JawaPos.com - Dinas Pendidikan DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah di Jakarta mulai Senin (7/9) menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai menjangkau wilayah ibu kota.
Langkah ini diambil guna melindungi kesehatan dan keselamatan siswa, guru, serta tenaga kependidikan dari paparan partikel halus abu vulkanik.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana menegaskan, penerapan PJJ tidak mematikan proses kegiatan belajar mengajar. Skema pembelajaran akan terus berjalan fleksibel dengan menyesuaikan kondisi serta kebutuhan tiap siswa.
Baca Juga: Paparan Abu Vulkanik Anak Krakatau, Sekolah Perlu Batasi Kegiatan Siswa di Luar Ruangan
"Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah. Orang tua tidak perlu panik, karena proses pembelajaran tetap berjalan," ujar Nahdiana di Jakarta, Minggu (6/9).
Untuk menunjang kelancaran PJJ, Dinas Pendidikan DKI Jakarta melakukan pemantauan, pendampingan, serta menyediakan skema alternatif jika sekolah menemui kendala teknis di lapangan.
"Keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas. Kami juga mengimbau orang tua mendampingi anak selama belajar dari rumah dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi," lanjutnya.
Warga Diminta Jalankan 5M
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau warga tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, mengingat status Gunung Anak Krakatau kini berada di Level III (Siaga).
"Khususnya kepada masyarakat Jakarta, saya menghimbau untuk tetap tenang dan waspada. Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada level 3 atau Siaga," kata Pramono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Minggu (6/9).
Guna meminimalkan risiko kesehatan akibat paparan abu, Pramono meminta masyarakat disiplin menerapkan panduan proteksi diri 5M:
1. Memakai masker saat beraktivitas.
2. Menutup pintu, jendela, serta sumber air bersih.
3. Membatasi aktivitas di luar ruangan.
4. Membersihkan abu dengan membasahi permukaan terlebih dahulu.
5. Memantau informasi resmi dan tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi.
"Bila wilayahnya mulai terdampak abu vulkanik, lakukan 5M. Tetap waspada, lindungi diri dan keluarga. Mari bersama-sama jaga Jakarta dengan menjaga diri kita dari abu vulkanik," tegas Pramono.
Potensi Bahaya Partikel Abu Vulkanik bagi Kelompok Rentan
Peningkatan status Siaga Gunung Anak Krakatau sendiri telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak Jumat (4/9) malam. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Climatology, dan Geofisika (BMKG), pergerakan abu sangat dipengaruhi oleh kecenderungan arah dan kecepatan angin lokal.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengungkapkan bahaya laten mikropartikel abu vulkanik yang jauh lebih tajam dibanding debu jalanan biasa.
"Partikelnya yang sangat halus berpotensi memicu iritasi pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit," jelas Marulitua, Minggu (6/9).
Ancaman iritasi ini patut diwaspadai oleh kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan seperti asma, gangguan paru, atau jantung.
Meskipun demikian, Pemprov DKI Jakarta memastikan bahwa roda aktivitas kota tetap berjalan dengan kewaspadaan yang proporsional. Warga diminta memperbarui informasi perkembangan kualitas udara dan aktivitas vulkanik secara berkala hanya melalui kanal resmi PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, serta Pemprov DKI Jakarta.
"Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan yang proporsional. Ikuti informasi resmi, lindungi diri dan keluarga, tetap tenang, tetap waspada," imbuh Marulitua.