← Beranda
Orang yang Lebih Suka Memelihara Hewan Peliharaan daripada Punya Anak Biasanya Memiliki 7 Kepribadian Ini
M Shofyan Dwi KurniawanSenin, 4 Agustus 2025 | 00.28 WIB
Orang yang Lebih Suka Memelihara Hewan Peliharaan daripada Punya Anak Biasanya Memiliki 7 Kepribadian Ini./Pexels.

JawaPos.com - Mungkin kamu pernah bertemu seorang teman yang memutuskan untuk tidak memiliki anak alias childfree. Bahkan ia lebih memilih memelihara hewan peliharaan seperti kucing atau anjing.

Yang lebih unik lagi, kamu tidak merasa terkejut dengan itu. Dalam benak kamu memahami keputusan tersebut.

Sepuluh atau lima belas tahun lalu, ucapan seperti itu mungkin langsung disambut dengan penilaian dan argumen panjang. Tapi sekarang? Tidak lagi.

Semakin banyak orang yang berkata jujur: lebih memilih golden retriever daripada stroller bayi. Pergeseran ini bukan sekadar tren aneh era modern. 

Di baliknya, ada hal-hal mendalam yang menunjukkan siapa mereka, apa yang mereka hargai, dan bagaimana mereka membangun hidup yang terasa pas di hati.

Baca Juga: 9 Tanda Kamu Berada dalam Hubungan yang Sehat dan Baik untuk Kesehatan Mental Kamu

Bukan soal mana yang lebih baik—punya anak atau memelihara hewan. Ini tentang mengenali nilai dan preferensi yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Berikut tujuh sifat umum yang sering dimiliki oleh mereka yang merasa lebih cocok ditemani hewan peliharaan daripada menjadi orang tua, seperti dilansir dari VegOut.

1. Menghargai Otonomi Tinggi

Mereka tidak egois—mereka sadar betul apa yang membuat hidup terasa utuh. Komitmen jangka panjang yang menuntut kehadiran 24/7, seperti membesarkan anak, tidak selalu masuk dalam gambaran ideal mereka.

Mereka mendambakan koneksi yang tetap memberi ruang bernapas. Kucing tidak menuntut perhatian setiap jam. Anjing tidak butuh biaya sekolah. Hamster tidak akan melempar pertanyaan eksistensial saat kamu sedang stres soal tagihan listrik.

Baca Juga: Jika Seseorang Sering Membahas 7 Topik Ini dalam Obrolan Sehari-hari, Mereka Mungkin Pemikir Tingkat Tinggi Tanpa Mereka Sadari

Mereka bisa bertanggung jawab. Mereka hanya ingin memilih kapan dan bagaimana tanggung jawab itu dijalani.

2. Peka terhadap Stimulasi Berlebihan

Orang-orang seperti ini cenderung mudah kewalahan oleh kebisingan dan kekacauan. Mereka menyukai ritme, bukan kejutan.

Bayi menangis jam 2 pagi atau balita yang mengamuk di supermarket bisa membuat hari mereka berantakan.

Sebaliknya, hewan peliharaan memberi bentuk kasih sayang yang tenang. Hubungan yang tak penuh drama, lebih mudah diatur, dan memberi ketenangan daripada tuntutan.

3. Memikirkan Warisan dengan Cara yang Tak Biasa

Baca Juga: 7 Perilaku Orang yang Sangat Cerdas dan Punya IQ Tinggi yang Tidak Merasa Perlu Membuktikan Diri, Menurut Psikologi

Mereka tidak mengabaikan warisan. Mereka hanya mendefinisikannya ulang.

Alih-alih meneruskannya melalui gen, mereka menciptakan hal-hal yang bisa dikenang: taman yang indah, karya seni, rumah yang nyaman, atau kebaikan yang terus mengalir ke sekeliling.

Mereka adalah tetangga yang jadi sukarelawan di penampungan hewan. Teman yang ingat ulang tahun dan nama kucingmu. Mereka tidak mengejar keturunan, tapi meninggalkan jejak dengan kepedulian dan ketulusan.

4. Melakukan Pilihan Emosional dengan Sadar

Banyak dari mereka tumbuh di lingkungan yang kacau atau penuh tekanan emosional. Ada yang sejak kecil harus bersikap seperti orang dewasa karena tidak punya pilihan.

Daripada mengulangi pola yang sama pada generasi berikutnya, mereka memilih lanskap emosional yang terasa lebih aman dan hewan peliharaan memberi ruang itu.

Baca Juga: 9 Hal yang Seharusnya Tidak Perlu Kamu Khawatirkan di Usia 30-an, Menurut Mereka yang Sudah Berusia 70-an

Anjing atau kucing tidak akan memicu trauma lama. Tidak akan memaksa membuka luka yang belum sembuh. Mereka mencintai dengan cara yang tidak rumit.

5. Ahli Membuat Ritual Tanpa Butuh Tradisi

Kamu mungkin mengenal orang seperti ini yang membuat kue ulang tahun untuk anjingnya atau punya playlist khusus saat memandikan kucingnya.

Terlihat lucu? Mungkin. Tapi itu lebih dari sekadar tingkah manis. Itu ritual. Itu cara mereka menciptakan makna.

Mereka tidak perlu kelulusan, pernikahan, atau milestone konvensional untuk merasa hidup mereka berarti. Momen kecil pun bisa menjadi jangkar yang kuat.

Baca Juga: 9 Hal yang Tidak Pernah Diposting oleh Perempuan Berkelas di Media Sosial

6. Murah Hati Secara Emosional Tapi Tidak Selalu Siap Sedia

Mereka penuh kasih, namun punya batasan yang jelas.

Bukan karena mereka tertutup atau tidak peduli—justru karena mereka sangat peduli, mereka perlu menjaga energi mereka.

Kamu akan mendapatkan versi terbaik mereka saat situasi tenang: di rumah, ditemani anjing yang mengantuk. Mereka hadir, membumi, dan hangat.

Tapi saat dituntut untuk hadir terus-menerus tanpa henti, mereka memilih untuk mundur. Itu bukan kelemahan. Itu kebijaksanaan.

7. Sangat Selaras dengan Kebahagiaan dan Melindunginya

Mereka tahu apa yang membuat hati tenang. Dengkuran kucing. Jalan santai di sore hari. Ciuman basah dari anjing yang terlalu semangat.

Alih-alih mengejar impian besar yang bisa membuat kelelahan mental dan fisik, mereka memilih kesenangan kecil yang konsisten. 

Bukan karena tidak punya ambisi. Tapi karena tahu kebahagiaan itu rapuh dan layak dilindungi.

Mereka tidak tertarik mengorbankan seluruh diri demi sesuatu yang belum tentu memberi makna. Sebaliknya, mereka memberi ruang bagi hal-hal kecil yang membuat hidup terasa penuh.

Pada akhirnya, memilih hewan peliharaan dibanding anak bukan bentuk pelarian.

Bagi sebagian orang, itu adalah keputusan penuh kesadaran. Bukan karena tidak bisa mencintai, tapi karena tahu persis bagaimana, kapan, dan kepada siapa cinta itu bisa diberikan secara utuh.

Dan terkadang, cinta paling tulus datang dari seekor makhluk berbulu yang hanya ingin tidur siang di pangkuanmu.

EDITOR: Hanny Suwindari