← Beranda
Nestapa Pahlawan Devisa di Negeri Dua Benua
Syahrul YunizarSabtu, 20 September 2025 | 16.04 WIB
Nopi Karyadi,29, saat dirawat di rumah sakit di Turki, usai terjatuh dari lantai 5 saat hendak kabur keluar dari apartemen Mr. Emeka Paul. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Ruangan seluas lapangan bulu tangkis di sebuah apartemen di Kota Istanbul, Turki itu tampak sepi. Saban harinya, tak ada hilir mudik pegawai dari berbagai divisi dan aktivitas berarti seperti layaknya kantor pada umumnya.

Di ruangan berpendingin udara itu, hanya terdapat dua buah kursi dan meja kerja berkelir hitam, sebuah miniatur kapal, komputer jinjing dan printer beserta tempat bolpoin, yang seolah digunakan Mr. Emeka Paul untuk menunjang aktivitasnya bisnisnya.

Agar seperti kantor sungguhan, di ruangan itu dipasang foto Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, berpakaian resmi sebagai kepala negara.

Nopi Karyadi, 29, perempuan muda asal Dusun Karanganyar RT 042/009, Desa Asem Doyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah itu tak menyangka, niat hati dirinya berjuang mencari nafkah menjadi pekerja migran untuk membayar utang piutang keluarganya sirna.

Musababnya, bukan untung yang didapat, justru nestapalah yang harus dialaminya. Nopi menjadi korban perdagangan orang dan pelecehan seksual MR. Emeka, orang Afrika yang menjadi bosnya di ''Negeri Dua Benua’’.

Mulanya, pada medio Juli 2023, Nopi yang sedang mengelami kesulitan ekonomi sangat gembira, ketika pada suatu siang melalui media sosial Instagram, Mr. Emeka berkenalan dan berujung menawari pekerjaan yang menjanjikan di Turki. Menindaklanjuti rencana jahat sang suami, Diah Hanifarani, istri Mr. Emeka kemudian mengirim pesan pribadi kepada Nopi melalui layanan whatsapp. Tujuannya sama, menawari 'janji surga'.

Dalam komunikasi itu, perempuan yang karib disapa Rani itu menawari Nopi bekerja menjadi seorang pegawai bagian akuntan, di perusahaan yang bergerak dibidang kargo milik suaminya, dengan iming-iming gaji selangit.

Tanpa pikir panjang, karena semua biaya dijanjikan ditanggung calon bosnya, perempuan muda yang hanya lulusan sekolah menengah pertama ini langsung tergiur dan mengiyakan rayuan gombal Mr. Emeka melalui Rani, istrinya yang berkebangsaan Indonesia. Singkat cerita, tiga bulan kemudian, tepatnya pada Oktober 2023 Nopi terbang ke negeri orang mencari peruntungan.

Nahas, kenyataan yang dialaminya ternyata tak seindah mimpinya. Ibarat pepatah ‘’Hujan batu di negeri sendiri, lebih baik daripada hujan emas di negeri orang’’.

Malang tak dapat ditolak, untung juga tak dapat diraih. Nopi ternyata tak pernah dipekerjakan selayaknya pegawai akuntan sebagaimana mestinya.

Nopi Karyadi,29, didaftarkan sebagai mahasiswa di Turki, meski hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP). (Istimewa)
Nopi Karyadi,29, didaftarkan sebagai mahasiswa di Turki, meski hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP). (Istimewa)

“Setelah sampai sana (Turki) aku dibuatkan akun rekening bank dan selang beberapa hari didaftarkan kuliah supaya bisa punya KTP di Turki, agar mudah buat rekening bank banyak. Pendaftaran kuliah pake ijazahnya Rani diedit namanya ganti namaku,’’ jelas Nopi, saat berbincang dengan JawaPos.com, Senin (15/9).

Adapun pekerjaannya hanya diminta pergi ke bank tertentu, yang ditunjuk sesuai arahan Mr. Emeka, kemudian mengambil uang dengan jumlah tertentu sesuai permintaan sang bos.

Uang-uang itu diambil dari rekening Nopi sendiri yang dibuat oleh Mr. Emeka. Nilai penarikannya bervariasi, dari belasan juta hingga ratusan juta, jika dihitung dengan kurs mata uang rupiah. Yang pasti, jumlah pengambilan harus sesuai dengan arahan yang diminta laki-laki yang menikahi perempuan asal Desa Marga Kencana, Tulang Bawang Udik, Provinsi Lampung itu.

Begitu juga dengan bank tempat pengambilan. Agar tak dibawa kabur, Mr. Emeka pun kerap mengawasi gerak gerik Nopi di bank, dari jarak yang dekat.

Mr. Emeka Paul berpose di kantor bodong miliknya. (Istimewa).
Mr. Emeka Paul berpose di kantor bodong miliknya. (Istimewa).

