JawaPos.com - Kita semua tahu bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian dari cerita. Namun terkadang kita mudah melupakannya. Beberapa orang tampak begitu bahagia di dunia maya, selalu tersenyum, selalu mengunggah tentang kehidupan mereka yang menakjubkan.
Namun di balik layar, segala sesuatunya tidak selalu sesempurna yang terlihat. Berjuang dalam diam lebih umum daripada yang kita kira. Dan sering kali, ada tanda-tanda halus yang tersembunyi dalam cara seseorang menampilkan dirinya secara daring.
Dengan memperhatikan perilaku ini, kita dapat belajar melihat lebih dari sekadar permukaan, dan bahkan mungkin menunjukkan sedikit lebih banyak kebaikan dan pengertian kepada mereka yang sangat membutuhkannya.
Dilansir JawaPos.com dari laman Hack Spirit pada Kamis (27/3), berikut delapan perilaku orang yang tampak bahagia di dunia maya tetapi sebenarnya sedang mengalami kesulitan di dunia nyata.
1. Mereka memposting konten yang terlalu positif atau inspiratif
Kita semua menyukai kutipan motivasi yang bagus atau kisah hidup yang bahagia. Namun terkadang, ketika seseorang terus-menerus mengunggah tentang betapa hebatnya segala sesuatu, hal itu dapat menjadi cara untuk menutupi kesulitan mereka.
Orang yang benar-benar bahagia tidak selalu merasa perlu membuktikannya. Namun, mereka yang sedang berjuang mungkin menggunakan postingan yang terlalu positif sebagai cara untuk meyakinkan diri sendiri (dan orang lain), bahwa semuanya baik-baik saja.
Bukan berarti bersikap positif itu buruk. Namun, jika seseorang hanya berbagi hal-hal baik dan tidak pernah mengakui kesulitannya, mungkin ada baiknya kita memeriksanya. Terkadang, orang-orang yang terlihat paling bahagia secara daring adalah orang-orang yang merasa paling tersesat dalam kehidupan nyata.
2. Mereka selalu online namun jarang terlibat secara nyata
Beberapa orang punya kebiasaan untuk selalu online, selalu memposting, selalu menggulir layar. Di permukaan, mereka tampak sangat aktif di media sosial. Namun pada kenyataannya, mereka berjuang dan menggunakannya sebagai pelarian.
Mereka menyukai dan mengomentari postingan, tetapi tidak akan benar-benar terlibat dalam percakapan yang mendalam. Mereka menghindari membicarakan tentang apa yang sebenarnya ia rasakan dan malah mengalihkan perhatian dengan terus-menerus menyegarkan feed.
Sebenarnya, terus-terusan online tidak membuat mereka merasa lebih terhubung, malah membuatnya merasa lebih kesepian. Orang-orang yang tampak bahagia di dunia maya tetapi sedang berjuang di dunia nyata sering melakukan hal yang sama. Mereka selalu ada, tetapi tidak pernah benar-benar hadir.
3. Mereka dengan hati-hati mengatur postingan mereka agar terlihat sempurna
Beberapa orang tidak hanya mengunggah foto di media sosial, mereka menciptakan citra. Setiap foto diedit, setiap teks ditulis dengan cermat, dan setiap momen yang dibagikan merupakan cuplikan momen terbaik dalam hidup mereka.
Penelitian telah menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan orang untuk mengedit dan mengatur postingan mereka, semakin besar kemungkinan mereka merasa terputus dari jati diri mereka yang sebenarnya.
Tekanan untuk tampil sempurna secara daring sebenarnya dapat membuat orang merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri, menciptakan siklus di mana mereka mencari validasi melalui suka dan komentar sambil menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya.
Wajar saja jika kita ingin menampilkan sisi terbaik diri kita, tetapi jika feed seseorang terlihat terlalu sempurna, itu mungkin merupakan tanda bahwa mereka menggunakan media sosial untuk menutupi perjuangan yang lebih dalam.
4. Mereka terlalu sering memposting tentang hubungan mereka
Orang-orang yang sedang berjuang dalam kehidupan pribadinya mungkin akan mengimbanginya dengan memamerkan hubungan mereka secara daring, dengan mengunggah pernyataan cinta yang muluk-muluk, swafoto pasangan yang tak terhitung jumlahnya, atau cerita yang dilebih-lebihkan tentang betapa sempurnanya segala sesuatu.
