 2025 | 21.33 WIB
kebiasaan orang yang sulit mempertahankan persahabatan./Freepik.

JawaPos.com – Beberapa orang memiliki kebiasaan yang membuat mereka sulit mempertahankan persahabatan seiring bertambahnya usia.

Kebiasaan ini sering dipengaruhi oleh perubahan prioritas hidup dan dinamika hubungan yang semakin kompleks.

Dalam kajian psikologi, kemampuan mempertahankan persahabatan kerap berkaitan dengan keterampilan sosial dan emosional.

Menelusuri kebiasaan orang yang kesulitan menjaga persahabatan membuka pandangan menarik tentang tantangan hubungan jangka panjang.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (3/9), bahwa ada lima kebiasaan orang yang sulit mempertahankan persahabatan seiring bertambah usia.

Baca Juga: 5 Weton yang Suci Hatinya: Sejak Lahir Punya Kepribadian Unggul dan Energi Besar

  1. Selalu menunggu orang lain yang mengambil inisiatif

Banyak orang dewasa yang terjebak dalam pola pikir bahwa jika seseorang benar-benar ingin berteman, mereka akan menghubungi terlebih dahulu.

Mentalitas "menunggu" ini sebenarnya menciptakan situasi di mana semua pihak saling menunggu satu sama lain untuk bergerak.

Penelitian dari University of Kansas menunjukkan bahwa dibutuhkan sekitar 50 jam untuk berubah dari sekadar kenalan menjadi teman biasa, 90 jam untuk menjadi "teman", dan lebih dari 200 jam sebelum menjadi teman dekat.

Waktu-waktu tersebut tidak akan terakumulasi dengan sendirinya tanpa adanya usaha nyata dari salah satu pihak.

Orang yang kesulitan menjaga relasi pertemanan sering kali mengasumsikan bahwa inisiatif harus datang dari orang lain, padahal setiap orang berpikir dengan cara yang sama.

Baca Juga: 3 Weton Elit dan Langka: Super Kaya yang Hidupnya Penuh Harta dan Kuasa

  1. Selalu mengalihkan percakapan ke diri sendiri

Sikap yang merusak hubungan sosial adalah kecenderungan untuk mengubah setiap cerita atau topik menjadi anekdot pribadi mereka sendiri.

Ketika seseorang menceritakan perjalanan akhir pekannya, tipe orang ini akan langsung bercerita tentang liburan mereka dari tiga tahun lalu.

Pola komunikasi semacam ini membuat percakapan terasa seperti menunggu giliran untuk menjadi pendengar, bukan pertukaran yang seimbang.

Relasi yang sehat berkembang melalui timbal balik, di mana setiap orang merasa didengar dan dipahami.

Orang yang magnetis dalam pergaulan sosial telah menguasai seni mengajukan pertanyaan lanjutan dan menunjukkan keingintahuan yang tulus terhadap jawaban lawan bicara mereka.

  1. Menjadi kaku dalam rutinitas dan menolak pengalaman baru

Seiring bertambahnya usia, banyak orang cenderung mengembangkan rutinitas yang nyaman dan mengetahui persis apa yang mereka sukai.

Meskipun ada daya tarik tersendiri dalam hal-hal yang dapat diprediksi, sikap ini bisa menjadi penghalang dalam membangun hubungan sosial.

Relasi pertemanan sering kali tumbuh melalui pengalaman baru yang dibagi bersama, namun orang yang sulit menjaga hubungan sosial cenderung otomatis menolak undangan yang berada di luar zona nyaman mereka.

Mereka melewatkan klub buku karena "tidak membaca genre itu" atau menghindari pesta makan malam karena "tidak suka keramaian".

Ketika seseorang selalu menjadi orang yang mengatakan tidak pada petualangan baru, orang lain pada akhirnya akan berhenti mengajak mereka.

  1. Membiarkan teknologi menggantikan koneksi tatap muka yang autentik

Era digital telah menciptakan paradoks di mana kita lebih "terhubung" dari sebelumnya, namun banyak orang merasa semakin terisolasi.

Data menunjukkan bahwa hampir 32% orang mengalami "phubbing" (diabaikan karena ponsel) dua hingga tiga kali sehari.

Teknologi memang bukan hal yang buruk, tetapi ada sesuatu yang tak tergantikan dari menatap mata seseorang, berbagi tawa, atau sekadar hadir sepenuhnya dalam kebersamaan.

Hubungan pertemanan yang sejati dibangun atas momen-momen autentik, bukan reaksi emoji dan pertukaran pesan singkat.

Orang yang kesulitan menjaga hubungan sosial sering kali mengandalkan komunikasi digital sebagai pengganti interaksi langsung yang bermakna.

  1. Menyimpan dendam dan menghindari percakapan yang sulit

Salah satu pembunuh hubungan pertemanan yang paling cepat adalah perlakuan diam atau "silent treatment".

Banyak hubungan yang berpotensi menjadi hebat justru layu karena seseorang merasa tersinggung dan memutuskan untuk menghilang begitu saja tanpa penjelasan atau upaya untuk menyelesaikan masalah.

Tidak ada upaya untuk memperbaiki keadaan, hanya keheningan yang berkepanjangan.

Relasi pertemanan bukanlah hal yang rapuh yang akan hancur pada tanda pertama konflik, justru yang terkuat sebenarnya tumbuh melalui proses menyelesaikan perselisihan dan kesalahpahaman bersama-sama.

Terkadang memberikan hadiah terbaik untuk diri sendiri dan orang lain adalah dengan melakukan percakapan yang tidak nyaman alih-alih pergi begitu saja.

EDITOR: Hanny Suwindari