"Setiap menarik uang jumlahnya bervariasi dari yang paling kecil Rp 13 juta-Rp 300 juga. Pernah ada sampai hampir Rp 1 Miliar, tapi diblokir bank-nya,’’ jelas Nopi.

Menurut Nopi, Ada beberapa rekening atas nama dirinya dengan profil sebagai pemilik sebuah perusahaan. Adapun yang membuat hal tersebut adalah Mr. Emeka. Oleh karena itu, jika rekening bank satu diblokir, maka dia buatkan pembukaan rekening baru di kota lain.

"Saya disuruh berpakaian rapi, lalu duduk di kursi di sebuah ruangan. Di depannya ada meja dan laptop, lalu di foto. Selanjutnya, profil saya dibuat seolah-olah sebagai pemilik perusahaan Kargo,’’ tutur Nopi.

Hari berganti bulan. Lambat laun Nopi pun curiga dengan bisnis yang dijalankan Mr. Emeka. Musababnya, dia hanya diminta pulang pergi ke bank dan mengambil uang banyak tanpa mengetahui darimana sumber uang yang diambilnya. Kecurigaan Nopi semakin kuat, usai dirinya juga dijadikan pemilik perusahaan bodong oleh Mr. Emeka dan istrinya.

"Saya curiganya bisnis narkoba atau pencucian uang," urai Nopi.

Rupanya tak hanya Nopi saja yang diminta menjalani bisnis misterius Mr. Emeka. Berbagai koleganya yang berasal dari Indonesia juga memiliki peran yang sama. Termasuk Rani sebelum menjadi pendamping hidup Mr. Emeka.

"Ngambil uangnya tak tentu. Bisa tiap hari, tapi pernah baru tiga bulan ke bank," papar Nopi.

Biasanya, usai mengambil uang ke bank, maka Nopi akan mendapatkan upah yang tak seberapa. Upah itu dijadikan sebagai gajinya selama bekerja dengan Mr. Emeka.    

Perusahaan bodong Nopi Karyadi, 29, yang dibuat Mr. Emeka untuk melancarkan bisnis gelapnya di Turki. (Istimewa)
Perusahaan bodong Nopi Karyadi, 29, yang dibuat Mr. Emeka untuk melancarkan bisnis gelapnya di Turki. (Istimewa)
                                                                                 

Masuk ICU 7 Hari Akibat jatuh dari Lantai Lima

Tak ada liburan ke Cappacodia, sebuah tempat wisata popular yang terletak di Anatolia Tengah, Turki, yang digandrungi orang-orang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Saban hari, Nopi dan beberapa koleganya sesama pekerja migran hanya sibuk mengurus kebersihan apartemen dan mengasuh anak Mr. Emeka Paul dan Rani, jika tak diminta ke bank untuk mengambil uang dari bisnis gelapnya.

Rupanya, kondisi apartemen yang terpisah dengan kantor 'bodong' yang sepi, membuat Mr. Emeka kerap gelap mata. Pria berkebangsaan Afrika itu memanfaatkan situasi itu untuk melakukan pelecehan seksual terhadap para pegawainya dari Indonesia, yang berjenis kelamin perempuan. Rani, menurut Nopi sebenarnya tahu perbuatan yang dilakukan suaminya, namun dia tak berkutik dengan perangai bejat sang suami.

Diah Hanifarani (Rani), istri Mr. Emeka Paul. (Istimewa).
Diah Hanifarani (Rani), istri Mr. Emeka Paul. (Istimewa).

Dalam menjalankan aksinya, Mr. Emeka tak segan-segan akan menganiaya korbannya, jika hasrat seksualnya tak dipenuhi. Pernah suatu kali, Mr. Emeka ditangkap polisi Turki karena melakukan kekerasan terhadap pegawainya, namun akhirnya dia dibebaskan.

Mendapati tingkah laku Mr. Emeka yang beringasan, Nopi pun menjadi takut. Karena dirinya pernah dilecehkan juga oleh pria beranak dua itu.

“Pernah jambak rambutku, kelitikin,meraba-raba, megang-megang leherku, kadang minta dipijit kakinya sambil dipangku, terus mau nyentuh hal sensitifku,’’ urai Nopi.

Selain itu, teman-temannya yang menjadi korban perdagangan orang yang sama juga pernah hampir diperkosa Mr. Emeka. Akhirnya para korban ini kabur satu persatu. Agar kejadian tak mengenakan itu tak terjadi pada dirinya, Nopi pun mencari momentum yang pas untuk kabur dari apartemen.

“Sekitar jam sebelas malam ketika Mr. Emeka pergi dugem dan istri tidur, saya diam-diam kabur lewat balkon kamar di lantai lima. Karena buru-buru, sprei lupa saya ikat menjadi tali. Saya jatuh ke bawah di atas kap mobil,” tutur Nopi getir.

