← Beranda
Perjuangan Anker Maja: Pegal Berdiri 80 Menit hingga Trauma Jalur Rawan Longsor
Ryandi ZahdomoKamis, 7 Mei 2026 | 00.25 WIB
Suasana antrean penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Perjalanan jauh dari pinggiran kota menuju pusat Jakarta bagi para "Anker" (Anak Kereta) bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan fisik.

Bagi Nuansa Raya, 35, pengguna setia KRL Commuter Line jalur Rangkasbitung-Tanah Abang, durasi 1 jam 20 menit di atas rel adalah makanan sehari-hari yang penuh dinamika.

Meski berangkat dari Stasiun Maja yang relatif ujung memberikan keuntungan berupa kursi kosong, ceritanya berubah drastis saat arah pulang.

Baca Juga: Kisah Pengguna KRL: Ogah 'Gepeng' di Gerbong, Siti Rela Pulang Tengah Malam Demi Nyaman di Cikarang Line

Keuntungan mendapat tempat duduk saat berangkat kerja biasanya sirna saat jam pulang kantor. Raya menceritakan bagaimana kontrasnya kondisi gerbong dari Tanah Abang menuju Maja pada sore hari.

"Saya ikut berdesakan. Bahkan sering berdiri dari stasiun Tanah Abang sampai Stasiun Maja. Waktu tempuhnya 1 jam 20 menit. Pegel," keluh Raya kepada JawaPos.com, Rabu (6/5).

Dilema Headway 20 Menit di Stasiun Maja

Masalah utama yang dihadapi warga di ujung jalur Rangkasbitung adalah headway atau jarak antar kereta yang terlampau lama. Jika tertinggal satu jadwal saja, konsekuensinya adalah waktu tunggu yang menguras energi.

"Sayangnya headaway (waktu jeda satu kereta dengan kereta lain) berjarak 20 menit. Jadi kalau ketinggalan kereta, nunggu kereta selanjutnya cukup lama. Gak ada alternatif lain selain menunggu kereta selanjutnya karena tidak ada kendaan lain," jelasnya.

Baca Juga: KRL Rangkasbitung Kembali Beroperasi Usai Banjir di Pondok Ranji Surut, Kecepatan Masih Terbatas!

Kondisi ini berbeda dengan stasiun yang lebih dekat ke Jakarta seperti Sudimara. Di sana, penumpang bisa menikmati jadwal kereta setiap 10 menit karena adanya tambahan keberangkatan dari Tigaraksa, Parung Panjang, dan Serpong.

Ancaman Longsor dan Cuaca Ekstrem
Selain kendala teknis jadwal, faktor alam menjadi kekhawatiran terbesar bagi pengguna jalur ini. Struktur tanah di sepanjang jalur Rangkasbitung-Tanah Abang dinilai rawan terhadap perubahan cuaca, terutama saat hujan deras melanda.

Raya mengungkapkan bahwa trauma kejadian di Bekasi Timur serta ancaman longsor di jalur yang dilaluinya selalu membayangi.

"Yang mengkhawatirkan di jalur rangkasbitung-tenabang adalah tanah yang mudah longsor. Jika cuaca ekstrim, banyak wilayah terdampak banjir dan kemungkinan longsor juga besar," Ungkapnya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Ia mengingat kembali insiden awal tahun ini yang sempat melumpuhkan mobilitas warga. "Karena pernah terjadi longsor di awal tahun ini longsor di tigaraksa dan menyebabkan headway bertambah menjadi 30-40 menit skali," imbuhnya.

Gepeng Karena Desak-desakan

Menjadi "Anker" alias Anak Kereta di jalur tersibuk membutuhkan strategi fisik dan mental yang kuat. Mereka harus rela memilih 'gepeng' karena berdesakan hingga nyaris tak bisa bernapas di jam sibuk, atau rela membuang waktu demi perjalanan yang lebih manusiawi.

Inilah yang dijalani Siti Nurhaliza ,25, pengguna setia KRL Cikarang Line atau Blue Line. 

Baca Juga: Ramalan Zodiak Libra 7 Mei 2026: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan, dan Keuangan

Sebagai informasi, berdasarkan data pengguna KRL Jabodetabek periode Januari-Maret 2026, Cikarang Line menempati posisi kedua tersibuk dengan total 21.717.664 pengguna, tepat di bawah Bogor Line yang mencatat 38.203.418 pengguna.

Bagi warga Tambun ini, berdesakan di kereta saat jam pulang kantor adalah sebuah keniscayaan yang sebisa mungkin ia hindari.

Di saat pekerja lain berbondong-bondong menyerbu stasiun pada pukul 17.00 WIB, Siti justru memilih menetap lebih lama di Jakarta. Ia baru akan beranjak menuju peron ketika hari sudah benar-benar gelap.

"Tapi kalo balik gua aman. Karena gw milih untuk mengundur waktu pulang. Kadang gua balik jam 10an (malem). KRL sudag gak rame banget," ujar Siti kepada, JawaPos.com, Rabu (6/5).

Solusi Kepadatan Penumpang di Jam Sibuk

Selain faktor cuaca, tantangan besar lainnya adalah volume pengguna yang sangat tinggi, terutama di rute gemuk seperti Bogor Line yang mencapai lebih dari 38 juta pengguna pada awal tahun 2026.

Untuk mengatasi penumpukan di jam sibuk pagi dan sore hari, KAI Commuter saat ini mengoptimalkan frekuensi perjalanan yang ada. Pengguna diminta menyesuaikan perjalanan agar tidak mengalami penumpukan penumpang.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Scorpio 7 Mei 2026: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan, dan Keuangan

"Saat ini perjalanan commuter line sebanyak 1.065 perjalanan, pengguna dapat menyesuaikan jam perjalanan dengan melihat aplikasi C-Access untuk kepadatan stasiun," kata Manager Public Relations KAI Commuter,l Leza Arlan.

Update Penambahan 30 Rangkaian KRL

Terkait rencana besar penambahan 30 rangkaian kereta baru, pihak manajemen masih terus melakukan proses administratif dan teknis. Proyek ini diketahui mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat melalui alokasi anggaran hingga Rp5 triliun.

Dukungan dana tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkut secara signifikan, sehingga kenyamanan penumpang di masa depan akan lebih terjamin. Terkait detail waktu operasionalnya, Leza meminta masyarakat untuk bersabar.

Baca Juga: 4 Shio Paling Hoki Sepanjang Mei 2026: Kesempatan Emas Datang dan Impian Terjawab

"Mohon ditunggu update selanjutnya," imbuh Leza singkat mengenai perkembangan pengadaan gerbong baru tersebut.

EDITOR: Bintang Pradewo