← Beranda
8 Pekerjaan yang Dulu Dianggap Prestisius oleh Generasi Baby Boomer, Tetapi Kini Dianggap Kuno oleh Generasi Z
Silvia SulistiaraKamis, 24 April 2025 | 17.30 WIB
Ilustrasi pekerjaan yang dulu dianggap prestisius. (Freepik)

JawaPos.com - Dahulu, sejumlah profesi dianggap sebagai puncak kesuksesan. Orang yang bekerja sebagai dokter, pengacara, atau bankir sering kali dijadikan panutan karena dianggap memiliki karier yang mapan dan bergengsi.

Namun seiring waktu, persepsi terhadap prestise suatu profesi mengalami pergeseran. Generasi Z, yang kini mulai mendominasi dunia kerja, memiliki pandangan berbeda soal pekerjaan impian mereka.

Profesi-profesi yang dulunya diidamkan oleh generasi Baby Boomer dan Gen X justru dinilai kurang relevan oleh generasi muda. Sebagian bahkan dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Teknologi yang terus berkembang, keinginan akan fleksibilitas kerja, serta dorongan untuk mencari makna dalam pekerjaan membuat Generasi Z lebih selektif dalam memilih karier.

Dilansir dari Blog Herald pada Kamis (24/4), berikut adalah delapan profesi yang dulu begitu dihargai, tetapi kini dianggap kuno oleh banyak anak muda:

1. Bankir Tradisional

Dulu, bekerja di bank dianggap sebagai simbol status sosial yang tinggi. Kantor yang mewah, jas rapi, dan gaji besar membuat profesi ini terlihat sangat prestisius.

Namun kini, Generasi Z melihat industri perbankan konvensional sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Kemunculan fintech, dompet digital, dan mata uang kripto membuat peran bankir tradisional terasa kurang relevan.

2. Jurnalis Surat Kabar

Menjadi jurnalis di media cetak dulunya merupakan profesi yang sangat dihormati. Banyak orang bermimpi bisa bekerja di surat kabar besar dan menulis berita-berita penting.

Sayangnya, media cetak kini mulai ditinggalkan. Generasi Z lebih tertarik dengan konten digital, seperti menjadi influencer, blogger, atau jurnalis digital yang aktif di media sosial dan platform daring lainnya.

3. Agen Perjalanan

Dulu, merencanakan liburan harus melalui agen perjalanan. Mereka akan membantu menyusun rencana perjalanan dari A hingga Z.

Kini, hal tersebut dianggap tidak efisien oleh Generasi Z. Dengan kehadiran platform seperti Airbnb, Skyscanner, dan Google Maps, anak muda bisa menyusun sendiri perjalanan mereka dengan mudah hanya melalui ponsel.

4. Petugas Pos

Menjadi petugas pos dulu adalah pekerjaan yang terhormat. Stabilitas kerja, penghasilan tetap, dan peran dalam pelayanan masyarakat menjadikannya profesi yang diidamkan.

Namun saat ini, surat menyurat telah tergantikan oleh email dan pesan instan. Meski pengiriman paket masih dibutuhkan, pekerjaan ini tidak lagi dianggap bergengsi oleh generasi muda yang lebih tertarik dengan bidang teknologi dan industri kreatif.

5. Operator Telepon Rumah

Profesi ini dulunya dianggap canggih. Menyambungkan panggilan antar wilayah bahkan antar negara tampak seperti pekerjaan yang luar biasa.

Namun, era telepon rumah telah bergeser ke telepon genggam dan aplikasi komunikasi digital. Operator telepon kini dianggap sebagai pekerjaan masa lalu yang tidak relevan dalam era serba otomatis seperti sekarang.

6. Pengacara

Profesi ini masih dianggap bergengsi, tetapi persepsi terhadapnya mulai berubah. Generasi Z cenderung skeptis terhadap sistem hukum yang dinilai mahal dan tidak selalu adil.

Kemunculan teknologi hukum dan kecerdasan buatan membuat beberapa tugas rutin pengacara kini bisa diotomatisasi. Hal ini membuat profesi pengacara tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya jalur sukses oleh banyak generasi muda.

7. Tenaga Pemasaran dari Pintu ke Pintu

Dulu, menjual produk langsung ke rumah-rumah adalah cara umum untuk mencari penghasilan. Profesi ini memberikan peluang bisnis yang nyata bagi banyak orang.

Namun, Generasi Z lebih memilih berbelanja secara daring. Mereka lebih mempercayai ulasan online, iklan digital, dan rekomendasi media sosial dibandingkan penawaran langsung dari orang asing yang mengetuk pintu rumah.

8. Pekerja Pabrik

Industri manufaktur pernah menjadi tulang punggung ekonomi. Pekerjaan di pabrik menawarkan kestabilan dan kesempatan menghasilkan sesuatu yang nyata.

Namun sekarang, otomatisasi dan teknologi robotik mengubah wajah industri ini. Pekerjaan di pabrik dianggap melelahkan, monoton, dan rawan tergantikan mesin. Generasi Z lebih memilih pekerjaan yang fleksibel dan memberikan stimulasi intelektual.

Perubahan persepsi terhadap prestise suatu pekerjaan mencerminkan dinamika zaman. Bukan berarti profesi lama tidak penting, tetapi nilai-nilai yang dipegang generasi muda kini berbeda.

Generasi Z menghargai fleksibilitas, makna, dan inovasi dalam bekerja. Bagi mereka, pekerjaan bergengsi bukan lagi soal gaji besar atau jabatan tinggi, tetapi tentang dampak, kenyamanan, dan keselarasan dengan nilai pribadi.

Pandangan ini menunjukkan bahwa dunia kerja terus berkembang. Bisa jadi di masa depan, pekerjaan yang kini dianggap kuno akan bertransformasi dan kembali relevan dalam bentuk yang lebih modern dan adaptif.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho