← Beranda
Kisah Pengguna KRL: Ogah 'Gepeng' di Gerbong, Siti Rela Pulang Tengah Malam Demi Nyaman di Cikarang Line
Ryandi ZahdomoRabu, 6 Mei 2026 | 22.18 WIB
Suasana antrean penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Menjadi "Anker" alias Anak Kereta di jalur tersibuk membutuhkan strategi fisik dan mental yang kuat. Mereka harus rela memilih 'gepeng' karena berdesakan hingga nyaris tak bisa bernapas di jam sibuk, atau rela membuang waktu demi perjalanan yang lebih manusiawi.

Inilah yang dijalani Siti Nurhaliza ,25, pengguna setia KRL Cikarang Line atau Blue Line. 

Berdasarkan data pengguna KRL Jabodetabek periode Januari-Maret 2026, Cikarang Line menempati posisi kedua tersibuk dengan total 21.717.664 pengguna, tepat di bawah Bogor Line yang mencatat 38.203.418 pengguna.

Baca Juga: Drama KRL Green Line: Listrik Padam Total hingga Rel Terendam Banjir di Kebayoran

Bagi warga Tambun ini, berdesakan di kereta saat jam pulang kantor adalah sebuah keniscayaan yang sebisa mungkin ia hindari.

Di saat pekerja lain berbondong-bondong menyerbu stasiun pada pukul 17.00 WIB, Siti justru memilih menetap lebih lama di Jakarta. Ia baru akan beranjak menuju peron ketika hari sudah benar-benar gelap.

"Tapi kalau balik (pulang), gua aman. Karena gua milih untuk mengundur waktu pulang. Kadang gua balik pukul 10-an (malam). KRL sudah tidak ramai banget," ujar Siti kepada JawaPos.com, Rabu (6/5).

Drama Penantian dan Tantangan di Jalur Blue Line

Baca Juga: KRL Rangkasbitung Kembali Beroperasi Usai Banjir di Pondok Ranji Surut, Kecepatan Masih Terbatas!

Keputusan Siti untuk pulang larut malam bukan tanpa alasan. KRL Cikarang Line memang dikenal sebagai salah satu lintasan paling "menantang" karena sering mengalami keterlambatan yang tak terduga. Penantian di stasiun bisa menjadi ujian kesabaran yang luar biasa.

Apalagi jika ada kendala teknis atau pasca-insiden, durasi kereta berhenti bisa melampaui batas kewajaran. Siti menceritakan pengalamannya saat kereta tertahan di Stasiun Bekasi tanpa kejelasan yang pasti.

"Setelah kecelakaan (di Stasiun Belasi Timur) ini, KRL datengnya lama banget. Terus ketahan di Bekasi lebih lama. Pernah 20 menit-an diem aje," keluhnya.

Selain masalah waktu, Siti juga menyoroti aspek keamanan di dalam gerbong. Menurutnya, keberadaan petugas keamanan sangat krusial untuk menengahi keributan antarpenumpang yang kerap terjadi di tengah kepadatan.

"Tapi saya suka mengeluhkan minimnya security di gerbong, atau mungkin ada tapi kurang keliling. Karena terkadang kalau butuh mau nanya security-nya dikit, belum lagi kalau ada keributan-keributan kecil yang seharusnya dilerai sekuriti," tambahnya.

Fasilitas Stasiun: Lantai Licin hingga Suara Speaker Pelan

Baca Juga: Update Gangguan KRL Greenline Rangkasbitung: KAI Masih Lakukan Penanganan, Listrik Dipadamkan

Masalah lain yang menghantui para pengguna KRL adalah kondisi fasilitas saat cuaca buruk. Siti menyoroti lantai peron yang menjadi sangat licin saat hujan, yang bisa membahayakan nyawa penumpang. Belum lagi informasi kedatangan kereta yang sering kali tidak terdengar jelas.

"Keluhan kalau misal hujan itu seringkali lantai peron licin, itu bahaya banget takut kepeleset. Terus kadang suara speaker untuk menginformasikan sudah ada di stasiun mana itu terlalu pelan dan kurang jelas, jadi suka ga kedengeran ini udah sampe di stasiun mana," katanya.

Meski penuh dengan keluhan mulai dari keterlambatan hingga fasilitas, Siti dan jutaan pengguna lainnya tetap bergantung pada moda transportasi ini. Sebab, menggunakan kereta api sangat menghemat biaya hingga waktu ketimbang transportasi umum lainnya.

