← Beranda
DKI Perkuat Riset, Pengawasan, dan Edukasi Publik, Tindaklanjuti Temuan Mikroplastik
Masria PaneMinggu, 26 Oktober 2025 | 05.27 WIB
Media Briefing bertajuk Isu Mikroplastik dalam Air Hujan dan Fenomena Cuaca Panas Ekstrem di Balai Kota Jakarta.

JawaPos.com – Pemprov DKI Jakarta ambil langkah untuk menindaklanjuti hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemprov memastikan penguatan riset, pengawasan sumber pencemar, dan edukasi publik segera dilakukan untuk menjaga kualitas lingkungan serta kesehatan warga.

Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto menuturkan, temuan tersebut menjadi pengingat penting bahwa polusi plastik telah memasuki fase yang lebih kompleks.

“Begitu hasil riset BRIN kami terima, DLH langsung berkoordinasi untuk memperdalam kajian ilmiah serta memperkuat pengawasan di lapangan. Ini bukan isu yang perlu ditakuti, melainkan panggilan untuk mempercepat kerja bersama mengatasi polusi plastik,” ujar Asep dalam Media Briefing bertajuk Isu Mikroplastik dalam Air Hujan dan Fenomena Cuaca Panas Ekstrem di Balai Kota Jakarta, (24/10).

Dalam kegiatan yang dimoderatori Kepala Dinas Kominfotik DKI Budi Awaluddin itu, Asep menjelaskan, sejak 2022 DLH DKI telah memantau kandungan mikroplastik di Teluk Jakarta, sungai, dan danau bekerja sama dengan BRIN serta lembaga riset lainnya.

Pemantauan di lebih dari 60 titik setiap tahun menghasilkan data penting mengenai sebaran dan sumber pencemar yang menjadi dasar kebijakan pengendalian lingkungan berbasis bukti ilmiah.

Di lokasi yang sama, Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova menuturkan, mikroplastik dapat berpindah melalui udara dan ikut turun bersama hujan, terutama di wilayah perkotaan padat.

“Partikel mikroplastik sangat ringan sehingga bisa terbawa angin dan jatuh bersama hujan. Fenomena ini bersifat lintas wilayah, sehingga pendekatan pengendaliannya harus terpadu dari hulu hingga hilir,” jelas Reza.

Sementara itu, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Rian Sarsono, menilai hasil penelitian BRIN menjadi bagian dari sistem peringatan dini bagi pemerintah daerah.

“Hasil riset ini menjadi dasar bagi Pemprov DKI untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap potensi ancaman lingkungan akibat aktivitas manusia,” ujarnya.

BPBD bersama DLH DKI terus menggencarkan edukasi masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah pencemaran mikroplastik.

Sejak 2023, BPBD bahkan telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) bersama BMKG dan BRIN guna mengatur curah hujan, mencegah cuaca ekstrem, serta menurunkan partikel berbahaya di udara.

Dari sisi kesehatan, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinkes DKI Rahmat Aji Pramono menuturkan, paparan mikroplastik jangka panjang dapat memengaruhi sistem pernapasan dan pencernaan.

“Partikel ini bisa menyebabkan peradangan, bahkan masuk ke pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung atau stroke,” katanya.

Rahmat menambahkan, mikroplastik bukan penyebab tunggal penyakit, namun dapat memperburuk kondisi bagi orang dengan penyakit bawaan. Karena itu, Dinkes DKI mengimbau masyarakat rajin membersihkan rumah karena debu menjadi salah satu media penyebaran mikroplastik.

Pemprov DKI memastikan kolaborasi dengan BRIN, Kementerian Lingkungan Hidup, dan perguruan tinggi terus diperkuat untuk memperdalam riset kualitas air hujan. Selain itu, pengawasan terhadap sumber pencemar dari sungai dan drainase juga ditingkatkan, disertai kampanye publik untuk mengurangi plastik sekali pakai.

Selain isu mikroplastik, DLH DKI juga menanggapi kekhawatiran warga terhadap panas ekstrem yang melanda belakangan ini. Berdasarkan data BMKG, suhu tinggi di Jakarta merupakan kombinasi pengaruh perubahan iklim global dan faktor lokal seperti padatnya aktivitas perkotaan serta berkurangnya ruang hijau.

Asep menyebut Pemprov DKI tengah mempercepat adaptasi dan mitigasi iklim melalui berbagai program lingkungan, antara lain perluasan ruang terbuka hijau, penanaman pohon, dan pengendalian emisi transportasi maupun industri.

“Jakarta tidak boleh hanya bereaksi setelah dampak terasa. Kami ingin menjadi kota tangguh yang responsif terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemprov DKI akan terus bekerja secara ilmiah, transparan, dan kolaboratif untuk melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat. “Fenomena hujan mikroplastik dan panas ekstrem menjadi pengingat bahwa perubahan perilaku kolektif dan kebijakan berkelanjutan adalah keharusan, bukan pilihan,” tambah Asep.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra