JawaPos.com - Demam final Piala Dunia 2026 tidak hanya melanda pencinta sepak bola dunia, tetapi juga Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Namun, laga puncak yang mempertemukan Spanyol dan Argentina itu menyisakan cerita menggelitik bagi sang kepala daerah.
Pramono mengaku habis begadang lantaran menonton final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan spanyol vs Argentina. Namun sayang, timnas jagoannya, Argentina, harus bertekuk lutut di hadapan Spanyol. Penderitaannya makin lengkap lantaran ia menjadi sasaran ledekan sang istri yang mendukung La Roja.
"Yang terakhir, karena tadi malam Pak Gubernur juga nonton bola, udah gitu jagonya kalah lagi. Pak Gubernur jagonya Argentina, Bu Gubernur jagonya Spanyol. Udah kalah diledek-ledek lagi. Jadi ngantuk," ujar Pramono berkelakar saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tingkat Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota, Senin (20/7).
Spanyol Diklaim Layak Menang atas Argentina
Meskipun kecewa tim pilihannya gagal juara, Pramono Anung secara objektif mengakui keunggulan strategi dan materi pemain tim matador. Sepanjang laga, pertahanan Argentina dinilai terus digempur tanpa henti oleh pasukan muda Spanyol.
"Yang pertama pertandingannya kemarin seru banget, walaupun Spanyol dominan dan saya nonton secara keseluruhan. Memang dari materi dan juga dari strategi, kalau kemudian Argentina kalah 1-0 dengan Spanyol menurut saya pantas, karena memang hampir sebelum perpanjangan waktu pun apa ya, dikurung total. Dan memang Spanyol luar biasa, pemainnya muda-muda dan trengginas," tutur Pramono menambahkan.
Kemenangan Spanyol pada laga yang digelar Senin (20/7) waktu setempat itu dipastikan lewat gol semata wayang Ferran Torres pada babak extra time, tepatnya di menit ke-106. Hasil ini sekaligus mengubur mimpi kapten Argentina, Lionel Messi, untuk menutup karier internasionalnya dengan trofi Piala Dunia kedua.
Dominasi La Roja Sejak Menit Pertama
Sejak peluit awal dibunyikan, anak asuh Luis de la Fuente langsung mengambil alih kendali permainan. Mengandalkan umpan-umpan pendek dan kecepatan motor serangan seperti Lamine Yamal, Nico Williams, Dani Olmo, dan Alex Baena, La Roja terus mendikte tempo permainan.
Lamine Yamal bahkan langsung mengancam gawang Argentina pada menit kelima memanfaatkan bola liar. Beruntung, kolaborasi lini belakang Argentina yang digalang Emiliano Martinez dan Lisandro Martinez masih mampu menyelamatkan gawang dari kebobolan prematur.
Tekanan bertubi-tubi dari sektor kanan yang dimotori Pedro Porro dan Lamine Yamal membuat Cristian Romero dan kolega dipaksa bertahan total sepanjang babak pertama. Kendati dominan, rapatnya pertahanan membuat efektivitas serangan kedua tim tergolong rendah. Hingga menit ke-27, tercatat hanya ada satu tembakan yang tercipta—rekor tembakan tersedikit dalam 25 menit awal final Piala Dunia sejak 1966.
Lini Tengah Terkunci, Cedera Mengintai Argentina
Strategi disiplin yang diterapkan lini tengah Spanyol berhasil mematikan pergerakan Lionel Messi. Megabintang dunia tersebut nyaris terisolasi dan kesulitan mengalirkan bola ke lini depan lantaran selalu dikawal ketat oleh pemain lawan.
Hingga menit ke-27 berjalan, Messi tercatat baru melakukan dua kali sentuhan bola. Statistik ini menjadi catatan sentuhan paling minim yang pernah diraih Messi dalam 20 menit pertama laga Piala Dunia saat turun sebagai starter.
Petaka bagi La Albiceleste bertambah menjelang jeda turun minum. Bek andalan mereka, Lisandro Martinez, mengalami cedera dan terpaksa ditarik keluar pada menit ke-44 setelah sebelumnya sempat menerima kartu kuning. Pelatih Lionel Scaloni kemudian memasukkan Nicolas Otamendi untuk menjaga stabilitas pertahanan hingga skor kacamata bertahan sampai babak pertama usai.
Kebuntuan Spanyol akhirnya pecah saat babak kedua extra time baru berjalan 37 detik. Umpan silang Pedro Porro ke tiang jauh berhasil diamankan Nico Williams sebelum dioper kembali ke mulut gawang. Ferran Torres yang lepas dari pengawalan langsung menyambar bola dengan sepakan keras ke langit-langit gawang Emiliano Martinez pada menit ke-106. Skor berubah menjadi 1-0.
Gol tersebut tidak hanya membawa La Roja unggul, tetapi juga menempatkan Ferran Torres dalam buku sejarah. Penyerang Barcelona itu menjadi pemain pengganti kelima yang mencetak gol di final Piala Dunia, sekaligus menyamai torehan ikonik Andres Iniesta pada edisi Piala Dunia 2010 silam.
Skor 1-0 mengunci gelar juara dunia kedua bagi Spanyol setelah penantian selama 16 tahun, sekaligus menyisakan air mata bagi Lionel Messi yang gagal mempertahankan mahkota juara dunia.