JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, kita seringkali bisa menoleransi sifat seseorang yang sombong, dominan, dan tidak memiliki empati.
Sikap ini muncul sebagai upaya sementara untuk menjaga keharmonisan hubungan, meskipun pada akhirnya harus berhadapan dengan ketegangan, konflik, atau pun perpisahan.
Dalam psikologi, kepribadian seseorang yang sombong, haus akan pujian dan pengakuan, serta kurang memiliki empati terhadap orang lain dapat dipahami sebagai kepribadian narsisme.
Narsisme pertama kali diidentifikasi sebagai gangguan mental oleh Havelock Ellis, seorang dokter di Inggris pada tahun 1898. Gangguan mental ini dinamai berdasarkan karakter mitologi Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri.
Menurut tokoh psikoanalisis Sigmund Freud, narsisme merupakan tahap normal dalam perkembangan anak, tetapi akan dianggap sebagai gangguan ketika terjadi setelah pubertas.
Mengutip dari beberapa sumber jurnal psikologi, kepribadian narsistik pada manusia dewasa dapat dilihat melalui ciri-ciri berikut:
-
Merasa Paling Penting dan Lebih Baik dari Orang Lain
Individu dengan sifat narsistik terobsesi untuk mempertahankan citra diri yang sangat positif. Ia terus-menerus mencari pengakuan, merasa paling penting, serta berlebihan dalam membanggakan pencapaian yang sebenarnya biasa saja.
Narsistik senang berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap memiliki status sosial tinggi untuk memperkuat citra diri yang hebat. Dengan begitu, ia akan merasa memiliki kedudukan yang lebih baik dari orang lain.
Dibalik kepercayaan diri yang nampak kuat itu, sebenarnya tersembunyi kerapuhan yang sangat besar. Ia mudah terluka oleh kritik dan akan berusaha keras untuk mempertahankan nama baiknya.
Narsistik seringkali menganggap seseorang yang kritis sebagai ancaman yang mengikis kekuatan dan kesempurnaan yang telah dibangun. Ia semakin merasa tidak aman dan marah ketika kritik disampaikan di depan umum karena berpotensi membuat orang lain tersadar akan ketidakmampuannya.
-
Haus Pujian dan Ingin Terlihat Sempurna
Narsistik merasa kesal ketika tidak memperoleh pujian, serta mudah kecewa jika menerima penolakan dan tidak diperlakukan sesuai harapan. Sebab yang mereka butuhkan adalah menjadi terlihat ideal.
Citra ideal dilakukan dengan memanipulasi orang-orang disekitarnya dan membungkam para pengkritik yang dinilai memberikan ancaman. Perilaku ini merupakan strategi menyelamatkan citra positif di mata orang lain agar terus mengagumi dirinya.
Namun, citra positif ini lebih didasarkan pada persepsi yang bias dan berlebihan tentang diri sendiri. Misalnya, mereka melebih-lebihkan kemampuan dalam membangun bisnis, sementara orang lain justru menyaksikan kemampuan bisnis strategi yang dilakukan tidak pernah tepat.
Contoh narsistik dalam hubungan asmara dapat meliputi kecenderungan lelaki yang menilai bahwa setiap wanita selalu tertarik padanya, ingin memiliki, bahkan tidak bisa hidup tanpanya. Sikap narsistik semacam ini juga dapat terjadi pada perempuan.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa meskipun individu narsistik selalu menggambarkan diri secara positif, namun sebetulnya alam bawah sadar tentang dirinya sendiri tidak begitu positif. Ia menyembunyikan perasaan malu dan rendah diri yang mendalam dengan tampil superior dan berperilaku arogan.
-
Hidup di Dunia Fantasi
Seorang narsistik menyadari bahwa kenyataan seringkali tidak sesuai dengan pandangan positif tentang dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ia terus hidup di dunia yang penuh ilusi dengan cara menipu diri sendiri dan orang lain melalui keyakinan yang tidak realistis.
Mengutip dari HelpGuide, narsistik akan mengagungkan diri sendiri dalam fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kecemerlangan, cinta, dan keberuntungan tanpa batas yang membuat mereka merasa istimewa. Fantasi ini juga akan disampaikan untuk bisa memegang kendali atas orang lain.
Misalnya, seorang atasan narsistik dapat memberikan fantasi kesuksesan kepada bawahannya. Namun, ia kerap melontarkan kata-kata kasar dengan alasan membentuk jiwa pemimpin yang tangguh. Narsistik akan mencari pembenaran atas perilaku tersebut dan bersembunyi dibalik khayalan tentang kesuksesan.
Apabila bawahannya mencoba bersuara dan meminta atasan untuk berhenti menggunakan kata-kata kasar, ia akan dianggap melawan, berbahaya, dan tidak sejalan dengan misi yang ingin dicapai.
Narsistik merasa terancam oleh orang-orang yang tidak tunduk atau yang menantang mereka dengan cara apapun, sehingga mekanisme pertahanan yang dilakukan adalah penghinaan.
Selain itu, narsistik juga akan merendahkan atau meremehkan orang lain untuk menunjukkan betapa kecilnya mereka. Bentuk lain yang mungkin dilakukan adalah hinaan, makian, perundungan, dan ancaman untuk memaksa orang lain kembali patuh.
Pada dasarnya, fantasi yang dibangun oleh narsistik adalah upaya perlindungan dari perasaan hampa dan gagal, sehingga fakta dan opini yang bertentangan dengan mereka akan diabaikan. Apapun yang mengancam fantasi mereka akan ditanggapi dengan sikap defensif yang ekstrem dan kemarahan luar biasa, sehingga orang-orang di sekitarnya akan belajar untuk berhati-hati dalam menghindari penyangkalan mereka terhadap cara pandang narsistik.
-
Mengeksploitasi Orang Lain Tanpa Rasa Bersalah
Narsistik sering dikenal sebagai individu yang tidak memiliki empati (lack of empathy). Ia tidak pernah mencoba memahami perasaan sesama dan sulit menempatkan diri pada posisi orang lain.
Dalam banyak hal, narsistik memandang orang-orang sebagai objek yang hadir hanya untuk melayani kebutuhannya. Tanpa berfikir dua kali, ia akan memanfaatkan orang lain demi mencapai keuntungan pribadi.
Ia tak ragu menjalin hubungan demi mendapatkan materi, pengakuan, atau kekuasaan. Meskipun eksploitasi sudah sangat keterlaluan, tetapi seringkali korban tak menyadarinya karena narsistik lihai dalam membingkai narasi seolah korban yang membutuhkannya.
Para narsistik sama sekali tidak memikirkan bagaimana perilaku mereka berdampak pada kehidupan orang lain. Bahkan jika kita menyampaikan apa yang kita rasakan, mereka tetap tidak akan memahaminya. Satu-satunya hal yang mereka pahami adalah kebutuhan mereka sendiri.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, narsistik selalu menganggap dirinya istimewa dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga mereka mengharapkan perlakuan yang baik sebagai imbalan. Mereka sangat percaya bahwa apa pun yang mereka inginkan, harus didapatkan.
Orang narsistik bisa sangat menarik perhatian dan memikat kita dengan segala citra ideal yang mereka sampaikan. Kita juga akan tertarik pada kepercayaan diri dan impian mulia yang sering diutarakan.
Namun, kita harus menyadari bahwa itu semua adalah fantasi yang hanya akan membuat kita terjebak dalam jaring mereka, seolah mereka adalah penolong yang akan memenuhi kekosongan kita selama ini.
Oleh sebab itu, penting untuk menetapkan batasan yang didasarkan pada rasa menghormati sebagai manusia dan tidak perlu mengharap pada hubungan jangka panjang. Sebab, narsistik tidak mampu menciptakan hubungan timbal balik yang sehat dalam suatu hubungan.