← Beranda
Rupiah 17 Juli Diprediksi Melemah ke Rentang Rp17.986 - Rp18.030
Djati WaluyoJumat, 17 Juli 2026 | 14.36 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Jumat (17/7), setelah sebelummya ditutup menguat 82 poin menjadi Rp 17.986 per dollar AS pada perdagangan Kamis (16/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (17/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.986-Rp 18.0300," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (17/7).

Ibrahim mengatakan dari sentimen eksternal, pasar mencermati turunnya indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat sebesar 0,3 persen pada Juni, di luar ekspektasi pasar. Data tersebut memperkuat indikasi meredanya tekanan inflasi dan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Meski demikian, sentimen positif itu tertahan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik selama empat sesi berturut-turut.

“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kenaikan biaya energi akan kembali mendorong inflasi dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed,” ujarnya.

Ia menyebut, sejumlah pejabat Federal Reserve juga menegaskan komitmennya menjaga inflasi menuju target 2 persen serta tetap membuka peluang penyesuaian suku bunga apabila tekanan harga kembali meningkat.

Sementara dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah fiskal dan kebijakan pasar untuk menjaga inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak (volatile food) dan kenaikan biaya produksi.

Baca Juga: Pengamat Prediksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS akan Kembali Melemah pada Perdagangan Hari Ini

Di sisi lain, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

“Kepercayaan terhadap independensi BI juga kembali diperkuat setelah S&P Global Ratings mempertahankan penilaian positif terhadap otoritas moneter Indonesia,” ucapnya.

 

EDITOR: Kuswandi