Beruntung Nopi selamat. Dia pun dibawa ke unit gawat darurat di rumah sakit RS Konyasehir Hastanesi. Sekitar tujuh hari Nopi masuk ruang ICU, karena mengalami luka serius tulang punggungnya patah.

Setelah menjalani perawatan selama sepuluh hari, Nopi dibawa pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul Turki. Di situ, Nopi dirawat selama sepuluh hari, sebelum akhirnya dipulangkan ke tanah Air, dan sampai di kampung halamannya setelah delapan bulan menjadi korban perdagangan orang. Sementara, karena takut masuk penjara, Mr. Emeka bersama istri dan anaknya kabur meninggalkan Negara Turki.

Nopi Karyadi,29, sesampainya di tanah air, didampingi para petugas KJRI Istanbul Turki. (Istimewa)
Nopi Karyadi,29, sesampainya di tanah air, didampingi para petugas KJRI Istanbul Turki. (Istimewa)

“Kabarnya di mau ke Kanada. Mau ngajuin menjadi warna negara sana,” kata Nopi yang mendapat informasi dari rekannya dan pihak aparat setempat.

Kini, Nopi masih belum bisa berjalan lancar selayaknya manusia biasa. Praktis Ketika hendak pergi jauh, dia harus dibantu dengan menggunakan kursi roda.

Meskipun menderita dan kerap menahan sakit yang dideritanya, Nopi, ingin memperjuangkan keadilan terhadap apa yang terjadi pada dirinya, yang menjadi korban perdagangan orang (TPPO) dan pelecehan seksual oleh bosnya ketika bekerja di Turki.

Ditagih Utang Meski Kondisi Masih Memprihatinkan

Krekkk....krekk..krekkkk...begitu bunyi alat bantu yang terbuat dari besi, saat digunakan untuk membantu menopang badan Nopi berjalan.

Selama beberapa bulan, alat bantu inilah yang sehari-hari menjadi teman setia Nopi untuk sekedar berjalan di dalam rumah seperti makan dan minum, atau berjemur, usai terjatuh dari lantai lima apartemen Mr. Emeka, saat hendak kabur pada suatu malam.

Jalannya masih terpincang-pincang dan tak kuat berdiri lama karena kesembuhan luka-lukanya belum paripurna. 

“Kondisiku sekarang belum bisa bangun berdiri sendiri. Dari tempat tidur harus dibantu berdiri baru bisa. Jongkok pun masih belum bisa,’’ ucap Novi menceritakan perkembangan kesehatan fisiknya.

Namun, karena tak ada uang untuk berobat dan tak ada bantuan lagi dari pihak pemerintah, Nopi pun hanya bisa pasrah atas apa yang dialaminya.

"Sudah nggak pernah cek lagi ke dokter udah hampir setahun karena masih terkendala biaya" Papar Nopi.

Untuk mengobati kakinya yang masih nyeri, Nopi mengaku hanya minum obat-obatan herbal, seperti jamu.

"Minum jamu wantong, kadang jamu tawon juga setiap 3 hari sekali," jelasnya.

Selain nyeri pada kaki, menurut Nopi, sebenarnya daya ingatnya menjadi kurang bagus. Selain itu, telinganya juga sering berdengung hampir tiap hari. Namun apa daya, karena tak ada biaya, Nopi pun hanya bisa pasrah menjalani takdir ujian hidupnya dengan sabar.

"Karena utangku banyak jadi sekarang lebih ke fokus bayar utang, soalnya banyak yang datang ke rumah nagih utang sembari mengamuk dan mengancam, sampai rumah pun dijual untuk bayar utang," urai Nopi.

Kondisi Nopi Karyadi ,29, terkini, saat belajar berjalan dengan menggunakan alat bantu agar tak terjatuh. (Istimewa).
Kondisi Nopi Karyadi ,29, terkini, saat belajar berjalan dengan menggunakan alat bantu agar tak terjatuh. (Istimewa).

Meski sudah mencoba menjual rumah, menurut Nopi hal itu belum bisa melunasi semua utangnya.

"Tinggal separuh lagi (Utang yang harus dibayar-Red). Sekarang udah di titik pasrah, dengan kondisiku seperti ini," ucapnya.

Kini, sehari-hari Nopi merasa hidupnya tak tenang, karena selalu dibayangi ketakutan. Nopi juga memilih mengurung diri karena malu. 

"Yang seharusnya berjemur sekarang haya di tempat tidur, karena aku di permalukan gegara belum bisa bayar utang, di maki-maki dan di sumpah serapah. Itu semuah membuat mental ku down," Tukas Nopi.

EDITOR: Kuswandi