JawaPos.com - Operasi penyiraman air dan pemanfaatan water mist secara masif oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai membuahkan hasil positif dalam meredam dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan kualitas udara pada 6–7 September 2026 mencatat adanya penyempitan wilayah terdampak partikulat halus, khususnya konsentrasi PM10 di sejumlah wilayah ibu kota.
Puluhan mobil pemadam kebakaran, truk tangki air, dan unit water mist mobile diterjunkan ke titik-titik krusial untuk membasahi endapan abu.
Baca Juga: Data Terkini BNPB, 734,81 Hektare Lahan Gambut Masih Terbakar, Karhutla Juga Terjadi di Kawasan IKN
Berdasarkan evaluasi laporan pemantauan, area dengan tingkat PM10 tinggi yang sebelumnya melingkupi kawasan Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan kini terpantau semakin terbatas.
Pasca penyiraman massal, titik konsentrasi PM10 tinggi sebagian besar tersisa di wilayah Cilincing bagian timur dan Cipayung bagian tenggara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menuturkan, keselamatan dan perlindungan kesehatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam pengerjaan operasi ini.
"Kami ingin warga merasakan kehadiran pemerintah melalui tindakan yang cepat dan jelas. Petugas bergerak melakukan penyiraman, sementara kondisi udara terus dipantau agar langkah perlindungan warga dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan," ujar Dudi, Senin (7/9).
Ia menambahkan, penyempitan area terdampak PM10 tinggi menjadi penanda positif dalam upaya mitigasi paparan abu vulkanik di ruang publik.
"Penyempitan sebaran PM10 tinggi merupakan perkembangan yang menggembirakan. Data ini sekaligus membantu kami mengenali wilayah yang masih membutuhkan perhatian, sehingga penanganan berikutnya dapat lebih terarah," katanya.
Alasan Teknis Penyiraman Endapan Abu Vulkanik
Langkah pembasahan ini difokuskan pada endapan abu yang menempel di permukaan jalan dan sarana umum. Jika dibiarkan kering, lalu lintas kendaraan serta hembusan angin dapat memicu abu beterbangan kembali ke udara (re-suspension) dan membahayakan pernapasan warga.
Metode pembasahan sebelum pembersihan ini juga sejalan dengan panduan teknis penanganan abu vulkanik yang dirilis oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Selain PM10, pemantauan terhadap partikulat PM2.5 menunjukkan penurunan sebaran area tinggi di sebagian wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
Namun, kawasan seperti Kembangan dan Kebon Jeruk masih memerlukan pencermatan intensif. Di sisi lain, parameter sulfur dioksida (SO₂) belum menunjukkan perbaikan yang merata sehingga pengawasan ketat tetap dilanjutkan.
Evaluasi Lanjutan dan Imbauan untuk Warga
Evaluasi penanganan ke depan akan terus memperhitungkan faktor meteorologi seperti arah angin, potensi curah hujan, serta kontribusi sumber pencemar lainnya. DLH DKI Jakarta berkomitmen mempublikasikan perkembangan data kualitas udara secara berkala kepada publik.
"Kami akan menggunakan hasil pemantauan untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan, sekaligus menyampaikan perkembangan kondisi udara secara terbuka. Dengan begitu, warga mengetahui apa yang sedang dilakukan pemerintah dan langkah yang perlu mereka ambil untuk melindungi keluarga," tutur Dudi.
Pemprov DKI Jakarta mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Warga disarankan memakai masker saat beraktivitas di luar gedung dan membatasi kegiatan di luar ruangan jika wilayahnya terdampak paparan abu.
Untuk pembersihan mandiri, endapan abu disarankan agar dibasahi terlebih dahulu sebelum disapu. Informasi kualitas udara terkini dapat diakses secara berkala melalui laman udara.jakarta.go.id serta pembaruan resmi dari DLH, BPBD, dan BMKG.
"Keselamatan warga menjadi pegangan kami. Melalui kerja bersama lintas dinas dan pemantauan yang berkelanjutan, kami ingin memastikan respons pemerintah tetap cepat, penanganannya tepat sasaran, dan masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami," imbuh Dudi.