← Beranda
Melihat Aksi Warga Rorotan yang Melakukan Pilah Sampah, Kelola Puluhan Ton Sampah jadi Cuan sampai Minyak Jelantah untuk Semen Masjid
Ryandi ZahdomoJumat, 15 Mei 2026 | 13.30 WIB
Warga di RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, sudah melakukan kegiatan memilah sampah. (Ryandi Zahdomo/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Di RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, memilah sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Warga di Gang Haji Daimun 3 ini telah membuktikan bahwa mengelola limbah rumah tangga bisa membawa dampak ekonomi nyata.

Wilayah ini pun menjadi percontohan bagi wilayah lainnya di Indonesia, khususnya Jakarta, dalam pemilahan sampah dari rumah. 

Siapa sangka, dari sekadar sisa potongan sawi, kulit bawang dan sampah dapur lainnya, warga di sini mampu mengumpulkan hingga 12 ton sampah organik hanya dalam kurun waktu satu bulanan.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan Protokol Khusus untuk Pemain

"Untuk RW 07 dalam seminggu bisa 3 ton sampah organik. Sedangkan sampah non organik mencapai 250 kilogram sekali timbang sebulan sekali. Tapi warga juga sering langsung jual ke pengepul," ujar Nani Darsonowati, 45, salah satu penggerak di balik Bank Sampah Teratai saat ditemui JawaPos.com, Kamis (14/5).

Rahasia Ember Hijau dan Nasi yang "Menolak" Dibuang

Sejak gerakan pilah sampah digencarkan secara masif pada Februari 2026, wajah RW 07 berubah total menjadi wilayah percontohan yang mandiri dan berdaya.

Di setiap teras rumah warga, kini bertengger ember hijau pemberian pemerintah. Fungsinya, menampung sisa dapur yang nantinya akan dikumpulkan di dropbox tiap gang. 

Baca Juga: Pemkab Sidoarjo Gelar Deklarasi Damai Pilkades Serentak 2026

Setiap dua hari sekali, petugas PPSU akan mengambil sampah tersebut untuk dibawa ke TPS 3R dan diolah menjadi bubur organik.

Namun, ada satu komoditas yang diperlakukan sangat istimewa, yakni nasi sisa. Alih-alih dibuang ke tempat sampah, warga Rorotan punya tradisi unik menjemur nasi hingga mengeras menjadi nasi kering atau kerak. Nasi kering ini akan menjadi rebutan para pemilik ternak. 

"Nasi itu jarang dibuang dicampur ke organik karena memang sudah terbiasa dijemur. Karena bisa dijual, per liter dia dihargai Rp 2.000," terangnya.

Di RW 07, sirkulasi ekonomi berputar di dalam wilayah sendiri. Bubur organik hasil pengolahan di TPS 3R akan kembali diolah menjadi pakan ternak kambing, sapi, bebek, hingga ayam petelur milik warga. 

Di wilayah Rorotan sendiri terdapat pemanfaatan lahan milik pemerintah untuk dijadikan peternakan hingga persawahan yang dikelola secara guyub oleh perkumpulan warga. 

"Dibikin kayak koperasi gitu. Semuanya dikelola sama warga RW 07. Jadi dari sampah organik enggak ke mana-mana, enggak keluar dari wilayah RW 07. Semuanya digunakan sirkulasinya ada di RW 07," terangnya. 

Baca Juga: Luncurkan Slogan Baru “Education to Improve Quality of Life”, Soroti Dampak Pendidikan bagi Kehidupan  

"Sedekah" Minyak Jelantah untuk Semen Masjid

Bergeser ke urusan limbah cair dan plastik, Bank Sampah Teratai menjadi jantung aktivitas warga. Setiap bulan, lebih dari 1 ton sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng berhasil diselamatkan dari pembuangan akhir.

Nani menceritakan betapa riuhnya suasana saat hari penimbangan tiba. Karung-karung berisi botol plastik berderet panjang hingga menutup jalan, memaksa kendaraan harus mencari rute alternatif. Tak hanya plastik, mereka juga memiliki program "Mijel" atau Minyak Jelantah.

Baca Juga: Kapal Tanker Jepang berhasil Lewati Selat Hormuz tanpa Biaya Tol

"Sisa dari minyak dia di dapur itu taruh aja di sini. Nanti baru kita jual ke Dinas Lingkungan Hidup, nah hasil uangnya itu kita salurkan ke rumah-rumah ibadah yang lagi dibangun. Misalkan ya lumayan buat beli semen-semen tiga sak gitu," tambah Nani.

Bagi warga Rorotan, memilah sampah bukan sekadar soal kebersihan, tapi juga soal membentuk karakter dan kepedulian sosial.

Jakarta Darurat Sampah: Rorotan Jadi Kompas Masa Depan

Langkah nyata warga Rorotan ini menjadi oase di tengah krisis lahan sampah Jakarta. Berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026, pemerintah kini menekan habis-habisan aliran sampah ke hilir.

Targetnya tak main-main. Mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah residu seperti popok sekali pakai atau tisu kotor. Bahkan pada 2027, Bantargebang ditargetkan berhenti menerima sampah sepenuhnya.

Kisah dari RW 07 Rorotan membuktikan bahwa jika masyarakat mau bergerak memilah dari sumbernya, sampah bukan lagi beban, melainkan berkah yang sanggup membangun masjid hingga menghidupi peternakan warga.

Kampanye Gerakan Pilah Sampah

Baca Juga: Tak Banyak Waktu Persiapan, Persebaya Tetap Optimistis Curi Kemenangan dari Semen Padang

Diketahui, Deklarasi Gerakan Pilah Sampah bertema "Menuju 5 Abad, Jaga Jakarta Bersih" juga telah dilakukan Minggu (10/5). Hal ini menandakan komitmen serius Pemprov DKI dalam menyelesaikan masalah lingkungan yang menahun.

Pramono mengajak warga untuk mulai memilah sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga.

"Kita akan mengadakan gerakan pilah sampah. Saya yakin, di bawah arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Menko Pangan, gerakan ini bisa dijalankan secara sungguh-sungguh. Semoga ini menjadi gerakan baru di Jakarta dan persoalan sampah yang selama ini belum seselesai dapat diatasi," ujarnya.

Pramono mengatakan, saat ini seluruh sampah yang dihasilkan di Jakarta diangkut ke TPST Bantar Gebang. Namun kedepan, Pemprov DKI akan mengoperasikan Refuse Derived Fuel (RDF) dan TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle).

Baca Juga: Indeks Keselamatan Pelayaran Indonesia Unggul di Kancah Internasional 2025

"Sekarang kita mulai dengan dipilah terlebih dahulu, organik dan anorganik dipisahkan. Kebetulan selain Bantar Gebang, kita juga ada RDF Rorotan dan juga TPS 3R. Itulah yang akan menjadi penampung-penampung sampah," terangnya.

Dukungan datang dari Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. Ia menyebut Jakarta sebagai pionir yang akan menjadi model nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

"Sesuai arahan Presiden, kami sedang mempersiapkan roadmap penanganan sampah agar dalam dua tahun selesai di seluruh Indonesia. Jakarta mendahului langkah itu. Alhamdulillah, beberapa gagasan dan pemikiran dari Jakarta bisa kita adopsi dan disinkronkan," jelas Jumhur.

 

EDITOR: Bintang Pradewo