← Beranda
Anggota Persma 'Suma UI' Alami Intimidasi, Doxing, hingga Dikuntit usai Unggah Soal Pride Month
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 16 Juni 2026 | 05.44 WIB
BEM UI menggelar aksi demonstrasi bertajuk 'Aksi Menuju Indonesia Bangkrut' di kawasan Bundaran HI, Jakarta. (Reyhan/JawaPos.com)

 

JawaPos.com – Anggota Pers Mahasiswa (Persma) Universitas Indonesia (UI), Suara Mahasiswa UI (Suma UI), mengaku mengalami berbagai bentuk intimidasi, mulai dari doxing, ancaman, pelecehan verbal, hingga penguntitan setelah memperingati Pride Month melalui publikasi bertajuk "Menguji Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan" di Instagram.

Dalam pernyataan resminya, Suma UI menyebut respons terhadap unggahan tersebut tidak lagi sebatas perdebatan di ruang publik, tetapi telah berkembang menjadi serangan yang menyasar keselamatan dan kehidupan pribadi para jurnalisnya.

"Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah jurnalis Suma UI mengalami berbagai bentuk kekerasan dan intimidasi, baik di ruang digital maupun di kehidupan sehari-hari," tulis Suma UI dalam keterangannya, Senin (15/6).

Alami Doxing hingga Ancaman

Suma UI mengungkapkan, sejumlah jurnalisnya mengalami penyebarluasan data pribadi atau doxing, termasuk alamat rumah dan nomor telepon pribadi.

Selain itu, mereka juga menerima panggilan dan pesan berulang yang bernada ancaman dan intimidatif. Para anggota persma UI disebut menjadi sasaran pelecehan verbal dan ujaran kebencian di media sosial.

Tak hanya itu, insiden yang disoroti adalah dugaan penguntitan terhadap seorang anggota Suma UI saat menjalankan tugas peliputan.

Menurut Suma UI, seorang anggota mereka diikuti oleh seorang laki-laki berbaju biru dan bercelana pendek sekitar pukul 21.30 WIB.

Setelah melakukan peliputan aksi #MenujuIndonesiaBangkrut pada 12 Juni 2026 lalu, rumah salah seorang anggota disebut bahkan didatangi orang tidak dikenal sekitar pukul 22.00 WIB.

"Peristiwa tersebut menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran yang nyata terhadap keselamatan jurnalis dan keluarganya," tulis Suma UI.

Soroti Kesalahpahaman di Ruang Publik

Dalam pernyataannya, Suma UI juga menyayangkan sejumlah pemberitaan dan unggahan di media sosial yang dinilai mengaburkan perbedaan antara Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia sebagai lembaga pers mahasiswa dan Universitas Indonesia sebagai institusi.

Menurut mereka, sejumlah informasi yang beredar menimbulkan kesan bahwa publikasi mengenai Pride Month tersebut merupakan sikap resmi Universitas Indonesia.

Padahal, Suma UI menegaskan bahwa publikasi tersebut merupakan produk jurnalistik yang diterbitkan secara independen oleh lembaga pers mahasiswa.

"Kesalahpahaman ini turut memperbesar sentimen publik dan berkontribusi pada serangan yang diterima jurnalis Suma UI," demikian pernyataan tersebut.

Ingatkan soal Perlindungan Pers Mahasiswa

Suma UI menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan akademik dan kebebasan pers yang dijamin dalam berbagai ketentuan.

Mereka merujuk pada Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengenai penguatan dan perlindungan aktivitas jurnalistik mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.

Atas berbagai intimidasi yang terjadi, Suma UI menilai keselamatan jurnalis mahasiswa harus menjadi perhatian bersama agar kebebasan pers dan kebebasan akademik di lingkungan kampus tetap terlindungi.

UI Sebut Unggahan Suma UI Bukan Sikap Universitas

Sebelumnya, Universitas Indonesia (UI) menegaskan bahwa unggahan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa (Suma) UI terkait Pride Month yang menyoroti kekerasan terhadap LGBTQ tidak mencerminkan sikap resmi universitas maupun keseluruhan sivitas akademika UI.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul polemik yang berkembang di masyarakat setelah unggahan Suma UI mengenai Pride Month menuai perdebatan di media sosial.

Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Erwin Agustian Panigoro, menyatakan bahwa isi unggahan tersebut merupakan pandangan redaksional organisasi kemahasiswaan yang bersangkutan.

"Konten tersebut tidak mencerminkan sikap resmi Universitas Indonesia maupun keseluruhan sivitas akademika UI," ujar Erwin dalam keterangan yang diterima JawaPos.com, Sabtu (13/6).

EDITOR: Estu Suryowati