← Beranda
Kisah Joy: Bertaruh Nyawa Turuni Tangga Darurat dari Lantai 26 yang Dipenuhi Asap Hitam Tebal demi Selamat dari Kebakaran Apartemen Mediterania
Ryandi ZahdomoKamis, 30 April 2026 | 21.31 WIB
Joy penghuni Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat, yang terbakar hebat, Kamis (30/4). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Kejadian dramatis menimpa penghuni Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat, pada Kamis (30/4). Kebakaran hebat yang melanda gedung tersebut memaksa para penghuni bertaruh nyawa untuk menyelamatkan diri, tak terkecuali Joy, 24, yang terjebak di lantai 26.

Joy nyaris saja melewatkan momentum krusial untuk menyelamatkan diri. Saat api mulai menjalar, ia sedang bersiap berangkat kerja, namun sempat tertidur kembali karena merasa kurang enak badan. Ia mengaku sama sekali tidak mendengar bunyi alarm gedung di unitnya.

Beruntung, firasat seorang ibu menjadi penyelamat. Sang ibu yang sedang bekerja di kawasan BSD menelepon Joy untuk memberikan kabar darurat bahwa apartemen tempat tinggal anaknya sedang terbakar hebat.

"Jujur aku nggak tahu (alarm bunyi atau tidak) karena aku nggak dengar. Sempat bangun pagi, terus ketiduran lagi karena kepala sakit. Pas bangun tidur, asap belum masuk ke unit, tapi ternyata di luar sudah kejadian," ujar Joy saat ditemui di lokasi, Kamis (30/4).

Begitu tersadar dari telepon ibunya, Joy langsung membangunkan adiknya yang berusia 18 tahun. Tanpa pikir panjang, keduanya langsung menuju tangga darurat. Namun, tantangan besar sudah menanti di balik pintu evakuasi berupa kepulan asap hitam yang menutup jarak pandang.

Perjalanan menuruni puluhan lantai menjadi sangat mencekam karena oksigen yang mulai menipis. Joy menceritakan bagaimana lorong darurat tersebut sudah diselimuti asap yang sangat tebal, membuat langkah kaki mereka menjadi sangat terbatas.

"Tangga daruratnya itu asap semua, jadi nggak kelihatan apa-apa. Selama dari lantai 26 aku turun terus itu masih ada asap, meski nggak setebal tangga darurat yang satunya lagi," katanya.

Alih-alih langsung lari tunggang-langgang, ia justru menyempatkan diri untuk mengecek beberapa unit kamar tetangga di sekitarnya guna memastikan tidak ada orang yang tertinggal dalam bahaya.

Ia juga melihat beberapa penghuni lain di lantai 26 tampak kebingungan mencari arah. Keputusan untuk segera turun melalui jalur yang paling memungkinkan menjadi kunci keselamatan ia dan adiknya di tengah kepanikan massal tersebut.

"Aku sempat ketok-ketok kamar yang lain juga, tapi nggak ada orang. Sepertinya sudah pada turun duluan," lanjutnya.

Bertaruh Nyawa hingga Mengalami Sesak Napas

Strategi Joy dalam evakuasi ini adalah menjaga kecepatan tanpa mengabaikan keselamatan fisik. Ia memilih untuk berjalan cepat secara stabil daripada berlari kencang yang justru berisiko membuatnya terjatuh di tangga darurat yang gelap dan licin.

"Jalan cepat saja sih. Kalau lari kan tetap harus ingat keselamatan," tuturnya.

Ketenangan ini membantunya mencapai lantai dasar meski harus menguras tenaga yang sangat besar dari lantai 26.

Meski berhasil keluar dari gedung, kondisi fisik Joy sempat menurun. Ia menghirup terlalu banyak karbondioksida selama perjalanan turun yang panjang, yang mengakibatkan gangguan pernapasan sesaat setelah mencapai titik aman.

Baca Juga: Dramatis, Penghuni Apartemen Mediterania: Lempar Baju demi Selamatkan Bayi dari Kebakaran

"Masih agak sesak sih, tadi sempat ke hirup banyak kan dari lantai 26 sampai bawah. Tapi sekarang sudah oke, sudah membaik," tutur Joy yang terlihat masih menggunakan bantuan selang oksigen untuk memulihkan kondisinya.

 

EDITOR: Kuswandi