← Beranda
Apakah Kecerdasan Membuat Seseorang Lebih Rentan Mengalami Mimpi Buruk? Ini Penjelasan Ilmiah dan Psikologisnya
Oliviea Novrimada ZahraJumat, 29 Agustus 2025 | 13.48 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami mimpi buruk. (freepik)

JawaPos.com – Apakah kamu pernah terbangun tengah malam karena mimpi buruk? Lalu kamu bertanya-tanya apa ada hubungannya dengan otakmu yang terlalu aktif berpikir?

Fenomena ini ternyata bukan sekadar mitos. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kecerdasan tinggi cenderung mengalami mimpi buruk lebih sering dibandingkan orang lain.

Hal ini memunculkan pertanyaan menarik.

Benarkah semakin cerdas seseorang, semakin mudah ia diganggu mimpi buruk? Ataukah ada faktor lain yang ikut berperan? Mari kita bahas!

Mengapa Mimpi Buruk Bisa Terjadi?

Scientific American menjelaskan, mimpi terjadi saat otak memasuki fase tidur Rapid Eye Movement (REM).

Baca Juga: Punya IQ Tinggi Belum Tentu Produktif, Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Pada fase ini, otak bekerja sangat aktif untuk memproses memori, emosi, dan pengalaman sehari-hari.

Itulah sebabnya mimpi sering kali terasa begitu nyata.

Mimpi buruk muncul ketika otak sedang bergulat dengan emosi negatif, seperti kecemasan, rasa takut, atau stres.

Menurut American Academy of Sleep Medicine, sekitar 50–85 persen orang dewasa pernah mengalami mimpi buruk, meski frekuensinya berbeda-beda.

Hubungan Antara Kecerdasan dan Mimpi Buruk

Beberapa studi menemukan kaitan menarik antara tingkat kecerdasan dengan intensitas mimpi.

Baca Juga: Ramalan 15 Weton Tibo Sugih yang Besok di Masa Mendatang Diprediksi Kaya Raya dan Beruntung Sepanjang Hidup Menurut Primbon Jawa

Psychology Today menyebutkan, individu dengan IQ lebih tinggi cenderung mengingat mimpi lebih detail, termasuk mimpi buruk.

Daya imajinasi mereka yang lebih tajam membuat pengalaman tidur terasa lebih hidup, bahkan mengganggu.

Orang dengan kecerdasan tinggi juga lebih rentan overthinking. Kebiasaan menganalisis segala hal ini terbawa hingga tidur, menghasilkan mimpi penuh konflik atau skenario menegangkan.

Tak berhenti di situ, Scientific American juga menuliskan bahwa mimpi buruk sebenarnya bisa berfungsi sebagai latihan otak untuk menghadapi ancaman.

Dengan kata lain, otak cerdas tidak hanya lebih sering ‘bermain drama’ dalam mimpi, tapi juga sedang melatih diri menghadapi tekanan hidup.

Baca Juga: Alejandro Garnacho Ukir Sejarah, Jadi Penjualan Akademi Terbesar Manchester United Menuju Chelsea

Mengapa Orang Cerdas Lebih Mudah Terjebak Mimpi Buruk?

Psychology Today menyebutkan beberapa faktor yang sering disebut para peneliti antara lain:

  1. Orang cerdas sering berpikir berlebihan bahkan untuk hal kecil. Otak yang tak berhenti bekerja membuat tidur tak benar-benar tenang.

  2. Mereka biasanya lebih peka terhadap stres atau perubahan suasana hati. Akibatnya, emosi negatif lebih mudah muncul dalam mimpi.

  3. Pikiran yang kaya imajinasi memang memudahkan menghasilkan ide brilian, tapi juga bisa membuat mimpi buruk terasa sangat nyata.

  4. Tekanan akademik atau pekerjaan yang berat membuat orang cerdas sering kurang tidur. Kurang istirahat berkorelasi dengan meningkatnya mimpi buruk.

Mimpi Buruk Tidak Selalu Negatif

Scientific American menyebut, meski sering membuat resah, mimpi buruk ternyata punya sisi positif.

Menurut teori Threat Simulation, mimpi buruk adalah semacam pelatihan otak menghadapi ancaman nyata.

Ketika kita bermimpi dikejar, jatuh, atau gagal, otak sebenarnya sedang menguji respons kita terhadap rasa takut.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa membantu seseorang mengelola stres di dunia nyata.

Jadi, meski terasa tidak nyaman, mimpi buruk bisa dilihat sebagai bagian dari kecerdasan otak dalam beradaptasi.

Namun, mimpi buruk menjadi masalah serius bila terjadi beberapa kali dalam seminggu, membuat sulit tidur kembali, mengganggu aktivitas harian karena kelelahan, dan menimbulkan kecemasan berlebih sebelum tidur.

Jika kondisi ini terjadi, dokter atau psikolog biasanya akan memeriksa apakah ada gangguan tidur seperti Nightmare Disorder atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Cara Mengurangi Risiko Mimpi Buruk

Orang cerdas mungkin tak bisa mengendalikan otak mereka untuk berhenti berpikir, tapi ada beberapa strategi menurut Psychology Today yang bisa membantu tidur lebih nyenyak:

  1. Manajemen stres dengan melakukan meditasi, olahraga ringan, atau menulis jurnal sebelum tidur.

  2. Rutinitas tidur sehat dengan tidur di jam yang sama setiap malam agar tubuh terbiasa.

  3. Batasi stimulasi malam seperti menghindari gadget, berita berat, atau kafein menjelang tidur.

  4. Sugesti positif dengan membayangkan hal menyenangkan sebelum tidur untuk melawan sugesti negatif.

Jadi, apakah mimpi buruk sering dialami orang cerdas? Jawabannya ada kecenderungan demikian.

Otak yang lebih aktif, imajinasi yang kaya, dan sensitivitas emosi membuat mereka lebih mudah terjebak dalam mimpi tidak menyenangkan.

Namun, mimpi buruk bukan selalu tanda kelemahan. Justru, otak mungkin sedang melatih diri untuk menghadapi tantangan hidup.

Yang terpenting adalah menjaga kualitas tidur dan kesehatan mental agar mimpi buruk tidak berkembang menjadi masalah serius.

EDITOR: Hanny Suwindari