JawaPos.com - Usai mendampingi kliennya Febrie Adriansyah, Febri Diansyah mengungkap duduk perkara atas kasus yang menjerat mantan jaksa agung muda bidang tindak pidana khusus (jampidsus) tersebut. Dia membeber beberapa persoalan hukum yang kini tengah dihadapi.
Mantan juru bicara (jubir) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menyampaikan bahwa di awal proses hukum berjalan, terbit 3 surat perintah penyidikan (sprindik) dari Polri. Semua kasus itu lantas diserahkan oleh pihak kepolisian kepada Kejaksaan Agung (Kejagung).
”Dari 3 sprindik tersebut, ada 1 penetapan tersangka. Jadi, ada 4 dokumen yang dari Polri ke Kejaksaan Agung, 3 sprindik umum dan 1 surat penetapan tersangka,” ucap Febri pada Jumat tengah malam (24/7).
Dalam 3 sprindik dari Polri, Febrie sudah menjadi tersangka pada kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait dengan proses hukum ASABRI. Setelah menerima ketiga sprindik itu, Kejagung menerbitkan 3 sprindik umum dan 1 sprindik baru terkait dengan TPPU. Sehingga total ada 4 sprindik.
Baca Juga: KPK: Tidak Ada Kriminalisasi Terkait Penahanan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
”Kejaksaan Agung menerbitkan 3 sprindik umum, dan tadi ada tambahan 1 penetapan tersangka untuk dugaan atau indikasi TPPU,” terang dia.
Dalam penanganan kasus-kasus yang menjerat kliennya, Febri berharap fakta-fakta dipilah secara jernih. Menurut dia, Febrie menyadari secara penuh posisinya bukan lagi jampidsus di Kejagung. Sehingga sebagai warga negara yang baik, dia berkomitmen menjalani proses hukum sesuai aturan dan ketentuan.
”Ada satu poin yang juga tadi disampaikan bahwa Pak FA (Febrie) sangat berharap, karena beliau kan tidak lagi menjadi jampidsus, beliau adalah salah satu warga negara seperti yang lainnya, Pak FA sangat berharap fakta-fakta bisa dipilah secara jernih dan juga proses hukum ini berjalan secara adil,” imbuhnya.
Kepada awak media, Febri meminta agar tuduhan yang dialamatkan oleh penyidik kepada kliennya dalam kasus tersebut disampaikan secara terang. Di sisi lain, dia memastikan kliennya menjalani proses hukum secara kooperatif seperti yang berlangsung kemarin.
”Pak FA sudah menjalaninya secara kooperatif, datang dan menjawab semua pertanyaan, dan bahkan juga dilakukan proses penahanan. Tentu kami sangat berharap semua pihak bisa betul-betul menyaring dan mengawal proses ini agar berjalan secara benar, secara hukum,” harapnya.
Khusus pemeriksaan kemarin, Febrie dipanggil oleh Kejagung atas sprindik bernomor Print-03/F.2/Fd.2/07/2026. Sprindik itu terbit pada 20 Juli 2026 dan dikhususkan pada penanganan kasus dugaan TPPU. Dia datang sebagai saksi dan selesai menjalani pemeriksaan sudah tersangka dan menjadi tahanan.
Menurut Febrie, saat dirinya bertugas di Gedung Bundar, dirinya tidak pernah melakukan mekanisme penahanan seperti itu. Dia menyatakan bahwa semua alat bukti harus dikonfirmasi dan diperdalam terlebih dulu. Selain itu, perlu ekspose berulang kali sampai penyidik benar-benar yakin.
”Baru kami yakin bahwa ini tidak dzalim dikatakan tersangka dan barulah kami melakukan penahanan, tetapi ini sudah menjadi keputusan pimpinan, saya siap menghadapinya dan saya merasa memang ini kriminalisasi,” ucap Febrie.
Baca Juga: Ditahan di Rutan KPK, Kejagung Berdalih Agar Febrie Nyaman Karena Pernah Berjasa Tangani Kasus Besar
Proses yang dijalani sidang siang sampai tengah malam kemarin, kata Febrie, tidak ubahnya dikriminalisasi. Sebab, dia datang sebagai saksi pada siang hari, namun pada pukul 19.00 WIB, status hukumnya berubah menjadi tersangka dan dipastikan bakal langsung ditahan. Padahal dia menilai penyidik belum bisa melakukan itu.
”Saya merasa memang ini kriminalisasi,” ucap Febrie kepada awak media saat dibawa masuk ke dalam mobil tahanan.