JawaPos.com - Penutupan sementara Stasiun Karet dan pengalihan operasional penumpang ke Stasiun BNI City yang dimulai hari ini Selasa (1/9) memicu respons beragam.
Di satu sisi, langkah integrasi ini disambut baik pengguna jalan karena berpotensi memurai kemacetan kronis di perlintasan sebidang KH Mas Mansyur. Namun di sisi lain, fasilitas aksesibilitas yang minim di lokasi baru memaksa para pengguna menguras tenaga ekstra.
Pengalihan total aktivitas naik-turun penumpang ini merupakan bagian dari proyek integrasi Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru/BNI City yang dijadwalkan berlangsung hingga 31 Desember 2026.
Fasilitas Tangga Manual Dikeluhkan Penumpang
Kendati bangunan Stasiun BNI City tampak megah, kenyataan di lapangan justru menyisakan keluhan bagi sebagian pengguna kereta. Ketiadaan fasilitas eskalator menuju area pintu keluar ke arah Jalan KH Mas Mansyur memaksa penumpang mengandalkan tangga manual.
Baca Juga: Punya Budget Mentok Rp 20 Juta? Ini Rekomendasi 5 Motor yang Cocok buat Harian
Kondisi diperparah dengan keberadaan lift prioritas yang kapasitasnya sangat terbatas sehingga tidak mampu mengurai antrean dan kepadatan penumpang di jam sibuk.
Akibatnya, penumpang KRL yang tiba di Peron 1 dari arah Stasiun Manggarai harus berjalan memutar dan memanjat anak tangga ekstra untuk mencapai akses keluar. Hal ini dikeluhkan seorang pengguna, Bara, 35.
"Selain itu peronnya juga lebih kecil, sempit kalau di jam-jam sibuk," ujar Bara.
Ia menceritakan, saat Stasiun Karet masih beroperasi penuh, ia hanya perlu berjalan singkat ke pintu keluar. Apalagi, keberadaan kantornya cukup jauh dari stasiun BNI City.
"Jalannya lumayan jauh, apalagi kantor saya arahnya lebih deket dari karet," ungkapnya.
Diharapkan Kemacetan Berkurang
Bagi para pengguna jalan raya, penutupan akses perlintasan sebidang di Jalan KH Mas Mansyur dinilai sebagai keputusan tepat. Jalur tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu titik kemacetan parah di kawasan pusat Jakarta, bahkan kerap memicu insiden berbahaya.
Reza, 27, seorang pengendara sepeda motor yang kerap melintas di kawasan tersebut, menilai kebijakan ini membawa angin segar bagi kelancaran lalu lintas di sekitar Thamrin dan KH Mas Mansyur.
Baca Juga: Patahkan Stigma Kampungan, Siswa Madrasah Jatim Pamerkan Inovasi Robotika hingga AI
"Mudah-mudahan jadi gak macet sekitar sini. Karena bisa bikin macet sampai ke dekat Thamrin itu ngularnya," ungkap Reza.
Area perlintasan sebidang Karet memang tergolong rawan. Baru-baru ini, sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi ketika satu unit taksi listrik tersambar KRL Commuter Line akibat terjebak kemacetan saat menerobos palang pintu kereta pada Senin (24/8) lalu.
Integrasi Kawasan dan Layanan Perjalanan KRL
PT KAI Daop 1 Jakarta dan KAI Commuter menegaskan bahwa proses integrasi ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan, merapikan pergerakan penumpang, serta membenahkan infrastruktur kawasan Sudirman hingga Terowongan Kendal.
Direktur Utama KAI Commuter Purnomo Sidi sebelumnya menjelaskan, penataan ini mengedepankan prinsip kehati-hatian mengingat tingginya rasio penggunaan Stasiun Karet oleh masyarakat.
"Selama proses pekerjaan integrasi ini disiapkan dengan prinsip kehati-hatian karena Stasiun Karet telah menjadi bagian dari aktivitas harian pengguna Commuter Line dan masyarakat sekitar," ujar Purnomo.
Meskipun titik alur penumpang dipindahkan ke Stasiun BNI City, frekuensi perjalanan KRL tidak mengalami perubahan. Sebanyak 264 perjalanan Commuter Line lintas Cikarang/Kampung Bandan per hari dipastikan tetap beroperasi sesuai jadwal.
Begitu pula dengan operasional Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta) yang berjalan normal.
Untuk memudahkan akses, KAI Commuter telah menyiapkan selasar khusus di samping stasiun lama menuju BNI City, lengkap dengan gate elektronik, hall penumpang, serta loket di sisi barat.
Langkah penggabungan ini didasari oleh tingginya mobilitas penglaju. Data KAI Commuter periode Januari hingga Juli 2026 mencatat Stasiun Karet melayani lebih dari 4,3 juta aktivitas naik-turun penumpang, sementara BNI City mencatat 1,6 juta aktivitas—menjadikan kawasan integrasi ini menampung total 5,9 juta pergerakan penumpang dalam kurun tujuh bulan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengimbau para pengguna untuk mencermati petunjuk arah (signage) dan instruksi petugas di lapangan selama masa transisi penataan ini.
"Penataan kawasan integrasi juga akan menghadirkan aksesibilitas di sisi Stasiun Karet dan aksesibilitas di sisi terowongan Kendal," tutur Karina.