← Beranda
Pernah Lihat Jembatan Tangga di Tengah Jalan Puncak? Berikut Sejarahnya hingga Jejak Soekarno
Nanda PrayogaKamis, 13 Agustus 2026 | 00.37 WIB
Jejak Soekarno di Vila Riung Gunung. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Di kawasan Riung Gunung, Puncak, Kabupaten Bogor, terdapat sebuah bangunan yang menyimpan jejak sejarah dari masa awal kemerdekaan Indonesia. Vila Riung Gunung berdiri di balik pepohonan dan hanya dapat terlihat setelah menaiki tangga panjang yang berada di sisi jalan.

Keberadaan tangga tersebut viral setelah akun X @Ccookk_ mengunggah foto tangga yang berada di kawasan Puncak. “Diatas ini sebenernya apa dah??? Puncak Bogor, Jawa Barat”.

Unggahan itu kemudian memunculkan berbagai dugaan mengenai bangunan yang berada di ujung tangga, mulai dari vila tua hingga bangunan yang sudah lama tidak digunakan.

Di balik tangga tersebut terdapat Vila Riung Gunung yang memiliki catatan sejarah sejak dekade 1950-an. Bangunan ini didirikan pada rentang 1955–1957 dan dikenal sebagai salah satu tempat yang pernah digunakan Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, untuk singgah dan beristirahat ketika berada di kawasan Puncak.

Baca Juga: Pengamat Lihat Potensi Positif Kinerja BUMN di Bawah Danantara

Hubungan vila tersebut dengan Soekarno juga tercatat melalui sebuah prasasti yang masih berada di dalam bangunan. Prasasti itu mencantumkan keterangan bahwa pembangunan vila dilakukan di bawah pimpinan Soekarno, dengan Soedarsono sebagai arsiteknya.

Selain catatan tertulis pada prasasti, keberadaan Soekarno di Riung Gunung juga menjadi bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat sekitar. Memasuki dekade 1960-an, riwayat tempat tersebut semakin terlihat dalam sejumlah catatan dan dokumentasi ketika Vila Riung Gunung digunakan sebagai Riung Gunung Coffee House.

Pernah Menjadi Coffee House di Jalur Jakarta–Bandung

Pada dekade 1960-an, kawasan Puncak merupakan salah satu jalur yang dilewati dalam perjalanan Jakarta–Bandung. Di tengah jalur yang berkelok dan dikelilingi perbukitan, Riung Gunung menjadi salah satu tempat persinggahan. Sebuah tangga panjang dari tepi jalan menghubungkan kawasan tersebut dengan bangunan yang digunakan sebagai tempat menikmati kopi sekaligus beristirahat.

Pada masa itu, pengelolaan Vila Riung Gunung berada di bawah Hotel Indonesia dan bangunan tersebut difungsikan sebagai coffee house. Kuki Nasution, warga Bogor yang pernah mendatangi tempat itu pada dekade 1960-an, masih mengingat suasana Riung Gunung saat itu.

“Iya, saya pernah mengunjungi Riung Gunung. Karena saya orang Bogor, jaraknya ke Puncak tidak terlalu jauh. Pada waktu itu belum banyak kafe atau restoran yang bagus, jadi saya suka banget suasananya. Enak banget. Banyak tanaman di dalam restorannya. Penataannya bahkan sudah terasa seperti restoran masa kini, homey, cozy, dan hangat,” ujar Kuki dalam keterangannya.

Riung Gunung Coffee House pada periode tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat persinggahan masyarakat yang melakukan perjalanan menuju atau dari Bandung. Arsip sejarah juga menunjukkan bahwa tempat itu pernah menjadi bagian dari sejumlah agenda kunjungan dan kegiatan resmi.

Salah satunya tercatat pada Januari 1964. Dokumen yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kunjungan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja bersama istrinya ke Riung Gunung bersama Soekarno. Pada tahun yang sama, dokumentasi lainnya memperlihatkan kegiatan rehat kopi di tempat tersebut sebagai bagian dari rangkaian persiapan Konferensi Asia-Afrika II.

Baca Juga: MAKI Desak Kejaksaan Agung Ambil Alih Kasus Pembangunan Rumah Eks Pejuang Timtim

Riung Gunung kembali tercatat dalam agenda kunjungan pejabat negara beberapa tahun kemudian. Pada Oktober 1967, Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato bersama istrinya juga mendatangi tempat tersebut dalam rangkaian kunjungan mereka ke Indonesia.

Berubah Menjadi Vila Privat

Fungsi Riung Gunung sebagai coffee house kemudian berakhir memasuki awal dekade 1970-an. Setelah itu, tempat tersebut lebih banyak digunakan sebagai vila privat dengan akses yang semakin terbatas.

Perubahan fungsi tersebut membuat aktivitas yang sebelumnya berlangsung di kawasan itu perlahan tidak lagi terlihat oleh masyarakat yang melintas. Bangunan yang dahulu menjadi tempat persinggahan dan menerima sejumlah tamu kemudian semakin tertutup pepohonan, sementara akses dari jalan utama tetap ditandai oleh tangga panjang.

Baca Juga: Rutin Donor Darah Sejak SMA, Saepullah Tersangka Mutilasi Pria di Depok Idap HIV Sejak Februari 2026

Riwayat Vila Riung Gunung kemudian lebih banyak bertahan melalui kesaksian orang-orang yang pernah datang, dokumentasi lama, serta arsip dari berbagai periode. Bagi masyarakat yang melewati jalur Puncak, keberadaan bangunan itu akhirnya lebih sering terlihat sebagai sebuah bangunan lama yang tersembunyi di balik pepohonan.

Pengalaman mengenai kondisi akses menuju tempat tersebut juga diceritakan Wiwin Trinarti, dosen Program Studi Arab FIB UI, yang pernah mengunjungi Riung Gunung pada dekade 1980-an.

“Saya pernah dua kali ke sana, salah satunya pada tahun 1983 untuk kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI. Sejak awal, kami sudah diingatkan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya kurang terawat. Ke depan, saya berharap tangga dan jembatan tersebut dapat kembali digunakan. Pastinya harus melibatkan pihak-pihak yang betul-betul tahu tentang konstruksinya, agar bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, tapi juga tidak kehilangan nilai historisnya,” ujar Wiwin.

Terbatasnya akses dan posisi bangunan yang tidak terlihat langsung dari jalan membuat keberadaan Vila Riung Gunung perlahan menjadi bagian dari cerita yang hanya diketahui sebagian orang. Namun, jejak sejarahnya menunjukkan bahwa tempat tersebut pernah memiliki peran dalam kehidupan Puncak, khususnya pada dekade 1960-an.

Kemunculan kembali foto tangga Riung Gunung di media sosial akhirnya membuka perhatian terhadap bangunan di baliknya. Di balik akses yang kini terlihat sederhana tersebut, terdapat catatan mengenai sebuah vila yang pernah menjadi tempat Soekarno singgah, digunakan sebagai coffee house, serta didatangi sejumlah tokoh penting dari luar negeri.

Percakapan yang muncul setelah unggahan tersebut juga memperlihatkan masih adanya masyarakat yang penasaran dengan kondisi Vila Riung Gunung. Sejumlah warganet bahkan menyampaikan harapan agar tempat tersebut dapat kembali dikenali, terutama karena keberadaannya menyimpan bagian dari sejarah Puncak.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan