JawaPos.com – Apa kamu lebih nyaman menjadi pemimpin yang vokal? karyawan setia? penyendiri? atau justru sosok unik yang suka beda sendiri? Pertanyaan ini populer di media sosial dengan istilah alpha, beta, omega, dan sigma.
Meski bukan bagian dari psikologi ilmiah seperti Big Five Personality Traits, umumnya orang menggunakan istilah ini sebagai cara cepat memahami gaya interaksi sosial.
Artikel ini akan mengulas asal-usul tipe kepribadian tersebut, ciri-ciri masing-masing tipe, serta bagaimana kamu bisa mengenali kecenderungan dirimu.
Dari Mana Asal Istilah Alpha, Beta, Omega, dan Sigma?
Dilansir dari situs Scientific American, konsep ‘alpha’ awalnya populer dari pengamatan serigala pada tahun 1940-an, di mana pejantan dominan dianggap sebagai pemimpin kawanan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kawanan serigala liar sebenarnya lebih menyerupai keluarga yang dipimpin induk, bukan kerajaan dengan satu ‘raja’.
Di dunia primata, penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa mayoritas spesies tidak menunjukkan dominasi jantan yang mutlak. Sebaliknya, struktur sosial memiliki peran masing-masing.
Sementara istilah ‘sigma’ baru muncul sekitar 2010 lewat budaya internet. Sigma digambarkan sebagai sosok independen alias ‘lone wolf’ yang tidak butuh validasi kelompok.
Verywell Mind juga menegaskan istilah ‘sigma male’ lebih merupakan arketipe budaya populer dan bukan menjadi kategori psikologi resmi.
Ciri-Ciri Populer Tiap Tipe Kepribadian
Washington Post menyebut alpha dipandang karismatik, percaya diri, dan cenderung memimpin.
Biasanya para ‘alpha’ vokal, suka mengambil keputusan, dan nyaman berada di pusat perhatian.
Baca Juga: Punya IQ Tinggi Belum Tentu Produktif, Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Namun, sisi negatifnya bisa tampak terlalu dominan atau mengontrol jika tidak dibarengi empati.
Kemudian, tipe kepribadian Beta sering dianggap suportif, kooperatif, dan pendengar yang baik. Para ‘beta’ lebih memilih bekerja sama daripada bersaing.
Kekurangannya, tipe ‘beta’ kadang kesulitan menyatakan pendapat atau menetapkan batas.
Sementara tipe kepribadian Omega dikenal sebagai sosok yang tidak mengikuti hirarki sosial formal.
Para pribadi ‘omega’ sering terlalu fokus pada hobi, komunitas kecil, atau jalur nonkompetitif.
Omega kerap dipandang negatif sebagai ‘pecundang’, padahal bisa saja itu pilihan hidup yang berbeda.
Lalu, kepribadian sigma digambarkan sebagai sosok independen, misterius, dan tak butuh pengakuan publik.
Para ‘sigma’ lebih memilih bekerja sendiri, punya cara pandang unik, dan acap kali berjalan ‘di luar sistem’. Namun, akan berbahaya bila ‘sigma’ menjadi isolasi sosial.
Bagaimana Cara Mengetahui Tipe Dirimu?
Verywell Mind menjelaskan refleksi sederhana kepribadian dengan menjawab pertanyaan berikut:
-
Apakah kamu merasa lebih nyaman mengambil keputusan untuk orang lain? (Alpha)
-
Apakah kamu lebih suka mendukung dan menghindari konflik? (Beta)
-
Apakah kamu merasa hidupmu lebih fokus pada minat pribadi daripada status sosial? (Omega)
-
Apakah kamu nyaman bekerja sendiri dan tidak peduli pada lingkungan sekitar? (Sigma)
Jawabanmu mungkin tidak jatuh pada satu kotak saja. Kebanyakan orang juga bisa ‘alpha’ di lingkungan kerja namun juga ‘beta’ di keluarga.
Haruskah Kita Serius dengan Label Ini?
Psikologi modern lebih sering menggunakan model Big Five Personality Traits seperti Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, dan Neuroticism.
Model ini didukung banyak penelitian lintas budaya. Dibanding label alpha dan sigma, Big Five memberikan gambaran lebih valid untuk mengenali diri.
Namun, menggunakan istilah populer seperti alpha atau sigma tetap bisa bermanfaat sebagai alat refleksi ringan.
Selama kamu tidak menjadikannya identitas kaku, kategori ini bisa membantu memahami gaya interaksi sehari-hari.
Tips Mengembangkan Diri Sesuai Kecenderungan Tipe
Washington Post menjelaskan, jika kamu cenderung Alpha, cobalah belajar menyeimbangkan kepemimpinan dengan empati.
Dengarkan tim sebelum mengambil keputusan, karena pendapat tim juga berharga.
Jika kamu cenderung Beta, cobalah melatih asertivitas. Jujur pada diri sendiri itu penting, sampaikan apa kebutuhanmu, dan apa yang tidak kamu setujui.
Jika kamu cenderung Omega, cobalah menemukan komunitas dengan minat yang sama agar tidak terisolasi.
Keunikanmu adalah sebuah kelebihan yang tidak semua orang punya.
Jika kamu cenderung Sigma, cobalah menjaga keseimbangan antara kemandirian dan keterhubungan sosial.
Mandiri itu baik, tapi manusia tetap makhluk sosial. Tidak semua hal perlu dilakukan sendirian. Melibatkan orang lain juga seru.
Mengetahui apakah kamu termasuk alpha, beta, omega, atau sigma bisa membantu memahami pola interaksimu di masyarakat.
Tetapi, label ini bukan ilmu pasti, melainkan metafora populer. Kalau ingin analisis yang lebih valid, coba gunakan tes berbasis Big Five Personality Traits.
Namun, sebagai refleksi ringan, memahami kepribadian ala alpha-sigma bisa jadi cara menyenangkan untuk mengenal diri dan memperbaiki relasi sosial.