JawaPos.com - Aksi unjuk rasa Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut yang dimotori oleh BEM Universitas Indonesia (UI) diwarnai pengadangan ketat oleh aparat kepolisian. Dari sekitar 1.000 massa aksi yang bergerak, hanya 5 mahasiswa yang berhasil menembus barikade polisi di sejumlah titik, Jumat (12/5).
Sisanya, ribuan mahasiswa tertahan dan dicegat polisi agar tidak bisa menjangkau titik aksi utama yang direncanakan di Bundaran HI.
Pantauan JawaPos.com di lokasi terlihat aparat kepolisian maupun TNI membuat barikade di sekitar Dukuh Atas.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof), menyatakan kekecewaannya atas tindakan represif dan blokade yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Menurutnya, mahasiswa sudah melayangkan surat pemberitahuan resmi untuk menggelar aksi di Bundaran HI, namun polisi memaksa mereka berdemo di lokasi lain.
Aksi pengadangan bahkan sudah terjadi sejak siang hari sebelum massa mencapai Semanggi, tepatnya di kawasan Dukuh Atas saat mahasiswa hendak menunaikan ibadah sholat Jumat.
"Kami, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut, ingin melakukan press release terkait penahanan dan blokade serta represivitas yang dilakukan oleh polisi kepada kami. Dan kami juga dipaksa melakukan demonstrasi di DPR. Padahal kami merencanakan, dan juga telah mengirimkan surat kepada kepolisian, kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI," ujar Athof di kawadan Bundaran HI, Jumat (12/6).
"Pada pukul 12.00 kurang 5 menit siang, kami tepatnya di Dukuh Atas, ditahan oleh polisi. Saat itu, kami sedang ingin menjalankan ibadah salat Jumat. Di mana hal itu telah diatur dalam Undang-Undang 1945 Konstitusi dan juga Pancasila," lanjutnya.
Ia menyayangkan sikap aparat yang dinilai melanggar konstitusi karena tidak memberikan alasan jelas terkait penahanan massa. Polisi bahkan meminta mahasiswa untuk beribadah di tempat lain yang bukan menjadi rencana mereka.
"Sejak kapan polisi punya hak untuk melarang rakyat Indonesia melakukan ibadah yang diatur dalam konstitusi?," kata Athof.
Alasan Mahasiswa Tolak Demo di DPR dan Istana
Meskipun mendapat barikade ketat hingga hanya 5 mahasiswa yang lolos ke Bundaran HI, ribuan mahasiswa yang tertahan di Semanggi dan DPR menegaskan tidak akan mengubah target sasaran aksi mereka.
Athof menyebut DPR dan Istana sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga Bundaran HI dipilih sebagai simbol untuk menunjukkan kepada publik bahwa kondisi negara sedang tidak baik-baik saja.
"Terakhir, hari ini membuktikan bahwa valid untuk kita melakukan aksi di Bundaran HI. Kenapa? Karena bahkan tuntutan nomor lima, pemerintah malah sekarang sudah mengelak. Bagaimana bisa pemerintah yang tidak pernah mendengar rakyatnya sendiri, sekarang malah ingin kita mahasiswa demo di DPR? Justru itu dipertanyakan," jelasnya.
Seruan Aksi: Indonesia Menuju Bangkrut
Berdasarkan siaran pers resmi Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut, aksi turun ke jalan ini dipicu oleh situasi ekonomi dan kepemimpinan Prabowo-Gibran yang dinilai buruk, minim akuntabilitas, serta jauh dari keberpihakan pada rakyat.
Mahasiswa menyoroti ketimpangan kebijakan, seperti penerapan pajak UMKM lewat PP 20/2026 yang mencekik rakyat kecil, sementara royalti minerba untuk oligarki justru dibatalkan. Selain itu, mereka juga mengkritik masuknya militerisme ke ruang akademis kampus.
Dalam aksi ini, Aliansi Gerakan Menuju Indonesia Bangkrut membawa 5 tuntutan utama:
- Stop Pemborosan APBN.
- Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM.
- Hentikan Program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
- Hentikan Militerisme di Ranah Sipil.
- Prabowo berhenti Mengelak dan Akui Kesalahan Pemerintah.
Baca Juga: Ada Demo Mahasiswa Hari Ini, 3.099 Personel Jaga Ketat Bundaran HI hingga Monas
Pihak mahasiswa juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga Jakarta atas kemacetan di sekitar Bundaran HI, seraya menegaskan bahwa gangguan lalu lintas ini adalah harga kecil demi mencegah kerusakan negara yang jauh lebih besar. (*)