← Beranda
MRT dan Transjakarta Catat Rekor, Apakah Gen Z Mulai Tinggalkan Kendaraan Pribadi?
Ryandi ZahdomoSenin, 18 Mei 2026 | 03.40 WIB
Suasana salah satu gerbong MRT Jakarta dengan kampanye "Green Future Powered Today". (Istimewa)

JawaPos.com - Jumlah pengguna transportasi publik di Jakarta sukses memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sepanjang tahun 2025, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mencatat lonjakan penumpang hingga mencapai 413,3 juta orang.

Dikutip dari Antara, angka fantastis ini naik 41,6 juta dari tahun sebelumnya, bahkan melesat dua kali lipat lebih jika dibandingkan dengan data tahun 2022 yang berada di angka 191 juta pengguna.

Menariknya, rata-rata harian penumpang Transjakarta kini menembus 1,4 juta orang. Dari total pergerakan tersebut, lebih dari 80 persen di antaranya didominasi oleh kelompok Generasi Z dan Milenial.

Tidak mau kalah, MRT Jakarta juga mencatat pertumbuhan yang serupa. Total penumpang MRT sepanjang tahun 2025 menyentuh angka 45,41 juta orang, atau setara dengan rata-rata 100 ribu penumpang per hari.

Angka ini melonjak signifikan dari tahun 2023 yang hanya berkisar di 91 ribu penumpang harian.

Banyak pihak menilai fenomena ini sebagai bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mulai beralih total ke transportasi umum. Namun, benarkah demikian?

Membaca tren ini tanpa melihat peta Indonesia secara utuh bisa memicu kesimpulan yang terlalu dini. Sebab, realitas di Jakarta jelas berbeda dengan wilayah lain di Indonesia.

Bukan Sekadar Kesadaran Lingkungan, Ini Rahasia Jakarta

Melonjaknya jumlah penumpang di ibu kota tidak terjadi begitu saja karena kesadaran kolektif yang tiba-tiba muncul. Di balik angka-angka tersebut, ada perbaikan fasilitas yang masif dan agresif.

Hingga saat ini, ekspansi rute Transjakarta telah melayani 233 jalur. Selain itu, revitalisasi besar-besaran dilakukan pada 46 dari 271 halte Bus Rapid Transit (BRT).

Sistem integrasi antarmoda yang menghubungkan Transjakarta, MRT, LRT, hingga operator pengumpan (feeder) serta adopsi pembayaran digital terbukti ampuh memangkas waktu antre warga.

Tingginya minat Gen Z terhadap kemudahan akses transportasi ini juga mulai mengubah arah pasar properti. Berdasarkan survei platform daring Jakpat terhadap 1.194 responden Gen Z, sebanyak 65 persen di antaranya memprioritaskan lokasi hunian yang dekat dengan transportasi umum, pusat kota, atau kawasan bisnis.

Lebih spesifik lagi, data dari platform co-living Cove menunjukkan bahwa 6 dari 10 Gen Z di Jakarta rela pindah tempat tinggal demi memangkas waktu perjalanan harian.

Efeknya, harga sewa properti dalam radius kurang dari 500 meter dari titik transit (TOD) melonjak 5 hingga 10 persen. Kebutuhan konektivitas kini resmi menggeser preferensi tempat tinggal anak muda.

Realitas Berbeda di Luar Jakarta: Motor Masih Jadi Raja

Ketika Jakarta bergerak maju dengan budaya transitnya, kondisi di luar ibu kota justru berbanding terbalik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 90,32 persen dari 7,97 juta pekerja komuter di Indonesia masih mengandalkan kendaraan pribadi.

Faktanya, hanya 19 persen lebih penduduk Indonesia yang menggunakan transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari.

Hingga kini, populasi kendaraan bermotor di Indonesia sudah menembus 173 million unit, di mana sepeda motor mendominasi lebih dari 83 persen atau sekitar 145 juta unit.

Di wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga luar Pulau Jawa, sepeda motor bukan lagi pilihan alternatif, melainkan moda utama yang tidak tergantikan.

Bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dengan basis anak muda yang padat, trennya justru menurun.

Saat libur Nataru, pergerakan kendaraan pribadi yang keluar-masuk wilayah tersebut melonjak hingga 2,7 juta unit, sementara jumlah penumpang transportasi umum malah merosot.

Para ahli mencatat ada tiga hambatan struktural utama mengapa masyarakat luar Jakarta enggan beralih ke angkutan umum:

- Akses Titik Awal (First Mile): Jaringan angkutan umum di daerah umumnya hanya menyisir jalan utama. Pergerakan dari permukiman padat menuju halte terdekat belum difasilitasi dengan baik.

- Fleksibilitas Waktu: Sepeda motor menawarkan perjalanan langsung dari pintu ke pintu (door-to-door) tanpa perlu terikat jadwal atau risiko keterlambatan berantai.

- Absennya Jaringan Terintegrasi: Sejauh ini baru Jakarta yang memiliki kombinasi matang antara BRT, MRT, dan LRT. Kota-kota besar seperti Surabaya, Medan, atau Makassar memang memiliki armada bus kota, namun cakupan rute dan frekuensinya masih jauh dari kata memadai.

Infrastruktur Bagus, Penumpang Pasti Datang

Data di atas memberikan kesimpulan yang konsisten: masyarakat pasti akan memilih transportasi publik jika layanannya diperbaiki secara nyata, tepat waktu, aman, murah, dan saling terintegrasi.

Jakarta telah membuktikan rumus tersebut. Sebaliknya, saat infrastruktur itu tidak tersedia, kendaraan pribadi otomatis akan mengisi kekosongan ruang mobilitas warga.

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengejar target ambisius agar penggunaan transportasi umum bisa mencapai 40 persen dari total pergerakan warga pada tahun 2029.

Guna mengejar target tersebut, edukasi kini mulai menyasar pelajar sekolah menengah (SMP hingga SMK) untuk membangun kebiasaan bertransportasi sejak dini.

Langkah ini secara tidak langsung mengakui bahwa adopsi transportasi umum bukanlah soal selera generasi, melainkan masalah pembiasaan yang wajib ditopang oleh kesiapan fasilitas negara.

Selama investasi infrastruktur transportasi publik masih berpusat di Jakarta, tren positif ini tidak akan menular ke kota-kota lain. Perluasan jaringan antarmoda dengan standar yang setara di berbagai wilayah menjadi syarat mutlak sebelum mengharapkan perubahan perilaku mobilitas secara nasional.

 

Tagging: 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra