← Beranda
Mengapa Rasa Malas Bisa Menguras Energi? Psikologi Ungkap Rahasia Otak dan Cara Mengatasinya dengan Tepat
Lavinia Tiara MalikaSenin, 25 Agustus 2025 | 22.57 WIB
Ilustrasi orang bermalas-malasan.

JawaPos.com – Hampir semua orang pernah merasa malas. Entah itu menunda pekerjaan, enggan berolahraga, atau sekadar menunda tugas kecil sehari-hari.

Namun, benarkah rasa malas semata-mata tanda kurangnya kedisiplinan? Menurut psikologi modern, kemalasan tidak sesederhana itu.

Ia berakar pada proses biologis, kognitif, hingga emosional yang bekerja di dalam otak manusia.

Baca Juga: Jika Orang Tua Anda Tidak Pernah Meminta Maaf Saat Tumbuh Dewasa, Anda Mungkin Mengembangkan 8 Kebiasaan Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

Apa Itu Malas Menurut Psikologi?

Psikology Today (2014) menulis bahwa rasa malas sering kali merupakan bentuk avoidance behavior, yaitu upaya otak untuk menghindari aktivitas yang dianggap tidak menyenangkan, menegangkan, atau kurang memberikan imbalan instan. Dengan kata lain, bukan berarti seseorang tidak mampu bekerja keras, melainkan otaknya sedang memprioritaskan kenyamanan jangka pendek dibanding tujuan jangka panjang.

Studi dalam International Journal of Applied Social Science (2021) menambahkan, malas dapat muncul karena adanya konflik internal: antara keinginan mencapai sesuatu dengan rasa takut gagal atau merasa kewalahan. Ketidakseimbangan inilah yang sering membuat seseorang memilih diam, menunda, atau mencari distraksi lain.

Baca Juga: Manajemen Waktu dari Sisi Psikologi: Panduan Efektif Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kualitas Hidup

Bagaimana Otak Memicu Rasa Malas?

Ilmu saraf menjelaskan bahwa rasa malas erat kaitannya dengan sistem dopamin, neurotransmiter yang berfungsi mengatur motivasi dan penghargaan. ScienceDaily (2018) mempublikasikan penelitian bahwa individu dengan aktivitas dopamin rendah di area korteks prefrontal cenderung kesulitan mengambil inisiatif. Sebaliknya, otak lebih memilih aktivitas ringan yang tidak menuntut energi besar.

Sementara itu, Psychological Science (2017) menyoroti kaitan antara malas dengan prokrastinasi. Otak manusia cenderung menilai beban kerja secara emosional, bukan rasional. Maka, saat sebuah tugas dianggap berat, otak memberi sinyal “tunda dulu” demi mengurangi ketidaknyamanan.

Mengapa Malas Bisa Menjadi Kebiasaan?

Menurut Infiheal Psychology Blog (2023), rasa malas bisa terbentuk menjadi kebiasaan karena adanya pola reward system. Ketika seseorang menunda pekerjaan, ia merasakan kelegaan sementara. Rasa lega ini direkam otak sebagai pengalaman positif, sehingga kebiasaan malas semakin sulit dihentikan.

Hal serupa ditegaskan oleh Insights Psychology yang menyebut prokrastinasi sering berulang karena adanya “loop kebiasaan”: pemicu, rutinitas, dan hadiah kecil yang dirasakan otak. Jika pola ini tidak diinterupsi, rasa malas bisa berkembang menjadi hambatan serius dalam produktivitas.

Apa Dampaknya Jika Dibiarkan?

Jika dibiarkan berlarut-larut, rasa malas bisa menimbulkan konsekuensi besar. Penelitian di PubMed Central (2017) mengungkap bahwa kebiasaan menunda dan menghindar berhubungan dengan stres kronis, rendahnya kepuasan hidup, hingga gangguan kesehatan mental. Tidak hanya itu, efek domino dari rasa malas dapat terlihat pada karier, relasi sosial, bahkan kesehatan fisik.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Psikologi memberi sejumlah strategi praktis untuk melawan rasa malas:

  1. Break it down. Bagi pekerjaan besar menjadi tugas kecil agar lebih mudah dikerjakan.

  2. Gunakan teknik Pomodoro. Fokus bekerja 25 menit, lalu istirahat 5 menit.

  3. Cari makna dari tugas. Tanyakan “apa manfaat pekerjaan ini untuk masa depan saya?”

  4. Kelola emosi dengan mindfulness. Sadari rasa enggan tanpa menghakimi, lalu ambil langkah kecil.

  5. Bangun kebiasaan bertahap. Ganti pola lama dengan aktivitas sederhana yang konsisten dilakukan setiap hari.

Verywell Mind (2022) menyebut bahwa kunci utama mengatasi malas adalah mengubah persepsi otak. Semakin sering seseorang membuktikan dirinya bisa mengatasi rasa malas, semakin kuat pula jalur saraf motivasi yang terbentuk.

Malas bukan sekadar kelemahan, melainkan mekanisme psikologis yang bekerja di otak untuk mencari kenyamanan cepat. Namun, bila dibiarkan, ia bisa menguras energi, menunda pencapaian, dan mengganggu kualitas hidup. Dengan memahami akar psikologis dan neurosains di balik rasa malas, kita bisa menemukan cara efektif untuk mengelolanya. Pada akhirnya, bukan berarti menghapus rasa malas sepenuhnya, tetapi belajar mengendalikannya agar tidak menguasai hidup.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho