JawaPos.com - Tidak semua hubungan antar-saudara bisa berjalan mulus hingga dewasa.
Mungkin kamu pernah merasa hubungan dengan kakak atau adikmu semakin renggang seiring bertambahnya usia, padahal dulu kalian sangat dekat sekali.
Ternyata, menurut psikologi, ada beberapa hal yang terjadi di masa kecil dan tanpa disadari ini bisa menjadi akar dari renggangnya hubungan tersebut.
Dengan memahaminya, kita bisa lebih sadar dan mulai memperbaiki hubungan yang mungkin sudah lama terasa dingin atau canggung.
Dilansir dari laman Personal Branding Blog pada Rabu (23/4), berikut merupakan 7 hal di masa kecil yang sering jadi penyebab renggangnya hubungan antar-saudara di masa dewasa.
1. Urutan Kelahiran
Urutan kelahiran dalam keluarga ternyata punya pengaruh besar terhadap cara anak-anak bersikap dan melihat peran mereka dalam keluarga.
Anak pertama biasanya tumbuh dengan banyak tanggung jawab dan harapan tinggi dari orang tua. Mereka cenderung menjadi sosok yang perfeksionis, serius, dan merasa harus selalu memberi contoh.
Anak bungsu sering kali dianggap sebagai "si kecil" yang selalu dimanja, sehingga kadang tidak dianggap serius oleh anggota keluarga lainnya.
Sementara itu, anak tengah sering merasa terjepit atau terlupakan karena tidak mendapat perhatian sebanyak kakak atau adik mereka.
Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan rasa iri, persaingan, atau bahkan konflik berkepanjangan yang terbawa hingga dewasa, terutama jika tidak pernah disadari atau dibahas secara terbuka.
2. Perlakuan Orang Tua yang Tidak Adil (Favoritisme)
Perlakuan yang tidak seimbang dari orang tua, seperti lebih menyayangi atau memuji salah satu anak, bisa menjadi sumber konflik antara saudara.
Ketika salah satu anak merasa lebih disukai, sedangkan yang lain merasa diabaikan atau kurang dihargai, akan muncul rasa sakit hati yang bisa bertahan lama.
Kadang, favoritisme ini dilakukan tanpa sadar, misalnya karena kepribadian anak yang satu lebih mudah dikendalikan atau lebih menyenangkan. Namun, dampaknya sangat nyata.
Anak yang merasa tidak diprioritaskan oleh orang tuanya cenderung akan tumbuh dengan rasa minder atau marah terhadap saudara kandungnya.
Jika tidak dibicarakan secara dewasa, perasaan ini bisa merusak hubungan persaudaraan hingga bertahun-tahun kemudian.
3. Persaingan Antar-Saudara
Persaingan adalah hal yang sangat umum dalam hubungan antar-saudara, baik dalam hal prestasi sekolah, olahraga, perhatian orang tua, bahkan hal-hal kecil seperti siapa yang lebih dulu dapat hadiah atau dipuji.
Meskipun kompetisi bisa menjadi motivasi, jika terlalu berlebihan dan tidak sehat, hal ini bisa menimbulkan rasa iri, marah, dan saling menjatuhkan.
Anak-anak yang terus-menerus merasa harus “mengalahkan” saudaranya bisa tumbuh dengan hubungan yang renggang atau penuh dendam.
Terutama jika orang tua secara tidak sadar ikut memicu persaingan dengan sering membanding-bandingkan anak-anak mereka.
Memahami bahwa setiap anak punya keunikan sendiri dapat membantu mengurangi ketegangan ini dan mempererat hubungan antar-saudara.
4. Hukuman yang Tidak Adil dari Orang Tua
Ketika orang tua menghukum anak-anak dengan cara yang tidak adil, seperti hanya menyalahkan satu anak padahal semua terlibat dalam kesalahan, maka anak yang merasa diperlakukan tidak adil bisa menyimpan luka hati.
Misalnya, anak sulung sering kali dimarahi karena dianggap “lebih tahu”, padahal semua saudara ikut melakukan kesalahan. Sebaliknya, anak bungsu kadang dibiarkan begitu saja meskipun melakukan hal yang sama.
Ketimpangan ini bisa memicu rasa marah dan ketegangan antar-saudara, karena yang satu merasa selalu disalahkan, sementara yang lain merasa dilindungi.
Jika tidak disadari, luka akibat ketidakadilan ini bisa terbawa hingga masa dewasa dan sulit untuk diredakan.
5. Terlalu Menekankan Keharmonisan Keluarga
Banyak keluarga yang ingin semuanya terlihat damai dan bahagia, tapi sayangnya ini kadang membuat anggota keluarga merasa tidak bebas untuk mengungkapkan perasaan.
Ketika perbedaan pendapat atau konflik dianggap tabu, akhirnya emosi negatif dipendam dan tidak pernah diungkapkan serta tidak terselesaikan.
Lama-kelamaan, rasa kesal, kecewa, atau marah bisa menumpuk dan akhirnya meledak dalam bentuk konflik yang lebih besar di kemudian hari.
Padahal, dalam keluarga yang sehat, perbedaan pendapat itu adalah hal yang wajar dan justru bisa menjadi jembatan untuk saling memahami.
6. Kurangnya Identitas Diri
Ketika anak-anak tumbuh tanpa ruang untuk menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya, terutama jika terus dibandingkan dengan saudaranya sendiri, maka mereka bisa merasa kehilangan identitas.
Misalnya, jika seorang anak selalu dibandingkan dengan kakaknya yang lebih pintar atau lebih populer, dia bisa merasa tidak cukup baik dan tidak dihargai sebagai individu.
Perasaan ini bisa berkembang menjadi perasaan iri atau rendah diri yang mengganggu hubungan antar-saudara. Anak-anak butuh pengakuan bahwa mereka unik dan berbeda.
Ketika seseorang bisa menemukan dan menerima jati dirinya sendiri, maka hubungan dengan saudara juga akan lebih sehat dan tidak penuh persaingan atau perasaan tertekan.
7. Trauma yang Dialami Bersama
Pengalaman traumatis seperti kehilangan anggota keluarga, perceraian, atau situasi sulit lainnya bisa menyatukan atau justru memisahkan saudara kandung.
Setiap orang memproses trauma dengan cara yang berbeda, dan jika tidak dibicarakan atau disembuhkan secara bersama, maka ini bisa mengakibatkan salah paham, jarak emosional, bahkan konflik.
Misalnya, saat terjadi peristiwa traumatis, satu saudara bisa merasa harus jadi lebih kuat, sementara yang lain justru merasa hancur dan menarik diri. Jika tidak saling mengerti, hubungan bisa menjadi dingin dan renggang. (*)