JawaPos.com – Di era media sosial yang penuh dengan berita negatif, fenomena doomscrolling, yakni kebiasaan terus-menerus menggulir konten buruk dan menakutkan semakin menjadi kebiasaan banyak orang. Awalnya dimaksudkan untuk merasa lebih informed, namun malah memicu kecemasan terus‑menerus dan stres yang sulit dihentikan.
Dikutip dari Dailytelegraph.com dan Thedailybeast.com, doomscrolling tidak hanya mempengaruhi pikiran secara emosional, tetapi juga memicu respons stres kronis yang berdampak pada mood, tidur, dan bahkan fisik. Lantas, seperti apa dampak doomscrolling dan bagaimana cara lepas atau menghindari dari lingkaran negatif tersebut?
Berikut ini beberapa dampak yang akan terjadi jika kita sudah kecanduan doomscrolling:
1. Stres dan Kecemasan yang Meningkat
Terlalu sering membaca berita negatif bisa membuat otak kita terus-menerus merasa dalam keadaan darurat. Tubuh pun merespons dengan memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Akibatnya, kita jadi lebih mudah gelisah, emosional, dan sulit merasa tenang. Bahkan, orang yang sering doomscrolling berisiko 12 kali lebih besar mengalami gangguan mental serius, termasuk kelelahan dan sakit kepala yang sering datang tanpa sebab.
2. Gangguan Kualitas Tidur
Doomscrolling terutama menjelang tidur menyebabkan over stimulasi sistem saraf sehingga membuat tubuh kesulitan transisi ke mode istirahat. Akibatnya, insomnia atau tidur yang dangkal menjadi sering terjadi. Waktu tidur yang terganggu memperburuk mood dan membuat stres semakin tinggi.
3. Pandangan Hidup yang Semakin Negatif
Algoritma media sosial memperkuat konten negatif sesuai perilaku scroll kamu, membentuk siklus tanpa henti. Lama kelamaan, hal ini memperkuat pandangan dunia yang suram dan merusak optimisme. Pikiran pun cenderung menjadi lebih pesimis dan mudah putus asa.
4. Gejala Fisik Akibat Respons Stres Kronis
Respons stres yang berulang juga menimbulkan dampak fisik seperti ketegangan otot, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan kelelahan. Disisi lain, kekurangan tidur akibat doomscrolling membuat tubuh sulit pulih dari stres harian. Kombinasi ini jadi bom waktu bagi kesejahteraan tubuh dan pikiran.
Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini bisa merusak kualitas hidup. Memang sulit berhenti menggulirkan layar, padahal kita sudah tahu efek buruknya. Lalu, bagaimana cara menghentikan kebiasaan doomscrolling?
- Batasi Durasi Layar & Matikan Notifikasi
Tentukan batasan waktu harian untuk aplikasi media sosial yang rawan negatif. Matikan notifikasi berita yang tidak penting agar tidak memicu scroll kompulsif.
- Lakukan Mood Check Setiap Beberapa Menit
Setiap 5 sampai 10 menit, tanyakan pada dirimu sendiri "Apakah saya merasa lebih baik setelah menggulir ini?" Jika jawabannya "tidak", segera hentikan.
- Ganti dengan Aktivitas Menyegarkan
Alihkan kebiasaan scrolling ke aktivitas offline seperti jalan kaki, membaca buku ringan, meditasi, atau ngobrol dengan teman. Ini dapat memecah lingkar negatif dan memberi jeda mental.
- Tambahkan Berita Positif di Feed Anda
Ikuti akun berita positif atau edukatif yang menyuplai konten inspiratif. Ini membantu menjaga keseimbangan informasi yang masuk.
Kesimpulan
Doomscrolling bukan sekedar kebiasaan membaca berita buruk tapi ia bisa memicu stres, kecemasan, pandangan hidup negatif, dan gangguan fisik yang nyata. Menghentikan kebiasaan ini bukan berarti menghindari informasi sepenuhnya, tetapi membangun batas sehat dan aktivitas penyegaran mental.
Dengan strategi nyata seperti membatasi layar, mengganti pola browsing dengan kegiatan positif, dan menata media yang kita konsumsi, kamu bisa mengembalikan kontrol atas mood, tidur, dan kesehatan mental secara keseluruhan.