JawaPos.com - Menindaklanjuti penembakan yang menewaskan 3 orang pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya pada Rabu (9/9), Komando Operasi (Koops) TNI Habema mengerahkan personel untuk mengejar para pelaku.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna menyatakan bahwa peristiwa itu menjadi atensi serius dari jajaran TNI. Mengingat para korban adalah warga sipil yang tengah bertugas memberikan pelayanan di Papua.
Menurut Wirya, pihaknya bersama aparat terkait sudah melaksanakan pengamanan wilayah, pendalaman kronologi, serta pengejaran terhadap para pelaku untuk memastikan proses penegakan hukum dapat berjalan sampai tuntas.
Baca Juga: Alfan Suaib Masih Cedera, Tavares Bidik Kemenangan Persebaya Surabaya atas PSIM Yogyakarta
”Kami prihatin atas kejadian yang menimpa 3 petugas pemerintah. Mereka hadir untuk melayani masyarakat dan seharusnya dapat menjalankan tugas dengan aman,” kata dia pada Sabtu (12/9).
Wirya memastikan, Koops TNI Habema akan terus berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait untuk mengejar para pelaku. Pihaknya juga menjamin keamanan masyarakat di Jayawijaya.
Seluruh langkah pengamanan, kata Wirya, dilaksanakan secara selektif, terukur, profesional. Tentu saja sesuai dengan ketentuan hukum dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat sipil.
”Koops TNI Habema mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga keamanan lingkungan,” imbuhnya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Pisces Besok Minggu, 13 September 2026: Percaya Diri Hadapi Masa Sulit
Perwira menengah TNI AD dengan 2 kembang di pundak itu menekankan, keamanan sebagai ruang yang dibutuhkan oleh semua pihak untuk beraktivitas membangun Papua.
”Itulah kehidupan yang harus kita jaga bersama menuju Papua yang aman dan damai,” tegasnya.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memastikan bahwa korban penembakan di Jayawijaya pada bukan intelijen tentara. Ketiga korban yang meninggal dunia merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Menurut Maruli, OPM memang kerap melempar isu. Bahwa korban penembakan adalah tentara atau intelijen. Namun demikian, orang nomor satu di TNI AD itu memastikan bahwa korban penembakan merupakan warga sipil yang sehari-hari bertugas di sektor pertanian.
“Kan rekan-rekan media tahu, itu memang pekerja, orang dari NTT, orang masih muda ingin membantu di daerah (Papua),” ucap Maruli saat ditemui di sela Munas Pengurus Besar (PB) Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) XX di Jakarta pada Jumat (11/9).
Maruli menyatakan, OPM memang kerap melempar isu yang tidak benar. Utamanya saat ketahuan menyerang warga sipil hingga meninggal dunia.
Baca Juga: Bagasi Segede Ini Bisa Muat 2 Helm! Ini Motor Matic dengan Ruang Penyimpanan Terluas
“Sekarang nyerang (korban) yang sipil di situ, semua dianggap intel. Itu berulang-ulang bicaranya seperti itu,” sesalnya.
Perwira tinggi (pati) TNI AD yang pernah bertugas sebagai panglima Kostrad itu pun mempersilakan publik untuk cek langsung latar belakang para korban. Di antara 3 korban itu, seorang anak muda yang baru mulai bekerja namun harus kehilangan nyawa akibat ulah OPM.
“Silahkan dicek saja secara umum. Apakah betul orang-orang itu intel-intel kami. Kan (mereka) pekerja-pekerja pertanian itu. Ada umur masih 24 tahun baru mulai kerja di sana,” tegasnya.