← Beranda
Golongan Darah Mempengaruhi Kepribadian? Begini Penjelasan Psikologi dan Riset Ilmiah yang Mengejutkan
Lavinia Tiara MalikaSenin, 1 September 2025 | 23.20 WIB
Golongan darah sering dikaitkan dengan kepribadian (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa orang dengan golongan darah A cenderung perfeksionis, sedangkan golongan darah O dikenal percaya diri dan ekstrovert?

Kepercayaan ini populer di Jepang, Korea Selatan, hingga Indonesia, dan bahkan sering dijadikan bahan obrolan sehari-hari. Namun, pertanyaannya, benarkah golongan darah berpengaruh terhadap kepribadian?

Apa yang Membuat Isu Ini Menarik?

Fenomena ini pertama kali populer di Jepang pada 1930-an dan terus berkembang hingga kini. Banyak orang percaya bahwa golongan darah bisa menjadi indikator sifat seseorang, mirip dengan zodiak atau MBTI.

Healthline menyebut bahwa di Jepang bahkan terdapat praktik "blood type matchmaking" untuk mencari pasangan serasi berdasarkan golongan darah.

Siapa saja yang meneliti hubungan ini? Penelitian skala besar dilakukan oleh Shoji et al. (2020) yang dipublikasikan di ResearchGate. Studi ini melibatkan ribuan responden di Jepang dan menemukan adanya pola tertentu:

  • Golongan darah A cenderung menunjukkan sifat hati-hati, terorganisir, dan perfeksionis.
  • Golongan darah B lebih sering diasosiasikan dengan sifat kreatif dan individualis.
  • Golongan darah O dianggap percaya diri, ekstrovert, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
  • Golongan darah AB disebut unik karena dianggap gabungan sifat A dan B.

Meski demikian, para peneliti juga menegaskan bahwa hubungan tersebut lemah dan tidak bisa dijadikan acuan tunggal untuk menilai kepribadian.

Bagaimana Pandangan Psikologi Modern?

Menurut Verywell Mind, tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa golongan darah langsung memengaruhi sifat atau perilaku manusia. Karakter seseorang lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, pola asuh, dan pengalaman hidup. Hal serupa diungkap oleh PsychCentral, yang menyebutkan bahwa korelasi golongan darah dengan kepribadian lebih mirip stereotip sosial daripada hasil penelitian yang teruji secara universal.

Apa Dampak Sosial dari Kepercayaan Ini?

Meski bukti ilmiahnya lemah, kepercayaan terhadap hubungan golongan darah dan kepribadian berdampak nyata di masyarakat. Di Jepang, survei menunjukkan bahwa lebih dari 30% perusahaan pernah mempertimbangkan golongan darah dalam proses rekrutmen. Bahkan, beberapa iklan lowongan kerja secara terbuka mencantumkan preferensi golongan darah tertentu.

Sementara itu, di Korea Selatan, konsep ini sering muncul dalam drama dan acara televisi, sehingga semakin memperkuat keyakinan masyarakat. Di Indonesia sendiri, hal ini masih lebih sering dianggap sekadar hiburan atau bahan obrolan santai.

Kapan Mitos Ini Mulai Dipertanyakan?

Seiring perkembangan ilmu psikologi modern, banyak pakar menolak klaim bahwa golongan darah memengaruhi kepribadian. Sebuah artikel dari Journal of Personality and Social Psychology menegaskan bahwa korelasi yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya bisa jadi lebih dipengaruhi oleh bias budaya.

Dengan kata lain, masyarakat cenderung mempercayai stereotip, sehingga orang "berperilaku sesuai ekspektasi" golongan darahnya.

Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Isu Ini?

Psikolog dari Halodoc menjelaskan bahwa mengetahui golongan darah memang penting, tetapi lebih untuk alasan medis seperti transfusi darah, bukan untuk mengukur kepribadian.

Jika ingin memahami karakter seseorang, tes psikologi seperti Big Five Personality Test atau MBTI lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Meski begitu, tidak ada salahnya menjadikan topik ini sebagai sarana refleksi diri atau bahan percakapan ringan. Namun, penting diingat bahwa kepribadian tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan golongan darah.

Golongan darah dan kepribadian masih menjadi topik yang hangat diperbincangkan di banyak negara. Dari sisi budaya, kepercayaan ini memang menarik dan menghibur. Namun dari sisi sains, hubungan tersebut belum terbukti kuat.

Kepribadian manusia terlalu kompleks untuk ditentukan hanya oleh satu faktor biologis. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah mengenali diri melalui pengalaman, refleksi, dan evaluasi psikologis yang valid.

EDITOR: Candra Mega Sari