Dalam beberapa kasus, ini bisa menjadi cara untuk meyakinkan diri sendiri (dan orang lain) bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, koneksi sejati bukanlah tentang membuktikan sesuatu kepada dunia, melainkan tentang apa yang terjadi secara offline, jauh dari like dan komentar.
5. Mereka bercanda tentang rasa sakit mereka
Terkadang, orang yang paling membuat kita tertawa adalah orang yang paling terluka. Humor dapat menjadi mekanisme penanggulangan, cara untuk menutupi rasa sakit, mengalihkan pembicaraan serius, atau membuat kesulitan terasa lebih tertahankan.
Itulah sebabnya banyak orang mengubah kesulitan mereka menjadi lelucon, dengan harapan bahwa jika mereka menertawakannya, mungkin itu tidak akan terlalu menyakitkan. Namun, rasa sakit tidak hilang hanya karena dibungkus sebagai lelucon.
Dan sering kali, di balik sarkasme dan postingan yang lucu, tersembunyi emosi yang belum sepenuhnya diungkapkan. Jika seseorang terus-menerus bercanda tentang kesulitannya, mungkin itu cara mereka untuk mengulurkan bantuan tanpa benar-benar mengatakan bahwa mereka butuh bantuan.
6. Mereka menghilang beberapa saat, lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa
Ada kalanya media sosial terasa terlalu membebani, jadi menjauh tampaknya menjadi satu-satunya pilihan. Notifikasi menumpuk, tekanan untuk terlibat menjadi terlalu besar, dan tiba-tiba, menghilang terasa lebih mudah daripada menjelaskan.
Kemudian, setelah berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa kabar, ada kabar yang kembali, mungkin dengan postingan yang santai, mungkin dengan sesuatu yang ringan, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tidak ada yang menyebutkan tentang ketidakhadiran, tidak ada penjelasan, hanya harapan yang tenang bahwa tidak ada yang menyadari adanya kesenjangan. Namun kenyataannya, hilangnya seseorang sering kali memiliki arti tertentu.
Hal ini dapat menandakan kelelahan, kejenuhan emosional, atau sekadar membutuhkan ruang untuk menangani berbagai hal secara pribadi. Dan meskipun tidak apa-apa untuk beristirahat, ketika seseorang terus menghilang dan kembali tanpa kabar, itu mungkin merupakan tanda bahwa mereka lebih berjuang daripada yang mereka akui.
7. Mereka mencari validasi melalui like dan komentar
Setiap orang senang mendapatkan sedikit pengakuan, tetapi bagi sebagian orang, persetujuan media sosial menjadi lebih dari sekadar peningkatan kepercayaan diri, tetapi menjadi suatu kebutuhan.
Orang-orang yang sedang berjuang di dunia nyata mungkin mengandalkan like, komentar, dan share untuk merasa dihargai. Mereka mungkin akan memposting lebih sering, mencari dukungan, atau bahkan menghapus postingan yang tidak mendapatkan cukup perhatian.
Rasa harga diri mereka mulai bergantung pada bagaimana orang lain bereaksi secara daring. Masalahnya, validasi dari media sosial itu cepat berlalu. Tidak ada jumlah like yang dapat mengisi kekosongan yang muncul karena perasaan tersesat atau tidak terlihat dalam kehidupan nyata.
Dan ketika seseorang tampak terlalu terpaku pada persetujuan daring, itu mungkin merupakan tanda bahwa mereka mencari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak dapat benar-benar diberikan oleh media sosial.
8. Mereka selalu ada untuk orang lain tapi tidak pernah membuka diri
Beberapa orang yang paling baik dan paling mendukung di dunia maya adalah mereka yang paling sedang berjuang. Mereka selalu menjadi orang pertama yang mengomentari sesuatu yang memberi semangat, menanyakan kabar orang lain, memberi saran atau bersedia mendengarkan.
Namun, jika menyangkut masalah mereka sendiri, mereka lebih banyak diam. Mereka tidak ingin membebani siapa pun, atau mungkin mereka merasa tidak ada yang akan benar-benar mengerti. Jadi mereka terus memberi, berharap bahwa dengan membantu orang lain, mereka dapat mengabaikan beban yang mereka pikul sendiri.