JawaPos.com - ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan istilah medis yang merujuk pada gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif. Pada umumnya, ADHD dapat membuat seseorang kesulitan untuk berkonsentrasi atau memusatkan perhatian dalam satu waktu.
Gejala ADHD bisa ditemui saat masa kanak-kanak dan dapat menimpa siapa saja. Akan tetapi, perempuan yang menderita ADHD seringkali terabaikan karena gejala yang dialami berbeda dari ciri-ciri umum yang biasa dikaitkan dengan gangguan mental ini.
Apalagi, dilansir dari Pharmacy Times, sejarah pengembangan pengetahuan akan ADHD telah lama bias gender karena difokuskan pada anak laki-laki yang dianggap memiliki gejala yang lebih terlihat dibanding perempuan.
Akibatnya, banyak perempuan yang sebenarnya menderita ADHD namun mengalami kesalahan diagnosis atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali.
Dikutip dari laman Relational Psych, ada beberapa alasan mengapa gejala ADHD pada perempuan sering disalahpahami, yaitu:
1. Ekspektasi Sosial dan Norma Gender
Sedari kecil, anak perempuan sering diekspektasikan agar menjadi patuh, penurut, dan pendiam. Hal ini dapat membuat mereka menutupi gejala ADHD yang mereka rasakan sehingga dapat berujung pada tingkat kepercayaan diri yang rendah, gangguan kecemasan, hingga depresi.
Di masa dewasa, ekspektasi yang dibebankan kepada perempuan untuk menjalankan berbagai peran mulai dari bekerja, mengurus rumah tangga, dan mengasuh anak juga dapat memperburuk gejala ADHD.
Karena merasa berkewajiban untuk memenuhi ekspektasi atau standar tersebut, banyak perempuan pada akhirnya tetap abai terhadap gejala ADHD yang dialami sehinga tidak mendapat diagnosis atau perawatan yang semestinya.
2. Gejala ADHD yang Terlihat Berbeda
ADHD pada perempuan cenderung lebih terinternalisasi dibandingkan pada laki-laki. Mereka berjuang dalam menghadapi:
- Kurangnya perhatian, sulit fokus, mudah lupa, dan tidak teratur,
- Hiperaktif yang dapat termanifestasi sebagai kecemasan dan ketidakmampuan untuk rileks,
- Impulsivitas dalam bentuk verbal seperti menyela orang lain atau kesulitan menahan pikiran dan emosi,
- Regulasi emosi yang kacau karena perempuan dengan ADHD sering mengalami emosi yang intens dan perubahan suasan hati,
- Kesulitan dalam manajemen waktu, perencanaan, dan pengorganisasian.
Gejala-gejala ini tidak selalu sesuai dengan pandangan stereotip ADHD, sehingga perempuan sangat mungkin didiagnosis dengan kondisi lain seperti depresi. Akibatnya, ADHD yang menjadi akar permasalahan pun tidak teratasi sama sekali.
3. Perubahan Hormon
Fluktuasi hormon sepanjang kehidupan perempuan juga dapat berdampak pada gejala ADHD. Pada masa pubertas misalnya, anak-anak perempuan dapat terlihat memiliki gejala ADHD namun tidak dianggap serius karena diangga sebagai perubahan tingkah laku remaja.
Selain itu, tingkat estrogen yang menurun selama siklus menstruasi juga dapat memperburuk gejala ADHD seperti sulit untuk fokus dan ketidakstabilan emosi. Begitu pula dengan masa kehamilan dan menopause yang sama-sama berpengaruh pada gejala-gejala ADHD yang dirasakan oleh perempuan.
4. Kondisi Komorbid
Perempuan dengan ADHD juga sering mengalami gangguan mental lainnya pada saat yang bersamaan. Hal ini dapat mempersulit karena kondisi tersebut cenderung menutupi gejala ADHD. Akibatnya, penyedia layanan kesehatan bisa hanya berfokus pada kondisi tersebut tanpa memperhitungkan ADHD sebagai akar penyebabnya.
ADHD yang salah atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali dapat berdampak pada perempuan, mulai dari stres, tingkat kepercayaan diri yang rendah, hingga sulit dalam menjalin hubungan.
Oleh karena itulah, penting untuk membangun kesadaran yang lebih besar dan memberi dukungan bagi perempuan yang terindikasi dengan ADHD namun terabaikan. Hal ini karena mendapat diagnosis yang tepat menjadi jalan untuk mendapat perawatan dalam mengatasi gejala ADHD pada perempuan.