← Beranda
Gaya Belajar Observasi: Alasan INFJ, INFP, dan ISTP dalam MBTI Lebih Mudah Menyerap Ilmu
Lavinia Tiara MalikaKamis, 21 Agustus 2025 | 22.37 WIB
Belajar lewat observasi membantu individu memahami keterampilan sosial maupun teknis dengan lebih cepat./Freepik.

JawaPos.com – Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami sesuatu dengan membaca, mendengarkan penjelasan, atau langsung mempraktikkannya.

Namun, sebagian individu lebih nyaman ketika belajar dengan cara mengamati atau melakukan observasi. Pertanyaannya, apa sebenarnya gaya belajar observasi dan bagaimana kaitannya dengan kepribadian?

Menurut Buletin Psikologi UGM (2021), gaya belajar observasi merupakan kecenderungan dominan pada siswa maupun individu dewasa.

Mereka lebih cepat memahami materi saat melihat contoh nyata, baik dalam bentuk perilaku, pola, maupun visualisasi.

Baca Juga: 7 Isi Tas Makeup Musim Panas yang Wajib Dimiliki Profesional agar Tahan Panas Sepanjang Hari

Hal serupa juga ditegaskan dalam penelitian Yappimakassar (2022), yang menyebutkan bahwa observasi menjadi metode efektif dalam mempelajari keterampilan sosial maupun akademis.

Jika dikaitkan dengan teori kepribadian, salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Tes ini membagi kepribadian manusia ke dalam 16 tipe. Di antaranya, ada beberapa tipe yang memiliki kecenderungan kuat untuk belajar melalui observasi, seperti INFJ, INFP, dan ISTP.

INFJ dikenal sebagai tipe yang reflektif dan visioner. Saat belajar lewat observasi, INFJ tidak hanya melihat apa yang dilakukan orang lain, tetapi juga mencoba memahami makna di balik sebuah tindakan.

Baca Juga: Tipe MBTI yang Mudah Terbawa Suasana, dari Si Ekspresif hingga Reflektif

Misalnya, ketika mengamati seorang mentor, INFJ lebih fokus pada pola pikir dan tujuan jangka panjang daripada sekadar langkah teknis. Hal ini membuat proses belajar mereka lebih mendalam dan penuh makna.

INFP memiliki kesamaan dengan INFJ dalam hal kepekaan, namun lebih menekankan pada nilai personal dan emosi.

INFP biasanya belajar lewat observasi dengan cara menyelami ekspresi, bahasa tubuh, hingga atmosfer emosional sebuah situasi. Bagi mereka, pembelajaran terasa lebih bermakna jika menyentuh nilai pribadi atau perasaan.

Observasi menjadi sumber inspirasi sekaligus sarana koneksi emosional sebelum mereka mencoba sesuatu sendiri.

ISTP, berbeda dengan keduanya, lebih praktis dan berorientasi pada tindakan. Mereka sangat suka melihat bagaimana sesuatu bekerja, lalu segera mencoba sendiri.

Observasi bagi ISTP bukan hanya memperhatikan, melainkan juga merekam langkah demi langkah secara detail.

Misalnya, saat mempelajari keterampilan mekanik, ISTP cukup menonton sekali sebelum langsung praktik. Tidak heran, mereka dikenal cepat beralih dari mengamati ke melakukan.

Dengan demikian, meski sama-sama menggunakan observasi sebagai cara belajar, fokus ketiganya berbeda. INFJ lebih menekankan pada makna, INFP pada emosi, sedangkan ISTP pada langkah praktis.

Siapa saja yang biasanya termasuk pembelajar observasional? Menurut Simply Psychology, orang dengan gaya belajar ini cenderung peka terhadap detail, mampu membaca bahasa tubuh, serta bisa meniru perilaku setelah melihatnya sekali.

Mereka juga sering disebut sebagai visual learners karena lebih mudah menyerap informasi dari grafik, diagram, maupun gerakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, gaya belajar observasi memberi banyak manfaat. Misalnya, seorang karyawan baru lebih cepat beradaptasi dengan budaya kerja hanya dengan mengamati interaksi senior.

Atau seorang anak yang belajar memasak dengan melihat orang tuanya secara langsung, lebih cepat menguasai keterampilan dibanding hanya membaca resep.

Namun, ada juga tantangan yang perlu diperhatikan. Menurut Garuda Kemdikbud (2022), individu dengan gaya belajar observasi sering kesulitan memahami teori abstrak tanpa contoh konkret.

Oleh karena itu, gaya belajar ini idealnya dilengkapi dengan metode lain agar hasil belajar lebih optimal.

Menurut Verywell Mind, tanda bahwa seseorang termasuk pembelajar observasional antara lain: lebih mudah mengingat informasi dari video atau presentasi, sering meniru gaya orang lain, dan lebih cepat memahami ketika diberikan contoh nyata daripada penjelasan verbal.

Dengan memahami kecenderungan ini, individu bisa mengoptimalkan potensinya. Misalnya, dengan mencari sumber belajar berbasis visual, menonton video edukatif, atau segera melakukan praktik setelah observasi. Dengan begitu, proses belajar tidak hanya efektif tetapi juga menyenangkan.

EDITOR: Hanny Suwindari