← Beranda

8 Kebiasaan yang Membantu Orang Malas Berubah Jadi Lebih Disiplin; Dari Kaum Rebahan Jadi Pekerja Keras!

Vindi Rayinda AyudyaMinggu, 9 Maret 2025 | 17.48 WIB
Ilustrasi orang yang berhasil berubah dari malas menjadi sangat disiplin. (Freepik)

JawaPos.Com - Pernahkah kamu melihat seseorang yang dulunya terkenal malas dan suka menunda-nunda, tetapi tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang sangat disiplin dan produktif?

Transformasi semacam ini mungkin terlihat seperti keajaiban, tetapi kenyataannya, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Orang-orang yang dulunya malas tetapi akhirnya menjadi sangat disiplin tidak terlahir dengan motivasi super atau kemampuan luar biasa.

Mereka hanya mulai mengadopsi kebiasaan kecil yang perlahan mengubah cara mereka berpikir dan bertindak.

Jika kamu merasa kesulitan untuk menjadi disiplin, bukan berarti kamu harus langsung menjadi orang yang produktif sepanjang waktu.

Sebaliknya, kamu bisa mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang telah membantu banyak orang keluar dari kemalasan dan menjadi lebih teratur.

Dilansir dari Geediting, inilah delapan kebiasaan sederhana yang biasanya dipraktikkan oleh orang-orang yang berhasil berubah dari malas menjadi sangat disiplin.

1) Memulai dari Hal Kecil

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Seseorang yang dulunya malas dan kini lebih disiplin biasanya memulai perjalanan mereka dengan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.

Misalnya, mereka mulai dengan bangun 10 menit lebih awal dari biasanya, menyelesaikan satu tugas sebelum bersantai, atau sekadar merapikan tempat tidur setiap pagi.

Hal-hal kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi ketika dilakukan secara konsisten, mereka mulai membentuk pola pikir disiplin yang lebih kuat.

Ketika seseorang berhasil melakukan hal-hal kecil ini tanpa menunda, kepercayaan diri mereka bertambah.

Mereka mulai menyadari bahwa mereka mampu mengendalikan diri dan membentuk kebiasaan yang lebih baik. Dari sinilah perubahan besar mulai terjadi.

2) Menentukan Prioritas dengan Jelas

Banyak orang terjebak dalam kemalasan karena mereka merasa kewalahan dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan.

Padahal, tidak semua tugas memiliki tingkat kepentingan yang sama. Orang yang berhasil meninggalkan kemalasan memahami pentingnya menentukan prioritas dengan jelas.

Mereka menggunakan metode seperti Matriks Eisenhower, yang membagi tugas ke dalam empat kategori:

Penting dan Mendesak: Harus segera dilakukan.

Penting tapi Tidak Mendesak: Harus direncanakan dan dijadwalkan.

Tidak Penting tapi Mendesak: Bisa didelegasikan.

Tidak Penting dan Tidak Mendesak: Sebaiknya dihindari atau diminimalkan.

Dengan memahami mana tugas yang benar-benar penting, mereka bisa lebih fokus dan tidak merasa terbebani oleh pekerjaan yang tidak terlalu berdampak.

3) Mengandalkan Rutinitas yang Teratur

Mengandalkan motivasi saja tidak cukup untuk menjadi disiplin. Motivasi bisa naik turun, tetapi rutinitas yang baik akan membantu seseorang tetap produktif meskipun sedang tidak bersemangat.

Orang yang dulunya malas tetapi kini lebih disiplin menciptakan rutinitas yang memudahkan mereka untuk tetap produktif tanpa harus berpikir terlalu banyak.

Misalnya, mereka menetapkan jam tetap untuk bangun, bekerja, berolahraga, dan beristirahat.

Dengan adanya rutinitas, mereka tidak perlu terus-menerus memaksakan diri untuk produktif.

Aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan akan terasa lebih alami, sehingga mereka bisa tetap menjalankan tugas mereka tanpa merasa terbebani.

4) Berani Keluar dari Zona Nyaman

Kemalasan sering kali berasal dari keengganan untuk menghadapi ketidaknyamanan.

Namun, mereka yang berhasil mengatasi kemalasan menyadari bahwa pertumbuhan hanya bisa terjadi ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman.

Misalnya, seseorang yang tidak terbiasa berbicara di depan umum mungkin merasa takut dan memilih untuk menghindari situasi tersebut.

Namun, jika mereka ingin berkembang, mereka harus berlatih dan menghadapi rasa takut itu.

Setiap kali mereka menghadapi tantangan baru, mereka mengingatkan diri sendiri bahwa ketidaknyamanan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Mereka belajar untuk menghadapi ketidaknyamanan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mereka menjadi lebih tangguh.

5) Memperlakukan Diri dengan Baik

Banyak orang malas bukan karena mereka tidak ingin berubah, tetapi karena mereka terlalu keras pada diri sendiri.

Mereka takut gagal, sehingga lebih memilih untuk tidak mencoba sama sekali.

Orang yang berhasil keluar dari kemalasan belajar untuk berbaik hati pada diri mereka sendiri.

Mereka memahami bahwa setiap orang punya keterbatasan, dan bukannya menyalahkan diri sendiri saat gagal, mereka justru mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.

Dengan sikap ini, mereka lebih mudah untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Mereka tidak membiarkan satu kesalahan kecil menghancurkan semua usaha yang sudah mereka lakukan sebelumnya.

6) Menyadari Betapa Berharganya Waktu

Waktu adalah sumber daya yang paling berharga karena tidak bisa dikembalikan.

Orang yang dulunya malas tetapi sekarang lebih disiplin mulai menyadari betapa pentingnya waktu dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan bijak.

Mereka mulai mengurangi kebiasaan menunda-nunda dan lebih fokus pada hal-hal yang memberi manfaat jangka panjang.

Mereka juga mulai membatasi waktu untuk hiburan yang tidak produktif, seperti menonton TV berjam-jam atau terlalu lama bermain media sosial.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan waktu mereka untuk belajar keterampilan baru, membaca buku, atau berolahraga. Aktivitas yang memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

7) Menetapkan Tujuan yang Jelas dan Realistis

Orang yang bertransformasi dari pemalas menjadi disiplin tidak hanya bekerja tanpa arah.

Mereka menetapkan tujuan yang jelas agar mereka memiliki motivasi yang kuat untuk terus melangkah.

Mereka memastikan bahwa tujuan mereka:

Spesifik: Tidak hanya "ingin lebih produktif", tetapi "menulis 500 kata setiap hari".

Terukur: Bisa dihitung dan dilihat perkembangannya.

Dapat Dicapai: Tidak terlalu muluk sehingga tidak mudah putus asa.

Relevan: Sesuai dengan visi hidup mereka.

Berbatas Waktu: Ada tenggat waktu yang jelas.

Dengan memiliki target yang spesifik dan realistis, mereka lebih termotivasi untuk terus maju.

8) Tidak Mudah Menyerah

Perubahan tidak selalu berjalan mulus. Ada saatnya seseorang kembali merasa malas atau tidak produktif.

Namun, mereka yang berhasil mengatasi kemalasan memahami bahwa yang terpenting adalah tidak menyerah.

Mereka menerima bahwa ada hari-hari buruk, tetapi mereka tidak membiarkan itu menghancurkan semua usaha mereka.

Jika suatu hari mereka kembali ke kebiasaan lama, mereka segera kembali ke jalur yang benar keesokan harinya.

Mereka tidak terjebak dalam rasa bersalah, tetapi fokus untuk memperbaiki diri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho