← Beranda
Penjelasan Para Ahli Soal Jenis-jenis Motif Dibalik Tindakan Mutilasi
Muhammad Faizal ArmandikaKamis, 20 Juli 2023 | 22.44 WIB
Ilustrasi TKP (Freepik)

JawaPos.com - Kasus mutilasi yang terjadi di Kabupaten Sleman, Jogjakarta menggemparkan Tanah Air beberapa hari belakangan. Sebenarnya, kasus ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Di tahun ini saja, sudah ada 4 kasus mutilasi yang ramai diberitakan, yakni kasus Wowon si pembunuh berantai, kasus koper merah di Bogor, kasus pembunuhan perempuan di Kaliurang, hingga yang terbaru kasus mahasiswa UNY.

Jika mundur beberapa tahun ke belakang, kita akan menemukan beberapa kasus pembunuhan kejam yang disertai mutilasi, seperti kasus Ryan Jombang hingga kasus mutilasi Setiabudi 13, yang hingga kini belum terungkap.

Lantas, mengapa sebagian pembunuh memutilasi korbannya? Apakah hanya lantaran untuk menghilangkan jejak, atau terdapat motif dan alasan psikologis yang lain?

Baca Juga: 5 Makanan yang Wajib Anda Coba Saat Liburan Ke India

Untuk mengetahui hal tersebut, JawaPos.com sudah merangkum psikologi dibalik pelaku pembunuhan yang memutilasi korbannya, dilansir dari berbagai sumber.

  1. Dendam

Seorang psikolog asal Thailand, Wanlop Piyamanotham, berpendapat bahwa pembunuh yang memotong tubuh korbannya seringnya diakibatkan oleh perasaan dendam. Mutilasi bisa menjadi sebuah ungkapan pelepasan dendam yang dipendam sejak lama.

  1. Pengalaman di pekerjaan sebelumnya

Sebuah studi menunjukkan bahwa mereka yang akrab dengan pemotongan daging dipengaruhi oleh pekerjaan mereka sebelumnya – seperti profesional medis atau tukang daging. Pembunuh yang terbiasa menyembelih atau memotong hewan juga akan lebih terbiasa memutilasi daging manusia.

Baca Juga: Jokowi dan Sejumlah Ketum Parpol Bakal Hadiri Acara Puncak Harlah PKB ke-25

  1. Korban kejahatan di masa lalu

Pelaku mutilasi bisa jadi adalah korban tindak kejahatan di masa lalu. Perasaan trauma, rasa sakit, dan amarah, memungkinkan korban untuk melepaskan perasaan tersembunyi di kemudian hari.

Dalam hal ini, Wanlop, memberikan contoh kasus Songkhla di mana seorang anak laki-laki melihat orang tuanya dibunuh dengan cara dicekik. Dia selamat dan di masa dewasa melakukan kejahatan serupa, yakni mencekik dan memotong-motong korbannya.

  1. Perilaku menyimpang dan kekejaman berlebihan

Natee Jitsawang, seorang kriminolog asal Thailand, mengatakan para pembunuh yang memotong-motong tubuh korbannya sering menunjukkan perilaku menyimpang lainnya dan kecenderungan kekejaman yang berlebihan.

Meskipun tidak dijelaskan perilaku menyimpang yang seperti apa, Natee mengatakan bahwa pelaku biasanya terlihat seperti orang normal pada umumnya, meskipun mungkin sangat tertutup.

Sementara itu, menurut penelitian yang dilakukan para akademisi Finlandia yang berjudul Homicides with Mutilation of the Victim’s Body, para peneliti membagi motif mutilasi menjadi 5 jenis.

Baca Juga: Tak Bisa Pulih 100 Persen, David Ozora Berpotensi Konsumsi Obat Seumur Hidup

  1. Defensif

Ini merupakan motif paling umum yang sering disebut Pakar Forensik. Motif ini adalah menyembunyikan atau memindahkan tubuh korban untuk menghilangkan barang bukti atau mempersulit identifikasi korban.

  1. Agresif

Ketika pembunuh memiliki emosi agresif, dia akan melakukan mutilasi dan pembunuhan secara bersamaan.  Misalnya, pelaku akan memutilasi korban sebagai bentuk penyiksaan hingga tewas.

  1. Ofensif

Ketika mutilasi menjadi tujuan dari pembunuhan yang sebenarnya, ini termasuk pembunuhan nafsu dan nekro-sadis. Mereka didorong oleh hasrat seksual memutilasi jenazah dengan cara yang berbeda, seperti memotong organ genital atau payudara.

Beberapa pelaku mengeluarkan organ perut melalui saluran kelamin yang rusak. Pencekikan tampaknya menjadi metode kematian yang umum dalam jenis pembunuhan ini.

Baca Juga: Setelah Tolak Film 'Barbie', Vietnam Minta Netflix Hapus Drama Tiongkok di Negaranya

  1. Psikotik

Kondisi di mana pelakunya mengalami psikotik akut, sehingga mereka dapat mendengar suara atau menderita delusi yang aneh.

  1. Kejahatan terorganisir

Jenis pembunuhan yang terjadi di dunia modern dengan kejahatan terorganisir, seperti mafia, di mana mutilasi atau pemotongan digunakan untuk mengirim pesan kepada orang lain, seperti pemotongan komunikasi, peringatan, atau ancaman.

EDITOR: Banu Adikara