JawaPos.com – Fakta viralnya seorang santriwati berinisial F,22, di Pekalongan yang mengaku hamil hingga melahirkan tanpa berhubungan badan, satu persatu mulai terkuak. Dokter klinik yang membantu persalinan sang santriwati mengatakan, jika F melahirkan pada Desember 2025 silam di Klinik dr. Imamah, Kecamatan Doro. F melakukan persalinan hanya ditemani kedua orang tuanya, tanpa didampingi pihak yang mengaku sebagai ayah sang jabang bayi.
"Iya, pasien datang pada tanggal 13 Desember 2025 pukul 22.00 dalam kondisi bukaan sudah lengkap (tinggal melahirkan). Pukul 22.30 bayinya lahir," terang dr. Imaamah Muqodassah dilansir dari Metropekalongan.com (JawaPos Group), Rabu (27/5/2026).
Ia mengungkapkan, bayi tersebut seperti bayi pada umumnya dan dalam kondisi sehat. Berat badannya 2,9 kilogram, lingkar kepala 31 cm, lingkar dada 31 cm, dan panjang badan 48 cm.
"Kalau hasil identifikasi kami, usia kehamilan pasien itu 39 minggu. Dia juga belum pernah melahirkan sebelumnya, jadi itu persalinan pertamanya. Juga belum pernah keguguran," rincinya.
Imaamah juga menyebut, saat tiba di klinik hingga proses persalinan selesai, pasien hanya didampingi kedua orang tuanya. Tidak ada pihak yang mengaku ayah dari bayi pasien.
"Kami hanya menangani secara profesional, karena kondisinya memang darurat segera melahirkan. Kami tidak terpikir apa-apa selain mengutamakan pasien," ucapnya.
Pihak klinik pun baru mengetahui pasien hamil tanpa suami setelah melakukan proses administrasi pascapersalinan.
Kedua orang tua menceritakan bahwa pasien hamil tanpa suami dan tanpa hubungan badan.
"Iya, kami baru tahu setelah penanganan pasien. Kan tidak mungkin juga kami tanya-tanya dulu ketika pasien datang dalam kondisi darurat. Jadi kami pun baru tahu kasus itu setelah persalinan," ungkapnya.
Narasi lainnya yang beredar, F hamil hanya sebentar. September 2025 ia merasa hamil dan tidak menstruasi, lalu Desember 2025 melahirkan.
Anehnya, yang juga membuat kaget keluarga, selama masa kehamilan itu perut F membesar hanya ketika waktu Maghrib sampai Isya. Setelah itu perutnya mengecil kembali seperti tidak hamil.
Metropekalongan.com mencoba mengonfirmasi narasi ini langsung ke pihak keluarga F. Saat ditemui di kediamannya pada Senin (25/5/2026) sore, Slamet, ayah F, terbuka.
Ia menemui wartawan bersama istrinya. Namun ia tak mau berstatemen apa-apa lagi terkait kabar heboh ini. Ia kukuh dengan keyakinannya bahwa begitulah yang terjadi pada F.
"Kami sudah meyakini memang begitu kejadiannya. Kami sudah meyakini dan menganggap ini takdir Allah. Biar orang tidak percaya. Kami pun heran dan bingung, tapi mau bagimana? Saya perlu menjelaskan bagiamana lagi?" kata Slamet dan istrinya.
Pasangan suami-istri ini juga mengiyakan pula soal perut F yang hanya membesar pada waktu tertentu.
"Iya, memang begitu. Bahkan seminggu sebelum melahirkan, anak saya masih bisa tiduran tengkurap sambil mainan HP," terang mereka.
Ditanya kapan mimpi-mimpi itu dialami F, Slamet mengatakan terjadi saat F masih berada di ponpes dan juga ketika di rumah. F selalu bercerita.
"Baru menyadari hamil ketika dia sudah tidak menstruasi itu, September itu," ucapnya.
Ia menjabarkan, F mondok selama tujuh tahun sejak lulus MTs (Madrasah Tsanawiyah). Selama di ponpes, F juga sering ia jenguk tiap masa sambang pondok.
Tidak ada kecurigaan. Slamet juga yakin ponpes tersebut sangat ketat. Lokasi santri laki-laki dan perempuan juga terpisah.
"Kami pun pernah mendesak F berpacaran sama siapa, berhubungan badan dengan siapa, ya dia menjawab tidak berpacaran apalagi melakukan hal begitu di luar nikah," ungkapnya.
Slamet dan istri saat ini bersepakat untuk tidak menanggapi isu yang beredar di luar. Juga tidak akan mengambil tindakan penyelidikan maupun jalur hukum untuk mencari tahu siapa ayah cucu mereka.
"Lah, mau menuntut ke siapa? Mau minta tolong siapa? Wong anak saya juga bingung dengan kejadian yang menimpanya ini. Sudah, ini sudah kami anggap takdir Allah," tegasnya.
Bayi F, kata Slamet, sudah diadopsi oleh sebuah keluarga di Kabupaten Banjarnegara. Ia mengaku proses adopsi itu dilakukan secara resmi. Ia dan istrinya juga telah mengunjungi lokasi keluarga pengadopsi agar mengetahui di mana bayi itu tinggal.
"Bayinya ganteng. Ya, ada rasa sedikit menyesal harus kami serahkan ke pengadopsi, siapa tahu nanti dia jadi orang besar atau wali. Tapi kalau tetap di sini, ya tahu sendiri bagaimana lah. Nanti anak saya jadi dibully terus," ucapnya.
Slamet hanya berharap publik tak lagi membesarkan isu ini. Sebab kondisi mental F makin hari kian drop. Padahal awalnya, kata dia, F malah yang menguatkan Slamet.
"Awalnya malah dia yang menguatkan saya agar menerima kejadian ini dan mengajak menghadapi bersama. Tapi makin ke sini makin viral. Anak saya makin drop. Sekarang sudah saya larang lihat media sosial. Saya juga tidak lihat berita dan medsos," bebernya.