JawaPos.com - Syekh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani, salah satu muazin Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, wafat pada Senin (21/9) dalam usia sekitar 48 tahun. Sebelum suaranya dikenal dari Masjidil Haram, ia lebih dulu menjalani perjalanan panjang sebagai muazin di Madinah sejak usia sekitar 15 tahun.
Syekh Ibrahim wafat pada waktu fajar, 10 Rabiul Akhir 1448 Hijriah. Salat jenazahnya dilaksanakan setelah Salat Asar di Masjidil Haram, sebelum jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Ma'la.
Perjalanan hidupnya menjadi bagian penting dari kisah seorang muazin yang tumbuh dari lingkungan masjid di Madinah, mempelajari karakter azan di dua kota suci, hingga akhirnya dipercaya mengumandangkan azan dari Masjidil Haram.
Memulai Perjalanan sebagai Muazin di Madinah
Syekh Ibrahim lahir di Madinah pada 8 Zulhijah 1397 Hijriah. Ia tumbuh dalam keluarga religius dan mendapat pengaruh keagamaan yang kuat dari keluarganya. Kakeknya merupakan seorang hafiz Al-Qur'an yang turut membentuk kehidupan keagamaannya.
Baca Juga: Purbaya-Perry Tak Lagi Menjabat, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangannya Masih Tetap Berlaku
Ketertarikannya terhadap azan muncul sejak remaja. Pada usia sekitar 15 tahun, ia mulai mengumandangkan azan di masjid yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.
Pada masa awal, Syekh Ibrahim menggunakan gaya azan Mesir. Ketika memasuki sekolah menengah hingga perguruan tinggi, ia kemudian lebih banyak menggunakan gaya azan Madinah.
Ia juga bergiliran menjadi muazin bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah.
Sempat berhenti mengumandangkan azan karena mengajar di luar Madinah, Syekh Ibrahim kemudian kembali menjalankan tugas tersebut di Masjid Al-Maddah pada 1428 Hijriah.
Madinah memang menjadi tempat penting dalam pembentukan dirinya sebagai muazin. Ia tidak pernah menjadi muazin Masjid Nabawi, tetapi tradisi azan di kota itu membentuk karakter suara dan gaya azannya.
Mengenal Karakter Azan Makkah
Perjalanan Syekh Ibrahim kemudian membawanya ke Makkah.
Jauh sebelum menjadi muazin Masjidil Haram, ia telah mengenal karakter azan Makkah ketika berkunjung ke kota suci tersebut bersama ayahnya. Dalam perjalanan itu, ia bertemu Syekh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram sekaligus sahabat kakeknya.
Dari pengalaman tersebut, Syekh Ibrahim memahami bahwa azan di Madinah dan Makkah memiliki karakter berbeda.
Ia menggambarkan gaya Madinah sebagai azan yang lembut dan memiliki nuansa emosional.
Sementara gaya Makkah menurutnya lebih kuat, singkat, dan menghadirkan kewibawaan ketika dikumandangkan di hadapan Ka'bah.
Baca Juga: Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al Madani Wafat
Ia merangkumnya melalui ungkapan yang dikutip dari Syekh Al-Sya'rawi:
“Makkah adalah kewibawaan, sedangkan Madinah adalah keindahan.”
Pengalaman tersebut kelak menjadi bagian dari bekalnya ketika ia mendapat kesempatan menjalankan tugas di Masjidil Haram.
Dipercaya Menjadi Muazin Masjidil Haram pada 2018
Babak penting dalam perjalanan Syekh Ibrahim terjadi pada Ramadan 1439 Hijriah atau 2018. Saat itu, ia resmi ditunjuk menjadi salah satu muazin Masjidil Haram.
Sejak saat itu, suaranya menjadi bagian dari rangkaian ibadah jemaah di Masjidil Haram. Ia tidak hanya mengumandangkan azan, tetapi juga menjalankan tugas takbir dan tabligh dari mukabbariyah.
Media Saudi menyebut terdapat 24 muazin utama Masjidil Haram yang bertugas secara bergiliran. Enam muazin menjalankan tugas setiap hari.
Namun, bagi Syekh Ibrahim, tugas tersebut tidak berhenti pada kemampuan mengolah suara.
Menurutnya, azan merupakan amanah karena muazin menyampaikan kesaksian mengenai keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, seorang muazin harus memiliki kejujuran, amanah, dan keikhlasan.
Tak Bisa Tidur Menjelang Azan Pertama di Masjidil Haram
Tugas di Masjidil Haram juga membawa pengalaman emosional yang tidak terlupakan bagi Syekh Ibrahim.
Ketika pertama kali dipercaya mengumandangkan azan di Masjidil Haram, ia mengaku tidak dapat tidur sepanjang malam. Ia menyadari bahwa suara yang keluar dari mikrofon akan didengar oleh jemaah di salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.
Baca Juga: Bikinnya Sangat Mudah dan Sederhana, Begini Cara Membuat Chili Oil di Rumah
“Saya tetap terjaga sepanjang malam. Anda akan mengumandangkan azan di Masjidil Haram. Bahkan kesalahan atau batuk sekalipun akan membuat perbedaan. Itu adalah tanggung jawab yang sangat besar.”
Setelah menyelesaikan azan, Syekh Ibrahim kemudian melihat rekaman dari luar Masjidil Haram. Dalam rekaman tersebut, ribuan jemaah terlihat bertawaf mengelilingi Ka'bah ketika suaranya menggema. Pemandangan itu membuatnya menangis.
“Siapa saya sehingga suara saya dikumandangkan di tempat suci ini? Siapa saya sehingga orang-orang di sana mendengar suara saya? Ini adalah pilihan Allah dan karunia dari-Nya.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana ia memandang penunjukan sebagai muazin Masjidil Haram bukan semata sebagai pencapaian pribadi.
Ia bahkan mengatakan masih banyak orang yang memiliki suara lebih baik dan lebih utama dalam kesalehan.
“Ada orang-orang yang suaranya lebih baik daripada saya, dan ada orang-orang yang lebih baik daripada saya dalam kesalehan dan keutamaan. Tetapi itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”
Hari-Hari Terakhir Sang Muazin
Di luar tugasnya mengumandangkan azan, Syekh Ibrahim juga dikenal memiliki kedekatan dengan ibadah.
Seorang muazin Masjidil Haram bersaksi bahwa Syekh Ibrahim terkadang tinggal berhari-hari di mukabbariyah untuk beribadah, terutama pada penghujung malam.
Kehidupan tersebut melengkapi perjalanan seorang pria yang sejak usia belasan tahun telah terbiasa dengan tugas sebagai muazin.
Baca Juga: 163 Jukir Tak Perpanjang KTA Ditertibkan, Digitalisasi Parkir Surabaya Capai 1.541 Titik
Perjalanan itu dimulai dari masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Dari sana, ia mengenal tradisi azan Madinah, sempat meninggalkan tugas tersebut untuk mengajar, kemudian kembali menjadi muazin hingga akhirnya dipercaya mengisi salah satu posisi muazin Masjidil Haram.
Kini, perjalanan tersebut berakhir setelah Syekh Ibrahim Al-Madani wafat pada Senin, 21 September 2026.
Suaranya yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari suasana ibadah di Masjidil Haram tinggal menjadi rekaman dan kenangan bagi jemaah yang pernah mendengarnya.
Dari Madinah, tempat ia pertama kali belajar mengumandangkan azan saat remaja, perjalanan hidupnya berakhir sebagai salah satu muazin yang dipercaya menyuarakan panggilan salat dari Masjidil Haram.