JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mengangkat Habibi, 12, bocah yang terpaksa berhenti sekolah demi berjualan batagor di Bintaro, sebagai anak asuh serta menjamin seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidupnya di Cirebon.
Keputusan tersebut diambil Dedi Mulyadi usai menemui keluarga Habibi di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, untuk memastikan sang anak dapat segera kembali mengenyam pendidikan dasar.
Habibi tercatat sudah sekitar empat bulan putus sekolah. Saat memutuskan berhenti, ia masih duduk di kelas 5 SD dan seharusnya saat ini sudah menduduki bangku kelas 6.
Tak lagi bersekolah dilakukan Habibi guna menggantikan peran ayahnya yang tidak lagi bisa berjualan batagor setelah didiagnosis mengidap kanker usus.
Bersama sang ibu yang memproduksi dagangan, Habibi berjualan siomay dan batagor di sekitar kawasan Bintaro untuk membantu kebutuhan makan harian hingga membayar sewa tempat tinggal.
Kondisi ekonomi tersebut sempat membuat impian Habibi untuk menjadi seorang polisi harus tertunda. Bahkan, ia sempat berkeinginan menjadi pedagang siomay untuk menyesuaikan keadaan keluarganya.
Dedi Mulyadi Tanggung Biaya Sekolah
Kisah Habibi pertama kali menarik perhatian publik usai diunggah oleh konten kreator TikTok @donnyrapu pada Selasa (22/9).
Dedi Mulyadi yang mendapat laporan tersebut langsung bergerak membantu dan meminta Habibi agar tidak lagi mencari nafkah.
Dedi menginstruksikan Habibi untuk pulang ke Cirebon dan melanjutkan sekolah bersama sang kakak yang kini duduk di kelas 3 SMAN Kanci, Cirebon.
Dedi merancang skema pengasuhan agar Habibi dan kakaknya fokus mengenyam pendidikan di Cirebon, sementara kedua orang tuanya menetap di Bintaro berjualan.
"Nanti Habibi jadi anak asuh saya, saya kasih biaya tiap bulan. Karena kamu anak hebat bantu orang tuanya," ujar Dedi Mulyadi dikutip dari Youtube Chanel miliknya.
Dedi memastikan bantuan operasional hidup dan sekolah tersebut akan dikirimkan setiap bulannya.
"Oke yang dua ini anak asuh saya, dia sama kakaknya. Biaya hidup dari saya. Bapak pikirin hidup bapak aja sama istri," ucapnya.
Namun, sang bapak menolak mendapatkan penanganan medis untuk mengatasi penyakit kanker ususnya.
"Ya bapaknya gak mau dirawat di rumah sakit, yaudah," imbuhnya.