← Beranda
Pengakuan Hafiz Quran Korban Salah Tangkap di Pejompongan: Dipaksa Ngaku Provokator
Ryandi ZahdomoSabtu, 29 Agustus 2026 | 05.31 WIB
Faturrohman, 18, kembali ke rumahnya setelah menjadi korban penganiayaan oleh kelompok orang tidak dikenal (OTK) saat pembubaran massa demonstrasi di kawasan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

JawaPos.com - Faturrohman, 18, korban penganiayaan dan salah tangkap saat pembubaran massa aksi di Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, membeberkan kronologi insiden kekerasan yang menimpanya. 

Pemuda Hafiz Quran itu mengaku diseret dari gang rumahnya sendiri, diintimidasi, hingga dipaksa mengaku sebagai provokator kerusuhan.

Peristiwa tersebut terjadi ketika massa yang terdesak mulai masuk ke area pemukiman warga.

Saat itu, Faturrohman sedang berdiri di area gang rumahnya sebelum sekumpulan orang mendatanginya secara mendadak.

Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Melayat Lansia Korban Tewas Kerusuhan Pejompongan

Faturrohman menegaskan dirinya sama sekali tidak ikut dalam aksi demonstrasi di depan gedung DPR.

Meskipun telah menjelaskan statusnya sebagai warga setempat, sekelompok orang yang mengaku sebagai intel tersebut tetap menarik dan menyeretnya ke luar pemukiman.

"Sudah, saya ngomong ini saya warga sini. Dia enggak percaya, ya sudah saya dibawa ke luar," ujar Fatur di rumahnya, Jumat (28/8).

Setelah ditarik keluar dari area gang, ia dibawa ke kawasan DPR sebelum akhirnya dipindahkan ke Polda Metro Jaya.

Selama proses tersebut, Fatur mengaku mengalami intimidasi verbal dan pemaksaan untuk mengakui peranan yang tidak pernah ia lakukan.

Baca Juga: Lansia Tewas Korban Kerusuhan di Pejompongan Jakpus Sempat Dibawa ke RS Mintohardjo

Saat ditanya mengenai adanya pemaksaan untuk mengaku sebagai provokator, Faturrohman membenarkan hal tersebut. "Ada pemaksaan (disuruh mengaku). Ya begitulah," ungkapnya.

Alami Kekerasan Fisik hingga Terluka

Tak hanya tekanan psikologis, Fatur juga mengalami tindakan kekerasan fisik di beberapa bagian tubuhnya. Penganiayaan tersebut mengakibatkan cedera fisik yang cukup parah.

"Bagian dada, terus punggung, kepala," kata Faturrohman merincikan area tubuhnya yang menjadi sasaran pemukulan.

Ia menambahkan bahwa pemukulan dilakukan menggunakan tangan kosong serta benda tajam berukuran tipis menyerupai pisau atau penggaris.

Guru sekolah korban, Fahmi, yang mendampingi di lokasi turut menunjukkan kondisi fisik Fatur akibat penganiayaan tersebut.

Baca Juga: Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur

Ia menyebut anak didiknya mengalami luka tusuk di bagian kepala serta dua gigi depan yang patah.

"Dia kan enggak bisa bersuara digebugin. Enggak sempat teriak aduh. Dan HP-nya jatuh," tuturnya.

Fahmi menambahkan, Fatur merupakan pelajar kelas 12 yang juga seorang qori dan hafiz Quran.

Sebelum insiden terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, korban masih sempat merespons pesan singkat terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Selain Faturrohman yang harus menjalani perawatan di rumah sakit, peristiwa penyerangan di pemukiman warga tersebut juga memakan korban jiwa.

Baca Juga: Kericuhan di Pejompongan Makan Korban, Pedagang Cermin Tewas Usai Dikeroyok Orang Tak Dikenal

Seorang warga setempat bernama Bambang meninggal dunia di RS Kramat Jati Polri usai menjadi korban penyerangan dalam peristiwa yang sama.

EDITOR: Bayu Putra