JawaPos.com – Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja ke sejumlah fasilitas operasional PAM JAYA dalam rangka meninjau upaya penanganan Non-Revenue Water (NRW) atau kehilangan air yang menjadi salah satu tantangan utama dalam penyediaan layanan air minum di Jakarta.
Kunjungan tersebut dilaksanakan di Distribution Center (DC) Pondok Kopi, Take Off Sentra Timur, serta Distribution Center (DC) Cilincing. Ketiga lokasi tersebut merupakan bagian penting dari sistem distribusi air bersih PAM JAYA yang berperan dalam menjaga kontinuitas pasokan sekaligus mendukung upaya penurunan tingkat kehilangan air.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Ade Suherman, mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan PAM JAYA dalam menekan angka NRW melalui penggantian jaringan pipa tua, penerapan teknologi deteksi kebocoran, pembentukan District Meter Area (DMA), serta digitalisasi sistem pemantauan distribusi air.
Baca Juga: Komdigi Perketat Pengawasan Registrasi SIM Biometrik, Minta Penjual Patuh Cegah Penyalahgunaan
Menurut Ade, keberhasilan menurunkan NRW merupakan salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat tanpa harus selalu menambah kapasitas produksi maupun mencari sumber air baku baru.
“Kami mengapresiasi komitmen PAM JAYA dalam menekan angka Non-Revenue Water. Setiap persen kehilangan air yang berhasil dikurangi berarti semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati layanan air bersih secara optimal tanpa harus menambah produksi air.”
Ade menjelaskan bahwa kehilangan air tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kepada pelanggan. Kebocoran jaringan maupun kehilangan nonfisik berpotensi mengurangi pasokan air bagi masyarakat sekaligus meningkatkan biaya operasional perusahaan.
Karena itu, ia mendorong agar program penurunan NRW terus menjadi prioritas utama dalam transformasi layanan PAM JAYA.
Baca Juga: Iran Siaga Hadapi Penguatan Militer AS di Kawasan Timur Tengah
“Membangun jaringan baru memang penting, tetapi menjaga agar air yang sudah diproduksi benar-benar sampai ke pelanggan juga tidak kalah penting. Efisiensi distribusi harus menjadi fokus bersama.”
Selain memberikan apresiasi, Ade juga mengingatkan pentingnya pengawasan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan program penurunan NRW. Menurutnya, investasi yang cukup besar untuk rehabilitasi jaringan perpipaan harus diiringi dengan target yang terukur, evaluasi berkala, serta pemanfaatan teknologi yang semakin modern.
Ia mendorong PAM JAYA terus memperluas penggunaan sistem pemantauan digital, teknologi pendeteksi kebocoran, serta mempercepat respons terhadap gangguan jaringan agar kehilangan air dapat ditekan secara signifikan.
“Setiap investasi harus menghasilkan peningkatan pelayanan yang nyata. Program penurunan NRW harus terus dipantau agar target-target yang telah ditetapkan benar-benar tercapai dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.”
Ade juga menilai keberhasilan menurunkan NRW akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperluas cakupan layanan air perpipaan bagi seluruh warga.
Menurutnya, pelayanan air minum yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keandalan jaringan distribusi hingga air benar-benar diterima pelanggan.
Baca Juga: Jakarta Terbitkan Obligasi Daerah Rp 3,5 triliun pada 2027, Untuk LRT hingga Sekolah
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, setiap upaya meningkatkan efisiensi distribusi, mengurangi kehilangan air, dan memperluas akses layanan harus terus kita dukung. DPRD melalui fungsi pengawasan akan terus mengawal agar program-program strategis PAM JAYA berjalan tepat sasaran, transparan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warga Jakarta,” tutup Ade Suherman.