JawaPos.com - Pemprov DKI Jakarta menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan konser Ye Live in Jakarta 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Pusat, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan momentum ini menjadi peluang emas untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi wisata musik tingkat dunia.
Jakarta terpilih menjadi satu-satunya kota di kawasan Asia Tenggara dan Oseania dalam rangkaian tur global sang musisi tahun ini.
"Pemerintah DKI Jakarta siap memberikan dukungan sepenuhnya. Baik yang berkaitan dengan perhubungan, ekonomi kreatif, maupun Satpol PP, kami libatkan supaya semuanya total football untuk membantu kelancaran jalannya Ye Live di Jakarta," ujar Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Selasa (15/9).
Pramono menyatakan akan memanfaatkan kesempatan langka ini untuk mempromosikan potensi Jakarta kepada masyarakat luas, baik skala lokal maupun mancanegara.
"Ini adalah momen yang sangat membanggakan. Sebab, konser besar, baik di Asia Tenggara maupun Oseania, dipilih ada di Jakarta. Kalau kita tidak memanfaatkan momentum ini sebaik-baiknya, kita sendiri yang rugi," tambahnya.
Skema Transportasi dan Antisipasi Penumpukan Massa
Penyelenggaraan konser berskala besar ini bertepatan dengan ajang Jakarta Running Festival yang diproyeksikan menyedot 35 ribu hingga 38 ribu peserta. Mengantisipasi potensi kemacetan dan kepadatan mobilitas warga, Dinas Perhubungan DKI Jakarta telah diinstruksikan untuk menyusun rekayasa lalu lintas serta manajemen transportasi sejak dini.
"Kita akan atur transportasi yang memudahkan bagi penonton. Sebab, kalau tidak, pasti ada yang terganggu, apakah maratonnya atau konsernya. Sehingga nanti kami akan bantu," ungkap Pramono.
Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang Jakarta menuju status kota global. Pengembangan infrastruktur konektivitas terus dikejar, salah satunya melalui penuntasan LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai yang segera beroperasi, dilanjutkan ke rute Manggarai menuju Dukuh Atas.
"Kalau itu sudah tersambungkan, transportasi di Jakarta relatif sudah terkoneksi dengan baik. Saya yakin pariwisatanya juga insyaallah akan meningkat," terangnya.
Data Pemprov DKI Jakarta mencatat, pada semester pertama 2026, jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 8,82 juta orang, sedangkan wisatawan mancanegara menembus 1,04 juta orang. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 8,17 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Daya Tarik Global dan Potensi Music Tourism
Tingginya daya tarik konser ini terlihat dari catatan penjualan tiket. Marketing and Communications Lead Rawvision Collective, Karen Chahya, mengungkapkan bahwa dalam waktu 24 jam pertama, sebanyak 52,8 persen pembeli tiket berasal dari penggemar di 73 negara.
Lebih dari 15 ribu wisatawan asing diperkirakan memadati Jakarta. Mereka bertandang dari berbagai negara, seperti Australia, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Thailand, Hong Kong, Jepang, Inggris, Jerman, Vietnam, hingga Selandia Baru. Acara ini juga menyajikan panggung 360 derajat bertajuk The Vultures Global Stage.
"Ketika musik menjadi alasan orang datang, kehadiran mereka kemudian ikut menggerakkan ekosistem pariwisata dan ekonomi lokal. Di situlah kami melihat potensi music tourism," jelas Karen.
Dukungan Kemenpar dan Dampak Ekonomi
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi seluruh pihak, termasuk Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya, gelaran megakonser berdampak nyata pada perputaran roda ekonomi di berbagai sektor pendukung.
"Event seperti ini dipercaya mampu mengaktifkan rantai ekonomi ekosistem pariwisata kita. Dampak ekonomi bisa kita lihat dari nilai pembelian tiket, penyewaan sarana dan prasarana tempat konser, aktivitas produksi oleh vendor dan pelaku industri konser musik, kuliner, hingga menciptakan lapangan kerja," kata Widiyanti.
Kementerian Pariwisata mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026, dukungan telah diberikan kepada 105 kegiatan melalui program Event by Indonesia. Evaluasi menunjukkan rangkaian acara tersebut melibatkan lebih dari 6,47 juta pengunjung, 11 ribu UMKM, serta 184 ribu pekerja seni dan komunitas, dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1,09 triliun.
"Hal ini menegaskan bahwa penyelenggaraan konser berskala internasional berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi yang melampaui acara itu sendiri," tutup Widiyanti.