← Beranda
Nisya Pramugari Gadungan Batik Air Ternyata Korban Penipuan Janji Kerja Pramugari
Rian AlfiantoMinggu, 11 Januari 2026 | 02.22 WIB
Khairun Nisa perempuan cantik nyamar jadi pramugari Batik Air. (TikTok @pesonamuba).

 

JawaPos.com - Kasus penyamaran pramugari gadungan Batik Air yang sempat menghebohkan publik kini memasuki babak baru.

Fakta yang terungkap dari kepolisian menyebutkan bahwa Khairun Nisa atau Nisya bukan semata-mata pelaku, melainkan korban penipuan bermodus janji palsu menjadi pramugari.

Polresta Bandara Soekarno-Hatta yang menerima laporan terkait insiden tersebut langsung bergerak cepat.

Nisya diamankan dan menjalani pemeriksaan setelah ditegur kru kabin Batik Air dalam penerbangan Palembang–Jakarta.

Kecurigaan awal muncul bukan karena tingkah mencolok, melainkan detail yang luput dari mata awam.

Warna dan corak rok yang dikenakan Nisya ternyata berbeda dari standar seragam resmi pramugari Batik Air.

“Yang bersangkutan ditegur oleh cabin crew karena terdapat perbedaan corak rok pramugari,” ujar Kasi Humas Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Ipda Septian.

Temuan itu kemudian dilaporkan ke Aviation Security (Avsec). Usai seluruh penumpang turun, Nisya dibawa ke kantor Polresta Bandara Soetta untuk penyelidikan lebih lanjut.

Berawal dari Impian Jadi Pramugari

Dari hasil pemeriksaan mendalam, polisi menemukan fakta yang mengubah cara pandang publik terhadap sosok Nisya.

Perempuan asal Palembang itu diketahui datang ke Jakarta dengan izin orang tuanya untuk mendaftar sebagai pramugari.

Namun di Ibu Kota, Nisya justru bertemu seseorang yang menjanjikan jalan pintas masuk maskapai dengan syarat membayar sejumlah uang.

“Korban diminta uang sebesar Rp 30 juta oleh seseorang yang menjanjikan bisa memasukkan jadi pramugari. Setelah uang diberikan, pelaku tidak bisa dihubungi lagi,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta, Kompol Yandri Mono.

Alih-alih mengenakan seragam resmi, Nisya justru terjebak dalam jerat penipuan berkedok rekrutmen kerja.

Malu pada Keluarga, Berujung Penyamaran

Rasa malu menjadi titik balik yang mengantar Nisya pada keputusan keliru. Tak ingin mengecewakan ibunya yang telah mendukung proses tersebut, ia memilih berpura-pura telah diterima bekerja sebagai pramugari.

Penyamaran itu bahkan diperkuat lewat unggahan di media sosial. Foto-foto mengenakan seragam pramugari sengaja diunggah agar keluarga percaya bahwa impian tersebut telah terwujud.

“Karena malu dan tidak mau mengecewakan orang tuanya, dia mengaku sudah bekerja. Media sosialnya juga dibuat seolah-olah dia benar pramugari,” jelas Yandri.

Langkah itulah yang kemudian membawanya hingga naik pesawat sebagai penumpang, namun tampil layaknya awak kabin.

Dari Viral ke Pelajaran Publik

Kasus ini sempat menuai kecaman luas. Namun dengan terungkapnya fakta bahwa Nisya merupakan korban penipuan, sorotan publik mulai bergeser.

Bukan hanya soal penyamaran, tetapi juga maraknya praktik calo dan janji instan di balik impian bekerja di dunia penerbangan.

Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran kerja yang menjanjikan jalur cepat dengan imbalan uang.

Proses rekrutmen pramugari, ditegaskan, memiliki mekanisme resmi dan tidak dipungut biaya.

Kisah Nisya pun menjadi pengingat pahit: mimpi yang dikejar lewat jalan pintas kerap berujung pada masalah panjang.

Di balik seragam rapi dan senyum profesional, tersimpan cerita penipuan, tekanan keluarga, dan keputusan salah yang akhirnya terbongkar di hadapan publik.

 

EDITOR: Bayu Putra