JawaPos.com – Psikologi mengungkap bahwa cara seseorang diperlakukan remeh oleh orang lain sering kali dipengaruhi oleh kebiasaannya sendiri.
Tanpa disadari, beberapa kebiasaan justru membuat seseorang tampak lemah, remeh, kurang percaya diri, atau tidak dihormati.
Hal ini dapat menyebabkan orang lain meremehkan dan tidak menganggap serius pendapat maupun keberadaanmu.
Jika kamu ingin dihargai dan tidak lagi dianggap remeh, penting untuk mengenali kebiasaan yang harus segera ditinggalkan agar bisa membangun citra diri yang lebih kuat dan berwibawa.
Dilansir dari geediting.com pada Senin (10/3), diterangkan bahwa terdapat delapan kebiasaan yang harus ditinggalkan jika ingin tidak dianggap remeh oleh orang lain menurut psikologi.
1. Berhenti terus mengatakan “ya”
Pernahkah kamu mendengar istilah “Yes Man”? Ini merujuk pada seseorang yang selalu setuju dengan segala permintaan yang ditujukan pada mereka.
Ketika kamu terus-menerus mengangguk setuju, orang mulai melihatmu sebagai pribadi tanpa batasan personal.
Kamu menjadi pilihan mudah, seseorang yang bisa ditumpuki berbagai tugas tanpa kekhawatiran akan penolakan.
Penting untuk diingat bahwa ini bukan tentang menjadi orang yang suka membantah atau sulit, melainkan memahami bahwa mengatakan “tidak” adalah hal yang wajar ketika sesuatu tidak cocok untukmu.
Dengan menetapkan batasan, kamu menunjukkan bahwa waktu, perasaan, dan usahamu berharga. Dengan begitu, kamu membangun rasa hormat dan memastikan orang tidak meremehkanmu begitu saja.
2. Jangan terlalu banyak berkomitmen
Mungkin kamu termasuk orang yang sering berkomitmen berlebihan. Jika seseorang meminta bantuan, kamu langsung menyanggupi tanpa mempertimbangkan apakah kamu punya waktu atau energi untuk melakukannya.
Meski niatmu baik, tindakan ini justru membuat kamu diremehkan. Orang mulai mengharapkan kamu selalu ada, selalu siap membantu, terlepas dari kewajiban atau rencana pribadimu.
Suatu hari, kamu mungkin merasa kewalahan dengan tugas-tugas orang lain hingga nyaris tak punya waktu untuk diri sendiri.
Mulailah lebih selektif dengan tugas yang kamu setujui. Belajarlah menilai kapasitas dan menghargai waktu serta energimu sendiri. Ini tidak hanya mencegah kamu dari kelelahan berlebih, tetapi juga menunjukkan pada orang bahwa ketersediaanmu terbatas, sehingga mereka lebih menghargai kontribusimu.
3. Hargai kemampuan dirimu
Fenomena “sindrom impostor” adalah pola psikologis di mana individu meragukan keterampilan, bakat, atau prestasi mereka, merasa seperti penipu meski ada bukti kesuksesan.
Ketika kamu meremehkan nilai dirimu, secara tidak sadar kamu memberi izin pada orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Mungkin kamu berpikir sedang bersikap rendah hati, namun ini bisa membuat orang mengabaikan kontribusimu dan meremehkanmu. Sangat penting untuk mengakui keterampilan dan prestasimu.
Ini bukan berarti kamu harus menyombongkan diri, melainkan mengenali nilai yang kamu bawa dan memastikan orang lain juga melihatnya.
Ingat, ketika kamu menghargai dirimu sendiri, orang lain cenderung melakukan hal yang sama.
4. Jangan abaikan perawatan diri
Saat kamu selalu ada untuk orang lain, mudah untuk lupa ada untuk dirimu sendiri. Kamu mungkin melewatkan makan, kurang tidur, atau tidak melakukan aktivitas favoritmu karena terlalu sibuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Ini jalan cepat menuju diremehkan. Ketika kamu secara konsisten mendahulukan orang lain, mereka mulai mengharapkannya.
Kebutuhanmu sendiri menjadi sekunder, dan tanpa sadar, kamu menjadi tidak diprioritaskan dalam hidupmu sendiri.
Perawatan diri bukanlah sikap egois, melainkan suatu keharusan. Dengan merawat kebutuhanmu terlebih dahulu, kamu bisa memberi lebih banyak pada orang lain tanpa merasa terkuras atau kesal.
Mulailah memprioritaskan perawatan diri. Luangkan waktu untuk hal-hal yang memulihkanmu – buku bagus, mandi yang menenangkan, atau berjalan-jalan di taman.
Ketika orang melihat bahwa kamu menghargai kesejahteraanmu sendiri, mereka cenderung tidak meremehkanmu.
5. Jangan pendam perasaanmu
Kita semua pernah mengalaminya. Tersakiti atau kecewa oleh sesuatu yang dikatakan atau dilakukan seseorang, namun kita memilih menelan perasaan kita alih-alih mengungkapkannya.
Kita pikir itu lebih mudah, kurang konfrontatif. Tapi kenyataannya, itu hanya mendorong orang untuk terus memperlakukan kita dengan cara yang sama.
Diam sering disalahartikan sebagai penerimaan. Ketika kamu tidak menyuarakan perasaanmu, secara efektif kamu memberi tahu orang lain bahwa tindakan mereka dapat diterima, meskipun menyakitimu.
Ini bisa membuat mereka meremehkanmu karena mereka berasumsi kamu akan selalu baik-baik saja dengan apapun yang mereka lakukan.
Penting untuk memahami bahwa perasaanmu valid dan layak didengar. Mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya, tapi mengungkapkan emosimu dengan jujur bisa drastis mengubah cara orang memperlakukanmu.
6. Hindari terlalu banyak meminta maaf
Mungkin kamu termasuk orang yang meminta maaf untuk segalanya. Entah itu sesuatu yang kamu lakukan, sesuatu yang tidak kamu lakukan, atau bahkan sesuatu yang sama sekali di luar kendalimu – kamu selalu menjadi orang pertama yang mengatakan maaf.
Seolah-olah kamu merasa perlu meminta maaf atas keberadaanmu. Seiring waktu, dengan terus-menerus meminta maaf, kamu mengurangi harga dirimu sendiri.
Orang mulai melihatmu sebagai seseorang yang selalu salah, dan akibatnya, mereka meremehkanmu.
Mengatakan maaf ketika diperlukan adalah bagian penting dari menjaga hubungan yang sehat.
Tapi terus-menerus meminta maaf saat kamu tidak melakukan kesalahan mengirimkan pesan bahwa kamu bersalah, bahkan ketika kamu tidak bersalah.
Berdirilah pada pendirianmu ketika diperlukan dan hanya minta maaf ketika benar-benar diperlukan. Ini perubahan kecil yang bisa membuat perbedaan besar dalam bagaimana orang memandang dan menghargaimu.
7. Hindari menghindari konfrontasi
Banyak dari kita cenderung menghindari konfrontasi seperti wabah. Kita lebih memilih untuk menggigit lidah dan membiarkan hal-hal berlalu daripada berisiko terjadi pertengkaran atau konflik.
Tapi tahukah kamu ini sebenarnya bisa mendorong orang untuk meremehkanmu? Ketika kamu menghindari konfrontasi, pada dasarnya kamu membiarkan orang lain memperlakukanmu sesuka hati.
Kamu memberi mereka kesempatan gratis untuk tidak menghormati atau meremehkanmu tanpa menghadapi konsekuensi apapun.
Penting untuk diingat bahwa konfrontasi tidak selalu buruk. Sebenarnya, itu bisa menjadi alat yang ampuh untuk menetapkan batasan dan menuntut rasa hormat.
Semua tergantung pada bagaimana kamu mendekatinya – dengan ketenangan, kejelasan, dan kepercayaan diri.
Jadi, jangan ragu untuk membela dirimu sendiri ketika diperlukan. Mungkin terasa tidak nyaman, tapi ini langkah penting menuju memastikan bahwa orang tidak meremehkanmu.
8. Tetapkan batasan yang jelas
Inti dari semuanya, diremehkan sering berasal dari kurangnya batasan. Ketika kamu tidak mengkomunikasikan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak, orang bisa dengan mudah melampaui batas dan memanfaatkan sifat baikmu.
Menetapkan batasan bukan tentang bersikap jahat atau egois. Ini tentang menghormati dirimu sendiri cukup untuk mengungkapkan kebutuhan dan harapanmu kepada orang lain.
Ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa meskipun kamu bersedia membantu dan mendukung, ada batasan untuk apa yang bisa dan akan kamu lakukan.
Tanpa batasan, orang mudah berasumsi waktu, energi, dan kebaikanmu tidak terbatas – dan di situlah mereka mulai meremehkanmu.
Jadi, jika ada satu kebiasaan yang harus kamu tinggalkan, biarkan itu menjadi kurangnya batasan.
Rangkullah kekuatan mengkomunikasikan batasanmu. Ini cara terbaik untuk memastikan bahwa nilaimu diakui dan dihormati.