← Beranda
5 Kebiasaan Sehari-hari yang Mengubah Otak Anda Menjadi Gembira, Salah Satunya Mulailah hari dengan Rasa Syukur
KuswandiKamis, 20 Maret 2025 | 21.46 WIB
Ilustrasi: Orang yang mempraktikan rasa bersyukur saat memulai harinya.( Freepik)

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa beberapa orang tampaknya memancarkan kegembiraan tidak peduli apa yang dilemparkan kehidupan kepada mereka? Bukannya mereka beruntung atau tidak menyadari stres.

Lebih sering daripada tidak, mereka telah mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang memperkuat jalur saraf positif-pada dasarnya melatih otak mereka untuk mengalami lebih banyak kebahagiaan.

Kebiasaan ini bukan tentang mengejar ketinggian yang cepat berlalu. Itu tentang tindakan kecil dan konsisten yang membangun ketahanan mental dan emosional yang tahan lama.

Di bawah ini, saya menyelami 5 strategi yang didukung penelitian yang dapat membantu mengarahkan kembali otak Anda menuju kegembiraan yang tulus dan berkelanjutan.

1. Mulailah hari dengan rasa syukur

Memulai pagi dengan latihan syukur sederhana mengirimkan sinyal ke otak Anda: "Kami fokus pada hal-hal yang baik.” Ini bisa semudah menuliskan tiga hal yang Anda syukuri, apakah itu teman yang mendukung, tempat tidur yang nyaman, atau secangkir kopi yang sempurna.

Dari perspektif ilmu saraf, berulang kali meminta perhatian pada aspek positif kehidupan dapat memperkuat sirkuit saraf yang terkait dengan optimisme. Anda mengatur pikiran Anda untuk memperhatikan lebih banyak hal baik sepanjang hari. Seiring waktu, ini menjadi siklus yang menguatkan diri, otak Anda belajar mencari lebih banyak alasan untuk merasa bersyukur.

2. Gerakkan tubuh Anda meski sedikit

Aktivitas fisik bukan hanya tentang membentuk otot atau membakar kalori. Ini melepaskan endorfin, yang membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi hormon stres. Namun, Anda tidak perlu berolahraga selama satu jam yang intens-aktivitas sederhana seperti jalan cepat atau peregangan ringan dapat membuat perbedaan.

Saya telah menemukan bahwa bahkan pada hari-hari ketika saya dibanjiri dengan proyek pengeditan (ya, di sini, di GEE kita bisa menjadi sangat sibuk), berjalan kaki selama sepuluh menit sangat membantu untuk mengatur ulang suasana hati saya. Ini seperti menekan tombol penyegaran mental-pikiran saya menjadi lebih jernih, dan saya tidak mudah tersinggung. 3.

3. Beri makan pikiran Anda dengan kepositifan

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana podcast, buku, atau akun media sosial tertentu dapat mengubah hari Anda dari bla menjadi lebih cerah?

Mengkonsumsi konten yang membangkitkan semangat secara teratur mendorong otak Anda ke arah pola berpikir yang lebih positif.

Pilih satu media yang membangkitkan semangat setiap hari. Ini bisa berupa ceramah singkat yang menginspirasi, bab dari buku motivasi, atau bahkan klip YouTube yang lucu. Seiring waktu, dosis mikro kepositifan ini menumpuk, memberikan pola pikir Anda dorongan yang halus namun kuat..

4. Latih tindakan kebaikan mikro

Melakukan perbuatan baik kecil dapat memicu "puncak pembantu" mini.” Baik itu membayar kopi seseorang, memegangi pintu untuk orang asing, atau mengirimkan teks penyemangat secara acak kepada seorang teman, tindakan ini mengalihkan fokus Anda dari kekhawatiran internal ke empati eksternal.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa altruisme menerangi pusat penghargaan yang sama di otak Anda seperti aktivitas menyenangkan seperti makan atau bersosialisasi. Tindakan kebaikan juga mengurangi hormon stres kortisol, yang membantu Anda merasa lebih tenang dan lebih puas.

Baca Juga: Ladies Wajib Tahu! 7 Tanda Diam-Diam Pria Mulai Kehilangan Ketertarikan pada Pasangannya, Menurut Psikolog

5. Tantang keyakinan yang membatasi

Sebagian besar kebahagiaan adalah membebaskan pikiran Anda dari narasi usang yang membuat Anda terjebak dalam kebiasaan. Saya dulu mengejek kursus pengembangan diri—menganggap semuanya tidak masuk akal.

Kemudian saya mencoba kelas master "Bebaskan Pikiran Anda" rudand Salah satu latihan membuat saya menyadari betapa banyak cerita lama yang saya pegang teguh, seperti "Saya tidak pandai menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan, "atau" Saya tidak akan pernah menjadi orang yang secara alami positif.” Menyadari keyakinan yang membatasi itu terasa seperti beban mental yang terangkat.

Dari sudut pandang psikologis, jika Anda mengidentifikasi dan membingkai ulang pikiran yang merugikan diri sendiri, Anda dapat secara fisik mengubah cara otak Anda memproses pengalaman sehari-hari. Jalur saraf yang pernah mendukung kenegatifan dapat melemah ketika Anda menggantinya dengan keyakinan yang lebih konstruktif. 6. Em

EDITOR: Kuswandi