← Beranda
Pengasuh Ponpes di Pati yang jadi Tersangka Pencabulan Puluhan Santriwati Diduga Kabur, Polisi Siap Jemput Paksa
AntaraRabu, 6 Mei 2026 | 22.38 WIB
GERAM: Warga berdemo dengan memasang tulisan “Sang Predator” yang mengarah pada oknum pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Tlogowungu, Pati, berinisial AS. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

 

JawaPos.com - Kasus dugaan pencabulan di pondok pesantren di Kabupaten Pati memasuki babak baru. Tersangka berinisial A atau AS, pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, kini diduga melarikan diri setelah mangkir dari panggilan kepolisian, Senin (4/5).

Padahal, penyidik Polresta Pati sebelumnya menilai tersangka cukup kooperatif. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, batang hidung sang pengasuh tak kunjung terlihat, bahkan pihak keluarga dan pengacara mengaku kehilangan kontak.

Dikutip dari Radar Kudus (JawaPos Group), tim penyidik telah berupaya menjemput bola dengan menghubungi pihak keluarga. Sayangnya, keberadaan pria yang diduga mencabuli puluhan santriwati ini masih menjadi teka-teki. Polisi menegaskan tidak akan memberikan toleransi jika tersangka terus menghindar.

"Kami sudah meminta bantuan keluarga untuk mencari dan membujuk tersangka agar memenuhi panggilan penyidik, tetapi hingga kini yang bersangkutan tidak bisa dihubungi," ujar Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama dikutip, Rabu (6/5).

Diketahui, penetapan tersangka AS dilakukan pada 28 April 2026 setelah polisi mengantongi bukti kuat dan keterangan saksi ahli.

Jika tetap tidak kooperatif, aparat sudah menyiapkan skema penjemputan paksa atau penangkapan sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Pondok Pesantren Lumpuh Total dan Ditinggalkan

Sejak kasus ini mencuat ke publik dan diiringi aksi demonstrasi warga, aktivitas di Pesantren Tahfidz Ndolo Kusumo berhenti total. Pantauan di lokasi menunjukkan gerbang tertutup rapat dan suasana kompleks yang biasanya ramai kini mendadak lengang.

Salah seorang warga sekitar, Paidi, menyebutkan bahwa seluruh santri telah dipulangkan pasca-kericuhan sabtu lalu.

"Sekarang sudah aman dan sepi. Setelah demo hari Sabtu itu, para santri sudah dipulangkan," ujarnya.

Masyarakat setempat mengaku sangat terpukul dan resah atas terbongkarnya skandal asusila di lingkungan pendidikan agama tersebut. "Kami merasa kecewa dan masyarakat jadi resah," katanya.

Nasib 252 Santri yang Terdampak

Baca Juga: Polisi Layangkan Panggilan Kedua ke 'Kiai Cabul' di Pati, Akan Jemput Paksa Jika Mangkir Lagi

Penutupan pesantren ini berdampak langsung pada 252 santri dan santriwati dari berbagai jenjang, mulai dari Raudlatul Athfal hingga Madrasah Aliyah. Mayoritas dari mereka berasal dari keluarga tidak mampu dan anak yatim yang kini terancam putus sekolah.

Beruntung, sejumlah lembaga pendidikan di Pati telah menyatakan kesediaan untuk menampung para santri ini agar proses belajar-mengajar mereka tetap berlanjut.

 

EDITOR: Kuswandi