JawaPos.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) RI menetapkan Ketua Ombudsman RI, Hery Susanto, sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi terkait tata kelola usaha pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Menelisik Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Hery Susanto memiliki total kekayaan senilai Rp 4.170.588.649 atau Rp 4,17 miliar. LHKPN itu dilaporkan pada 17 Maret 2026 untuk tahun periodik 2025.
Hery tercatat memiliki dua bidang tanah dan bangunan yang berlokasi di Jakarta Timur dan Kota Cirebon. Nilai harta tidak bergerak milik Hery itu mencapai Rp 2.350.000.000.
Selain itu, Hery juga tercatat memiliki alat transportasi berupa Vespa LX Iget 125 tahun 2022 dan mobil Chery Micro tahun 2025. Harta berupa kendaraan milik Hery itu senilai Rp 595.000.000.
Hery Susanto juga tercatat memiliki harta bergerak lainnya sejumlah Rp 685.900.000, kas dan setara kas Rp 539.688.649.
Dalam LHKPN, Hery tidak tercatat memiliki utang. Sehingga harta seluruhnya mencapai Rp 4.170.588.649.
Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, menjelaskan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah tim penyidik mengantongi bukti-bukti kuat dari hasil penggeledahan dan serangkaian penyidikan.
"Menetapkan tersangka Saudara HS dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan tata kelola niaga pertambangan nikel tahun 2013 sampai 2025," kata Syarief di Kompleks Kejagung, Jakarta, Kamis (16/4).
Penetapan tersangka ini terjadi tidak lama setelah Hery Susanto dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Ombudskan RI, pada Jumat (10/4).
Baca Juga: Usai Ditetapkan Tersangka, Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditahan di Rutan Salemba
Hery dilantik menggantikan Ketua Ombudsman RI periode 2021-2026 Mokhammad Najih .
Adapun, Kejagung menduga Hery Susanto menerima aliran uang senilai Rp 1,5 miliar untuk mengeluarkan surat rekomendasi Ombudsman kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Uang diterima dari Direktur PT TSHI.
"Tersangka ini menerima sejumlah uang dari Saudara LKM (cek) yang merupakan Direktur PT TSHI. Kurang lebih yang sudah diserahkan dari satu orang ini adalah kurang lebih sejumlah satu setengah miliar rupiah atau Rp 1,5 miliar rupiah," ucap Syarief.
Sebagai konsekuensi hukum, Kejagung langsung mengambil tindakan tegas dengan melakukan penahanan terhadap Hery.
Ia kini mendekam di balik jeruji besi untuk mempermudah proses penyidikan lebih lanjut.
"Pada hari ini juga, Kamis tanggal 16 April 2026, tim penyidik Jampidsus telah menetapkan yaitu Saudara HS ya," tegasnya.
Hery disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a, Pasal 12 huruf b, Pasal 5, dan Pasal 606 KUHP yang baru.
Saat ini, tersangka telah dijebloskan ke Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan selama 20 hari ke depan.