← Beranda
Kisah Rudi, Pengepul Puing Kebakaran Kemayoran Gempol demi Sisa Besi: Kadang Nemu Emas dan Uang Koin
Ryandi ZahdomoRabu, 3 Juni 2026 | 00.08 WIB
Rudi, pengepul rongsok yang borong puing sisa kebakaran Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat, Selasa (2/6). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Kebakaran hebat baru saja melumat kawasan padat penduduk di Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin (1/6) malam. Di saat ratusan warga meratapi rumah semi permanen mereka yang rata dengan tanah, ada geliat kehidupan lain di atas puing-puing yang masih berasap.

Bagi para korban, harta benda mereka kini sudah menjelma menjadi abu. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan. Alih-alih membiarkannya telantar, warga memilih menjual sisa runtuhan rumah mereka kepada para pengepul barang rongsok sisa kebakaran.

Di sinilah Rudi, 45, mengambil peran. Dengan berbekal spatula stainless berlubang di tangan, pria paruh baya ini dengan cekatan mengorek tumpukan arang guna menyortir sisa besi, paku hingga uang logam.

Rudi bukan korban kebakaran Kemayoran. Ia adalah seorang pemborong rongsokan yang melihat peluang di balik musibah.

"Lagi nyari barang ini besi-besi, paku," ujar Rudi saat ditemui di lokasi, Selasa (2/6).

Baca Juga: Bareskrim Polri Turun Langsung Cek Tambang Ilegal Konawe Selatan, Temukan Fakta

Taruhan Nasib Bermodal Rp300 Ribu per Rumah
Sistem kerja Rudi terbilang unik. Ia tidak mencari barang secara gratis, melainkan membeli "hak" atas puing-puing rumah yang terbakar dari sang pemilik. Di lokasi kebakaran Kemayoran ini, Rudi langsung memborong tiga rumah sekaligus.

"Bukan rumah saya, saya mah tukang borong," jelas Rudi.

Harganya pun bervariasi, tergantung pada perkiraan seberapa banyak material logam yang tersisa di dalam bangunan tersebut.

"Satu kamar 300, ada yang 400," lanjutnya.

Bisnis barang rongsok sisa kebakaran ini adalah soal adu spekulasi. Rudi harus pintar-pintar menebak isi rumah. Jika tebakannya meleset dan rumah tersebut minim material logam, maka ia harus bersiap menelan kerugian.

"Ya tergantung pilihan. Kalau untung, untung, rugi, rugi sekalian, gitu," ungkap Rudi.

Mengubah Seng dan Paku Berkarat Menjadi Rupiah

Barang-barang yang berhasil dikumpulkan Rudi nantinya tidak langsung dijual eceran, melainkan disetor ke bandar besar dengan sistem timbangan kiloan. Harganya pun sudah dipatok berdasarkan jenis logamnya.

"Iya, dikiloin di sama sono, di bos saya. Kilo, sekilonya ada yang Rp4.000, ada yang Rp3.500, ada yang Rp2.000, tergantung besinya," papar Rudi.

Baca Juga: Viral Penonton Ngaku Kena Campak Sebelum Nonton Konser F4, Kemenkes Ingatkan Penularan Lebih Cepat dari Covid

Rudi merinci, untuk material seng bekas, harganya hanya dihargai Rp700 per kilogram. Sementara untuk paku bekas dihargai Rp1.000, dan besi padat menjadi yang paling mahal, yakni Rp4.000 per kilogram.

Pekerjaan ini menguras fisik yang luar biasa. Rudi sudah mulai mengorek puing sejak jam 10 pagi dan biasanya baru selesai menjelang sore hari.

Berburu Emas hingga Uang Logam yang Terbakar

Meski melelahkan dan penuh risiko rugi, pekerjaan sebagai pengepul barang rongsok sisa kebakaran terkadang memberikan kejutan manis. Faktor keberuntungan sering kali mengubah nasib Rudi dalam sekejap.

"Ya kalau kalau kadang beruntung mah dapat emas. Dapat bandul (kalung), cincin, dapat," cerita Rudi.

Bahkan, sekadar menemukan uang logam kuno atau uang koin yang menghitam karena terbakar pun masih memiliki nilai jual. Namun, butuh trik khusus agar koin gosong tersebut laku di pasaran.

Profesi mencari barang rongsokan sejatinya bukan hal baru bagi Rudi. Ia sudah melakoni pekerjaan ini sejak masih bujangan. Namun, khusus untuk berburu di lokasi bekas kebakaran, ini adalah pengalaman barunya.

"Ya baru baru ini, baru nyari bakaran. Tapi kalau ngerongsok keliling-keliling dari bujangan," tambahnya.

Untuk mengangkut seluruh hasil buruannya dari tiga rumah tersebut, Rudi harus merogoh kocek lagi sebesar Rp250.000 untuk menyewa mobil pick up. Oleh karena itu, ia sangat selektif sebelum memutuskan membeli puing rumah warga.

Duka Kemayoran dan Peringatan dari Wagub DKI

Sementara Rudi sibuk mengais rezeki, duka mendalam masih menyelimuti ratusan warga Kemayoran. Kebakaran yang diduga akibat korsleting listrik ini melahap sekitar 250 rumah semi permanen dan berdampak pada 304 bangunan serta 679 jiwa.

Baca Juga: Rugi Hingga Rp 20 Miliar, Puluhan Mitra Travel Hanania Group Buat Laporan Polisi

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang meninjau lokasi pengungsian di Lapangan Yusuf Hamka, mengingatkan warga Jakarta akan bahaya kelalaian instalasi listrik.

"Tapi analisa kita, kebakaran di Jakarta 95% diakibatkan karena korsleting listrik. Saya minta maaf, teman-teman tahu bagaimana situasinya. Kadang-kadang dalam rumah seperti ini ada satu stopkontak dicolok 10, charger handphone. Kemudian belum buat kompor segala macam, akibatnya inilah terjadi arus pendek. Nah, itu, itu realita yang kita dapatkan," ujar Rano Karno.

Kini, api setinggi belasan meter yang sempat mengamuk selama tujuh jam sejak Senin malam itu telah padam. Menyisakan abu, dokumen warga yang hangus, dan cerita perjuangan orang-orang seperti Rudi yang bertahan hidup dari sisa-sisa kehancuran.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan