← Beranda
Pengakuan Importir Daging yang Ditangkap Bersama Patrialis Akbar
Thomas KukuhJumat, 27 Januari 2017 | 17.00 WIB
ILUSTRASI

JawaPos.com - Pengusaha impor daging sapi, Basuki Hariman mengklaim tidak pernah menyuap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar. Dia bahkan menaruh curiga dan meyakini hanya sebagai korban dari "permainan" rekan Patrialis bernama Kamaluddin.


Hal itu disampaikan Basuki usai menjalani pemeriksaan pasca ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT), Jumat (27/1) dini hari. Basuki keluar dengan menggunakan rompi tahanan berwarna oranye.


"Tidak ada (perintah). Jadi selama saya bicara dengan Pak Patrialis, tidak pernah dia bicara sepatah kata-pun soal uang. Yang minta uang itu sebenernya Pak Kamal. Saya merasa karena dia kenal Pak Patrialis, saya sanggupi untuk membayar kepada dia," kata Basuki yang juga menjadi Dirut PT Impexindo Pratama itu dengan yakin. 


Basuki menuturkan, berawal dari maraknya daging impor India yang masuk ke Tanah Air menjadi pemicunya sebagai kekhawatiran bisnisnya yang bergerak di sektor pangan tersebut. Hal itu kemudian ia ungkapkan kepada rekannya bernama Kamaluddin. Kebetulan, Kamaluddin juga merupakan kawan dari Patrialis.


Menurut dia, ada sejumlah pihak ingin melakukan uji materi UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sebagai pengusaha impor daging sapi, dia pun turut memberikan dukungan.


Suatu hari Basuki justru bertemu langsung dengan Patrialis. Karena itu, dia berusaha menjelaskan duduk permasalahan terkait impor daging sapi.


"Hari ini Kan masuknya daging India terlalu banyak (ke Indonesia). Jadi kalau mereka ada gugatan seperti itu, saya coba membantu saja Pak. Memberikan penjelasan-penjelasan kepada hakim, dalam hal ini Pak Patrialis, bahwa masuknya daging India ini pertama merusak peternak lokal karena harganya murah sekali. Toh, kami tidak juga menurunkan harga sampai sekarang ini, harga sapi loh," paparnya.


Terlebih, lanjut Basuki, daging dari negara dimaksud termasuk dalam daftar yang kurang baik untuk masalah impor daging. Namun, ia heran pemerintah masih saja melakukan hal tersebut. 


"Jadi saya jelaskan kepada Pak Patrialis biar beliau mengerti. Begitu dia mengerti, dia coba pelajari. Tapi saya tidak pernah memberikan uang apa-apa," kata dia.


KPK menduga Basuki dibantu sekretarisnya Ng Fenny memberikan suap sebesar USD 20 ribu dan SGD 200 kepada Patrialis Akbar melalui Kamaludin untuk memuluskan sidang uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan kesehawan Hewan.


Menurut Basuki, dalam rentang waktu itu Kamaluddin meminta uang kepadanya dengan alasan sebagai uang untuk umroh. Karena Kamal telah memperkenalkannya dengan Patrialis, akhirnya dia bersedia memberikan uang. 


Basuki pun meyakini Patrialis Akbar tidak terlibat kasus ini. Dia pun mengeklaim tidak terlibat. Karena itu, Kamaludin yang harus mempertanggungjawabkan sendiri. 


"Dua kali (pemberian). Yang ketiga belum terjadi, yang 200 ribu masih sama saya. Nah, mengenai yang dua kali sebelumnya itu jumlahnya 10 sama USD 20 ribu. Yang 200 ribu itu masih sama saya. Hari ini (rencana) mau diambil sama tim penyidik," kata Basuki. 


Basuki melanjutkan, ketika dirinya bersama beberapa orang karyawannya diamankan tim KPK di kantornya di bilangan Jakarta Utara, ternyata penyidik membawa Kamaludin. Basuki mengaku tak menyangka sampai kantornya itu ikut digeledah penyidik secara tiba-tiba.


"Mereka (KPK) ke kantor, dia geledah kantor saya, terus saya datang ke kantor. Saya tanya kenapa gitu lho. Rupanya Pak Kamal sudah dibawa duluan ke sini. Gitu. Kemudian terus saya juga dibawa ke sini (KPK)," kata Basuki. 


‎Basuki pun lantas mengklaim dalam perkara ini telah menjadi korban Kamaludin. Terelebih Kamaludin, kerap mengatakan bisa memenangkan perkara judicial review itu.  


"Saya merasa dikorbankan. (Saya pesannya) ya ini perkaranya bisa menang, gitu aja. Padahal saya tahu Patrialis berjuang ya apa adanya gitu ya. Saya percaya Pak Patrialis ini tidak seperti orang yang kita dugalah hari ini. Terima uang dari saya enggak ada," ujar dia.


Saat disinggung alasan tetap memberi uang kepada Kamaludin berkali-kali, padahal mencurigai telah ditipu, Basuki mengaku hanya merasa tidak enak untuk tidak memberi apa yang diminta Kamaludin.


"Ya dia sering begitu memang. Tapi saya tau itu nggak bakal nyampe (uangnya). Cuma karena dia yang kenalin, ya sudah, saya kasih aja, gitu lho," kata Basuki.


Dikonfirmasi kapan saja dia pernah bertemu langsung dengan Patrialis, Basuki mengaku telah beberapa kali. Salah satunya yakni di sebuah lapangan golf di Jakarta Timur. Namun Basuki tidak menjelaskan waktunya. 


"Saya pernah ketemu di golf di Rawamangun berapa kali aja. Makan sama-sama dua kali kalau nggak salah," kata Basuki. 


Disinggung lebih jauh sosok Kamal yang diduga sebagai perantara suap kasus ini, Basuki mengakui kedekatan Patrialis Akbar dengan Kamaludin. Bahkan menurut Basuki, itu sudah sejak lama. 



"Pak Kamal ini deketlah sama pak Patrialis. Dia juga punya kerjasama sama saya. Tapi saya enggak tahu dulu kalau deket sama Patrialis. Belakangan saya mengalami, saya juga pedagang daging, ternyata daging itu mulai enggak laku, saya support orang yang gugat lah. Itu saja," kata pria yang juga pernah diperiksa pada kasus terpidana Ahmad Fathanah itu. (Put/jpg)


EDITOR: Thomas Kukuh