Dilema Headway 20 Menit di Stasiun Maja

Baca Juga: 4 Shio Paling Hoki Sepanjang Mei 2026: Kesempatan Emas Datang dan Impian Terjawab

Masalah utama yang dihadapi warga di ujung jalur Rangkasbitung adalah headway atau jarak antar kereta yang terlampau lama. Hal itu diungkapkan pengguna setia KRL Commuter Line jalur Rangkasbitung-Tanah Abang, Nuansa Raya, 35.

Dia mengangkapkan durasi perjalanan 1 jam 20 menit di atas rel adalah makanan sehari-hari yang penuh dinamika. Jika tertinggal satu jadwal saja, konsekuensinya adalah waktu tunggu yang menguras energi.

"Sayangnya headaway (waktu jeda satu kereta dengan kereta lain) berjarak 20 menit. Jadi kalau ketinggalan kereta, nunggu kereta selanjutnya cukup lama. Gak ada alternatif lain selain menunggu kereta selanjutnya karena tidak ada kendaan lain," tuturnya.

Kondisi ini berbeda dengan stasiun yang lebih dekat ke Jakarta seperti Sudimara. Di sana, penumpang bisa menikmati jadwal kereta setiap 10 menit karena adanya tambahan keberangkatan dari Tigaraksa, Parung Panjang, dan Serpong.

Ancaman Longsor dan Cuaca Ekstrem

Selain kendala teknis jadwal, faktor alam menjadi kekhawatiran terbesar bagi pengguna jalur ini. Struktur tanah di sepanjang jalur Rangkasbitung-Tanah Abang dinilai rawan terhadap perubahan cuaca, terutama saat hujan deras melanda.

Baca Juga: 4 Shio Paling Hoki Sepanjang Mei 2026: Kesempatan Emas Datang dan Impian Terjawab

Raya mengungkapkan bahwa trauma kejadian di Bekasi Timur serta ancaman longsor di jalur yang dilaluinya selalu membayangi.

"Yang mengkhawatirkan di jalur rangkasbitung-tenabang adalah tanah yang mudah longsor. Jika cuaca ekstrim, banyak wilayah terdampak banjir dan kemungkinan longsor juga besar," Ungkapnya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Ia mengingat kembali insiden awal tahun ini yang sempat melumpuhkan mobilitas warga. "Karena pernah terjadi longsor di awal tahun ini longsor di tigaraksa dan menyebabkan headway bertambah menjadi 30-40 menit skali," imbuhnya.

Berdasarkan data PT KAI Daops 1 awal tahun hingga Maret 2026, lintas Bogor Line atau Red Line masih mendominasi dengan lebih dari 38 juta penumpang. Sementara diurutan kedua ditempati, Cikarang Line atau Blue Line dengan 21.717.664 pengguna. 

Lalu, Rangkasbitung Line atau Green Line membuntuti di posisi ketiga dengan angka mencapai 20,1 juta pengguna. Saat ini, KAI menjalankan 1.065 perjalanan KRL Commuter setiap harinya.

Solusi dari KAI

Baca Juga: 4 Shio Paling Hoki Sepanjang Mei 2026: Kesempatan Emas Datang dan Impian Terjawab

PT KAI Commuter bergerak cepat melakukan langkah preventif guna memastikan perjalanan KRL Jabodetabek tetap aman di tengah cuaca ekstrem. Belajar dari gangguan serius akibat sambaran petir dan genangan air di lintas Green Line baru-baru ini, mitigasi bencana kini menjadi prioritas utama.

Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko operasional yang dapat merugikan ratusan ribu pengguna setiap harinya. KAI Commuter memastikan pengawasan di titik-titik rawan kini semakin diperketat.

Manager Public Relations KAI Commuter,l Leza Arlan menuturkan, pihaknya tidak bekerja sendiri. Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk memantau potensi gangguan alam yang bisa datang sewaktu-waktu.

Baca Juga: 4 Shio Paling Hoki Sepanjang Mei 2026: Kesempatan Emas Datang dan Impian Terjawab

"Kita sudah bekerja sama dengan BMKG dan dinas terkait untuk mitigasi bencana di Jabodetabek dan terdapat petugas yang disiagakan untuk tindakan preventif dan pengawasan daerah rawan bencana," ujar Leza Arlan kepada JawaPos.com, Rabu (6/5).

Penyiagaan petugas di lapangan bertujuan agar tindakan darurat bisa segera diambil begitu tanda-tanda gangguan teknis akibat cuaca muncul, baik itu sambaran petir pada Listrik Aliran Atas (LAA) maupun genangan air di atas rel.

EDITOR: Bintang Pradewo